Yang Terlewatkan

Catatan Rabu, 13 Maret 2013 15:28 WIB

Di dunia ini semuanya berpasangn. Ada siang ada malam, ada kaya ada miskin, ada tua ada muda, ada sehat ada sakit, ada pria ada wanita, ada hidup dan ada mati. 
Mati?
Siapa yang menginginkan kematian? Bahkan kematian dianggap oleh hampir seluruh makhluk yang bernyawa sebagai momok yang menakutkan bukan.
***

Ketika aku duduk di bangku SMP, aku berkenalan dengan seorang pria bernama Pras. Usianya lebih satu tahun dariku. Dia Kakak kelasku dan kami bersekolah di tempat yang berbeda. Tak dibutuhkan waktu lama, kami menyepakati untuk menjalin suatu hubungan yang disebut Pacaran.
Meskipun kami berbeda Sekolah. Namun sejak kami berpacaran, kami sering menghabiskan waktu bersama. Ya. Selalu bersama. Mulai dari pergi dan pulang sekolah bersama, melewati waktu liburan bersama dan bahkan aku tidak segan untuk berkunjung ke rumahnya, begitu pun sebaliknya.

Dua tahun kami menjalani hubungan yang manis. Hingga suatu saat, kami sedang bersama. Pras muntah darah dihadapanku. Aku kaget bukan main. Tangisku tumpah setelah mengetahui Pras didiagnosa positif TB Paru yang sudah parah. Mulai saat itu aku berjanji akan selalu menemaninya. Selalu membuatnya tertawa dan bahagia.

Semuanya perlahan berubah ketika aku menginak kelas 2 SMA. Aku harus menerima kenyataan bahwa Pras kini benar-benar berbeda. Perhatiannya berkurang, jarang menghubungiku dan menemanku. Bukan hanya aku saja yang merasakan perubahan yang terjadi pada Pras. Sahabat-sahabat kami pun menyadarinya.

"Sari, pacarmu gak pernah kelihatan. Udah gak pernah antar jemput kamu lagi. Kalian baik-baik aja kan?"

Sementara aku hanya bisa diam dikala diberondongi pertanyaa-pertanyaan semacam itu. Ingin rasanya aku menjawab hubunganku baik-baik saja. Tapi aku tak mampu menutupi kenyataan yang sebenarnya.

Kegelisahanku memuncak ketika melihat Pras sedang berduaan dengan seorang wanita. Aku tak bisa menghakimi Pras atau menuduhnya macam-macam. Karena aku sama sekali belum mendengar penjelasan dari Pras. Mungkin saja wanita itu teman Pras. Ya. Aku berusaha untuk tidak berfikir buruk terhadap Pras.

Namu hatiku tetap hancur ketika suatu hari menghubungi Pras. Bukan Pras yang mengangkat telponku, tetapi seorang wanita. Selang dua hari setelah kejadian itu, Pras menemuiku, memutuskanku dan membenarkan kecurigaanku. Pras mengakui bahwa dia telah berselingkuh.

Awalnya aku tak bisa menerima. Tapi dengan berjalannya waktu, aku pun terbiasa hidup tanpa Pras. Aku merelakan Pras, asalkan dia bahagia. Satu tahun berlalu, aku bisa menjalani hidupku secara normal. Aku tahu saat ini Pras berkuliah di Jakarta. Satu waktu kami sempat berpapasan, tapi Pras sama sekali tidak menyapaku. Begitu mudahnya ia melupakan semua kenangan tentang kita, sementara aku tetap saja manaruh harap pada pria itu.

Selang satu pekan dari kami berpapasan. Ibu Pras menghubungiku. Memberitahu keadaan Pras. Katanya Pras selalu bercerita tentang aku. Tentang rindunya padaku. Pras takut aku membencinya karena kesalahannya waktu dulu. Dan kini sakit Pras sudah semakin parah.

Suatu hari Pras menghubungiku. Dia menanyakan kabarku. Ia mengabari akan kembali pergi ke Jakarta sore itu. Dia ingin sekali bertemu denganku. Dia memintaku untuk mengantarnya ke Stasiun. Dna aku pun mengamini permintaan Pras.

Sore itu aku pergi ke rumah Pras. Aku bertemu dengan Ibu Pras. Masih seperti dulu, ia ramah dan memperlakukan aku begitu lembut dan hangat.

"Sari ayok masuk Nak," Ibu Pras mempersilahkan aku masuk dan duduk. "Sari mau kan bahagiain Pras?" Tanyanya lirih.

"Maksudnya Bu? Tapi Sari bisa apa?"aku bingung.

"Tolong turuti permintaan Pras yang sekiranya Sari bisa ya."

"Hmmm... Sebisa Sari ya Bu."

Saat itu Stasiun tak begitu ramai. Kami duduk di kursi tunggu dengan menjaga jarak.

"Sari, kamu pasti membenciku. Tapi apa selama ini kamu pernah merindukanku?" Tanya Pras

"Aku gak membencimu. Dan aku gak merindukan kamu," jawabku pelan.

"Maafkan aku Sari. Maafkan kesalahanku telah menyakiti perasaanmu," ungkapnya.

Pras memutar lagu Naff - Masih Kekasihku. Dia terus meminta maaf padaku. Dan kereta tujuan Jakarta tiba bersamaan dengan berakhirnya lagu yang diputar oleh Pras.

Sebelum Pras pergi. Ia memelukku erat.

"Aku rindu kamu Sari. Rindu sekali," bisiknya di telingaku.

Satu bulan berlalu. Tak ada kabar dari Pras. Dan kurasa itu sudah lumrah dalam hidupku. Tapi entah perasaan apa yang menguasai hatiku, aku benar-benar sangat merindukannya.

Hari ini tepat tanggal 25 Desember 2011. Ibu Pras menghubungiku. Ia mengatakan bahwa Pras telah berpulang ke Rumah Abadinya. Harusnya aku tak kaget mendengar kenyataan ini. Bahkan aku tahu betul kondisi Pras.

Air mataku tak terbendung lagi. Aku tak bisa membuat Pras bahagia. Bahkan aku tak sempat menyampaikan rinduku pada Pras. Aku benar-benar terpukul. Meski kita sudah tidak bersama lagi. Tapi perasaanku pada Pras masih sama.
***

Tak ada yang abadi dibelahan bumi manapun. Minggu 25 Desember 2011 satu ruh meninggalkan jasadnya. Terbang melayang bersama puluhun, ratusan, atau bahkan ribuan ruh lainnya. Menyatu bersama udara, melintasi lapisan langit dan siap untuk disidang oleh sang Pencipta. Hidayat Prasmintoro semoga tuhan memberikan tempat terindah untukmu di Surga.

Yang Terlewatkan. Spesial untuk Sariatun Miharjo. Semoga cocok dengan pemilihan judul tersebut. Semoga puas dengan hasil tulisan ini. Maaf baru rampung bulan ini. Karena jujur aja baru kepegang, hehehe. Selamat menikmati.
Bandung, 13 Maret 2013




Komentar

Postingan Populer