Sabtu, 21 Mei 2016

Lo pernah siap mati buat seseorang?



Lo pernah siap mati buat seseorang?Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang?Lo pernah? Siap mati? Buat seseorang? Mati? Mati buat seseorang? Buat seseorang?Mati?


Pertanyaan Bong pada Elektra di novel Supernova: PETIR yang baru saja gue baca terus berlarian di dalem kepala gue. Sebelum melanjutkan membaca kata berikutnya, sejenak gue berpikir. Diam sesaat. Mematung. Bagai manekin yang dipajang di toko-toko busana yang hanya bisa melotot tanpa bisa berkedip dan merem. Bisa tersenyum tapi bibirnya gak bisa balik normal lagi. Tersenyum meski ditelanjangi. Terus tersenyum meski tangannya patah. Meski tubuhnya mulai keropos dan berlubang. Meski yang tersisa hanya kepalanya saja. Atau meski seluruh tubuhnya yang sudah termutilasi itu telah berada di dalam gerobak tukang sampah keliling. Dia tetap tersenyum. Diam. Tak bergerak. Sungguh ironis.

Gue tertegun sejenak. SANGAT sejenak. Namun cukup untuk merunut kisah hidup si Manekin itu hingga akhir hanyatnya. Dan cukup untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Bong terhadap Elektra. Padahal sumpah, Bong itu hanya seorang tokoh dari buah imajinasi Dee. Dewi Lestari, sang penulis novel Supernova yang ajaib itu. Dan gak mungkin Bong bakalan tiba-tiba dateng ke hadapan gue buat nanyain “Lo pernah siap mati buat seseorang, Fih?”.

Ok. Terlepas dari kisah hidup si Manekin yang menyedihkan itu. Gue diam, gak bergerak, namun otak gue tetap bekerja. Berpikir. Menunggu saraf-saraf berpikir gue menghantarkan rangsangnya. Kemudian, setelah proses njelimet yang gak terlalu lama itu, muncullah ide. Ide berupa jawaban dari pertanyaan si Bong sialan itu.

Gue dengan tegas meneriaki si Bong.

Gue pernah rela mati buat seseorang!!!!!

Ya. Rela mati untuk seseorang. Bukan pernah lagi. Tapi SERING. Gue sering bilang dalem hati kalau gue rela mati buat seseorang. RELA. Bukan SIAP. Karena memang pada kenyataannya emang gue belum siap untuk mati sekarang. Saat ini juga. Lain cerita kalau keadaannya benar-benar mendesak. Sangat mendesak hingga gue harus mati saat ini juga. Hingga gue harus benar-benar bernegosiasi dengan Malaikat Izrail. Meminta padanya untuk mencabut nyawa gue aja, jangan nyawa seseorang itu.

Tapi apa bisa? Gue tawar menawar dengan Malaikat Izrail? Bahkan kapan, di mana dan bagaimana gue mati aja semuanya udah di tulis di kitab Lauhul Mahfudz. Sekali pun gue merelakan nyawa gue, misalnya menolong seseorang yang kepeleset dari puncak Mahameru. Gue berusaha ikutan lompat buat nangkap dia dan nyelametin dia. Gue dan orang yang gue tolong itu sama-sama ngegelinding sampe bawah. Sama-sama terluka. Sama-sama patah kaki. Tulang-tulang remuk. Jantung ketusuk ranting. Dan luka gue bahkan lebih parah dari dia. Tapi kalau takdir menuliskan gue belum mati saat itu, ya gue gak akan mati.

Tapi, tunggu. Gue rasa Bong gak butuh jawaban serumit itu deh. Masalahnya Elektra cuman jawab “Belum, kayaknya...” udah, segitu doang jawaban Elektra.

Dan apa coba tanggapan Bong sama jawaban Elektra? Begini: “Bagus. Lebih bagus jangan...kalau ada apa-apa dengan mereka, kita bakal merasakan dua kali lipatnya. Mereka bahagia, kita lebih bahagia. Mereka merana, kita lebih-lebih lagi kayak tahi...”

Well. Bong Cuma nanya kesiapan gue doang kan? Siap mati buat seseorang? Tapi gue rasa pertanyaan Bong itu serupa kiasan doang! Kaya basa basi busuk doang. Jadi gak perlu diambil pusing. Itu kan cuma novel. Fiksi. Cuma fiksi Fih!

Tapi, sel-sel kecil di otak gue berkata lain. mereka malah bekerja keras buat terus memikirkan dan merenungkan pertanyaan itu. Mereka mencari-cari jawaban untuk menyesuaikan apa yang ada di hati, isi kepala sama apa yang gue mau. Mereka terus saja mencocok-cocokkan. Keluar masuk ruang ganti dengan 1.000 jawaban berbeda. Dan akhirnya...

Dan akhirnya gue mendapatkan jawaban terbaik. Jawaban yang gue rasa paling bijaksana dan cocok buat gue.

Gue siap Bong! Gue siap mati buat Mama gue! Buat Bapak gue! Buat Adek gue! Gue siap mati buat mereka! Siap! 100% Siap! Kalau pun musti mati sekarang, gue siap! Gue siap menukar nyawa gue untuk mereka! Asalkan mereka tetap hidup. Tetap sehat dan bahagia. Gue siap Bong! SIIIIIIIAAAAPPPPPPPP!

Semoga jawaban gue tersebut bisa didengar atau terbaca oleh Bong.


Minggu, 20 Desember 2015

YANG TERLEWATKAN



Di dunia ini semuanya berpasangan. Ada siang-malam, kaya-miskin, tua-muda, sehat-sakit, pria-wanita, hidup-mati. Mati? Siapa yang menginginkan hal itu? bahkan kematian dianggap oleh hampir seluruh makhluk yang bernyawa sebagai momok yang menakutkan.
*****
Ketika aku duduk di bangku SMP, aku berkenalan dengan seorang pria bernama Pras. Usianya lebih tua satu tahun dariku. Kami bersekolah di tempat yang berbeda. Tak dibutuhkan waktu lama, kami menyepakati untuk menjalin suatu hubungan yang disebut pacaran.

Kami memang berbeda sekolah. Namun kami selalu menghabiskan waktu bersama. Ya, selalu bersama. Mulai dari pergi dan pulang sekolah bersama. Melewati waktu liburan bersama dan bahkan aku tidak segan untuk berkunjung ke rumahnya, bertemu keluarganya begitu pun sebaliknya. Dua tahun kami menjalani hubungan yang nyaris tidak pernah pudar. Meksipun usia kami masih sangat belia, namun cinta kami tak perlu diragukan lagi.

Hingga suatu saat ketika sedang bersama, tiba-tiba Pras muntah darah di hadapanku. Aku kaget bukan main. Tangisku tumpah setelah mengetahui Pras divonis terserang TBC. Mulai saat itu aku berjanji akan selalu menemaninya. Selalu membuatnya tertawa dan bahagia.

Namun semuanya perlahan berubah ketika aku menginjak kelas 2 SMA. Aku harus menerima kenyataan bahwa Pras kini benar-benar telah berbeda. Perhatiannya berkurang, jarang menghubungiku dan jarang menemuiku. Bukan hanya aku saja yang merasakan perubahan yang terjadi pad Pras. Sahabat-sahabatku juga menyadarinya.

“Sari, pacarmu gak pernah kelihatan. Gak pernah antar jemput kamu lagi. Kalian baik-baik saja kan?”

Sementara aku hanya bisa diam dikala diberondongi pertanyaan semacam itu. ingin rasanya aku menjawab hubunganku baik-baik saja. Tapi aku tak mampu menutupi kegelisahan yang mendera hatiku.

Kegelisanhanku memuncak ketika aku melihat Pras sedang berduaan dengan seorang wanita. Aku tak bisa menghakimi Pras atau menuduhnya macam-macam. Karena sama sekali aku belum mendengar penjelasan dari Pras. Mungkin saja wanita itu teman Pras. Ya, aku berusaha untuk tidak berpikir negatif terhadap Pras. Namun hatiku tetap hancur. Ketika berusaha menghubungi Pras. Bukan Pras yang mengangkat telefonku. Tetapi perempuan. Selang dua hari setelah kejadian itu, Pras datang menemuiku, memutuskanku dan membenarkan kecurigaanku. Pras mengakui bahwa dia telah berselingkuh.


Awalnya aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kita harus berpisah. Tapi dengan berjalannya waktu, aku pun terbiasa hidup tanpa Pras. Aku merelakan Pras, asalkan dia bahagia. *****



Satu tahun berlalu, aku tetap menjalani hidupku secara normal. Aku tahu saat ini Pras mengambil kuliah di Jakarta. Meskipun kami sempat berpapasan, tapi Pras sama sekali tak menyapaku. Begitu mudahnya ia melupakanku, melupakan semua kenangan tentang kita. Sementara aku, tetap saja menaruh harapan pada pria itu.

Tiba-tiba Ibu Pras menghubungiku, memberi tahu keadaan Pras. Katanya Pras selalu bercerita tentang aku, tentang rindunya padaku. Pras takut jika aku membencinya karena kesalahannya tempo dulu. Dan kini keadaan Pras sudah semakin parah. Bahkan meludah pun sudah berdarah.

Pras menghubungiku. Dia menanyakan kabarku. Ia mengabariku akan pergi ke Jakarta minggu sore. Dia ingin sekali bertemu denganku dan memintaku untuk mengantarnya ke Stasiun. Dan aku pun mengamini permintaan Pras.

Sore itu aku pergi ke rumah Pras. Aku bertemu dengan Ibunya Pras. Masih seperti dulu. Ia masih ramah dan memperlakukan aku dengan hangat.


“Sari. Ayo masuk, sayang,” ajaknya mempersilahkan. “Sari mau kan bahagiain Pras?” lanjutnya lirih.

“Tapi Sari bisa apa Bu?” tanyaku balik.

“Tolong turuti permintaan Pras ya. Ibu mohon, Sari!”

“Iya Bu, sebisa Sari ya.”
*****

Saat itu di stasiun tak begitu ramai, kami duduk berdua di kursi tunggu.

“Sari, kamu pasti membenciku. Tapi apa selama ini kamu pernah merindukanku?”

“Aku gak membencimu, dan aku juga gak merindukanmu Pras,” jawabku, dan Pras hanya mendunduk.


“Maafkan aku Sari. Maafkan kesalahanku. Maaf, aku telah menyakiti perasaanmu,” katanya.

Pras memutar lagu Naff – Masih Kekasihku. Dia terus meminta maaf padaku. Dan Kereta menuju Jakarta tiba bersamaan dengan berakhirnya lagu yang diputar oleh Pras.


Sebelum Pras pergi, ia memelukku begitu erat.

“Aku rindu kamu Sari. Rindu banget,” bisiknya di telingaku. Lalu Pras mencium keningku dan berlalu memasuki kereta. *****

Satu bulan berlalu, tak ada kabar tentang Pras. Dan kurasa itu sudah lumrah dalam hidupku. Tapi entah perasaan apa yang menguasai hati dan pikiranku. Aku benar-benar merindukannya.

Hari ini tepat tanggal 25 Desember 2011. Ibu Pras menghubungiku. Ia mengatakan bahwa Pras telah berpulang ke rumah abadinya. Harusnya aku tak kaget mendengar kenyataan ini. Bahkan aku telah mengetahui kemungkinan yang akan terjadi pada Pras. Tentang kondisi Pras. Tentang masa depannya. Semua telah dijelaskan oleh Dokter waktu itu.

Air mataku tak terbendung lagi. Aku tak bisa membuat Pras bahagia. Bahkan aku tak sempat menyampaikan rinduku padanya. Aku benar-benar terpukul. Meski kita sudah tak bersama lagi, tapi cintaku pada pras masih tersimpan utuh di tempatnya. *****

Tak ada yang abadi di belahan bumi manapun. Minggu, 25 Desember 2011. Satu roh meninggalkan jasadnya. Terbang melayang bersama puluhan, ratusan, ribuan atau mungkin jutaan roh lainnya. Menyatu bersama udara, melintasi lapisan langit dan siap untuk disidang oleh sang Pencipta. Hidayat Prasmintoro. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untukmu di Surga.
*****
·          

Rabu, 04 November 2015

KUE SAGU


Kemarin Senin. Sekarang Selasa. Besok Rabu. Lusa Kamis. Itu nama-nama hari yang pengen gue Skip.

Bisa gak sih langsung hari Jumat Sabtu Munggu aja? :-)
Selasa sore. Di jam-jam mepet pulang kantor. Tiba-tiba temen dateng dan langsung berpekik:
"Haduh Efih. Di tempat Admission tuh ada kue sagu. Aku pengen banget."
"Ya udah tinggal minta aja!"
"Tapi gak ada orang! Cuman toplesnya kegeletak gitu aja."
"Ya udah tinggal ambil aja!"
"Ih. Eeefffiiiihhh....!!! Itu kan nyuri namanya!"
Ya gimana lagi coba. Kalo udah mau banget mah ya ambil aja. Daripada dede bayi dalem perutnya ngiler. Eh, tapi kan temen gue gak lagi hamil ya. Jadi gak akan ada dede bayi yang ngiler. Kecuali temen gue sendirinya yang ngiler sampe kebawa-bawa mimpi.
"Ya udah. Aku liat deh. Ntar aku ambilin sama toplesnya," gue nenangin temen gue yang sebenernya gak kenapa-kenapa.
"Tapi jangan nyuri looooh!" sambil mengacungkan  telunjuknya tepat di lubang hidung gue.
"Enggak! Paling ngambil doang tanpa minta. Hehe."
"Eeefffiiiihhhh......," pekiknya lagi.
Gue ningalin ruangan kerja. Berjalan layaknya putri solo yang menahan kandung kemih kepenuhan. Menuju toilet yang untuk sampai ke sana gue harus ngelewatin Admission dulu.
Waaahhhhh. Bener. Kue sagu dalam toples bening itu memang menggoda.
Gak cuman ada kue sagu doang. Ada 3 piring kue sus yang wanginya sedap. Cantik. Dan kudapan itu gue yakin banget milik dokter yang praktek malem hari. Gue gak punya harapan buat minta kue sus itu. Cuman bisa nelen ludah doang. Smbil ucap Wassalam.
Balik lagi ke kue sagu yang gak bertuan dan bernyonya. Gue masih punya harapan dan kesempatan buat mengunyah kue lembut itu. Gue cuman harus sabar aja. Sabar nungguin sampe sang pemilik balik lagi ke kandangnya. Dengan begitu gue bisa minta kue sagu itu tanpa harus merampoknya.
Lama. Akhirnya gue melaksanakan niat awal gue keluar dari ruang kerja. Yakni pipis.
Gak perlu gue ceritain kisah pipis gue. Yang jelas. Setelah gue keluar dari toilet, gue bahagia. Mata gue membulat otomatis, dan berbinar pula. Udah kaya Hamtaro dikasih sebungkus Kwaci dapet ngupas.
Ada makhluk berpakaian putih tengah duduk di kantor Admission. Makhluk itu gak lain gak bukan adalah penghuni dan pemilik kandang Admission. Dan pemilik kue sagu.
Gue buru-buru menghampiri mereka.
"Wah Mba'e jajan apa?" tanya gue basa-basi setelah melihat kantong kresek besar.
"Nih. Ayuk bareng-bareng Fih," ajaknya sambil menuangkan Mie ke dalam mangkuk.
"Waaahhh......Mie Jablay yaaa.... hhmmmm wangiii syekalii Mba!" gue melancarkan proses pendekatan.
Mie Jablay adalah Mie instan biasa kaya Indomie gitu yang ditambahin usus. Bumbu Usus yang nyampur sama bumbu Indomie bikin perpaduan kuah kental yang aduhai.
"Iya ayuk! Masih hot ini chiiinnn!" Mba Ira maksa gue dengan gaya bicaranya yang khas.
"Enggak ah. Kalo masih hot mah. Biasanya suka ditiupin dulu sama Mamah trus diemutin dulu, trus dilepehin, disuapin deh ke aku." *Gaya makan bayi.
"Haha iya da masih orok kamu teh chiiiinnn....sini sekalian aku kunyahin!" godanya.
"Hihi. Enggak ah. Ntar aroma mulut Mba'e nempel di Mienya. Huuuaaaa...... ada kue sagu," mulai beraksi, tangan gue langsung aja ngangkat toples kue sagu itu. "Mau minta. Boleh gak?"
"Iya makan aja!"
Yessss. Gue sih yakin, Mba Ira mah orangnya gak pelit. Dia pasti mau ngasih makanan apa pun yang ada di situ. Kecuali kue sus milik dokter.
Meluncurlah kue sagu itu ke dalam mulut gue. Krenyess krenyess krenyess. Satu. Dua. Tiga.
Tiga kue sagu telah berpindah ke dalam perut gue. Jaga sedikit gengsi lah kalo gue makan lebih dari tiga mah.
Gue menaruh kembali toples ke hadapan Mba Ira.
"Loh, udahan?" tanya Mba Ira di tengah-tengah menyeruput kuah Mie Jablay.
"Udah ah Mba'e, nanti abis sama aku kan piyee....."
"Padahal gak apa-apa Fih. Sok aja."
"Engga ah, makasih. Mba'e hatur tengkyu ya.... daahhh..."
Gue pun melambai lalu pergi. Kembali ke ruangan. Lalu teringat kembali pada permintaan temen seruangan gue. Oh, lebih tepatnya gue teringat sama kemaun temen seruangan gue akan kue sagu.
Oh, God. Kenapa gue bia kelupaan. Kenapa gue makan kue sagu sendirian. Lah, ini yang kepengin kue sagu siapa. Yang ngidam kue sagu siapa.
"Gimana Fih? Dapet kue sagunya?" dengan tampang polos temen gue nyamperin dan nanya.
"Hehe."
"Kok Hehe aja? Gimana? Punya siapa? Dapet gak? Ato malah kamu udah makan duluan ya?"
Rasanya diintrogasi masal itu ternyata gak enak guys! Apalagi pertanyaannya menohok sampe ke pangkal hati. Alamaaakk. Muter otak..... muter otak..... muter otak.....
"Fih! Gak kemasukan hantu toilet kan? Tadi ke toilet Bismillah dulu gak?"
"Bismillah dulu kok! Baca ayat kursi malah! Yassin juga dibaca!"
"Jadi gimana kue sagunya?" mengulang pertanyaan.
"Jadi gini sebenernya. Tadi pas mau pipis itu emang beneran gak ada siapa-siapa di admission, asli deh serius! Nah, pas keluar dari toilet tuh ada Mba Ira, abis beli Mie Jablay. Wuuiiihhh.... wangi tenan aromanya! Ditawarinlah Mie jablay."
"Terus, kue sagunya?" mengulang pertanyaan kembali.
"Sempet liat sih kue sagunya."
"Terus?"
"Apanya yang terus?"
"Terus kue sagunya gimana?" mengulang pertanyaan dengan membolak-balikkan kata.
"Ya aku minta. Tiga. Cuman tiga."
"Mana?"
"Mana apanya?"
"Kue sagunya! Ah, Efiiiihhhh. Katanya minta kue sagunya tiga. Sekarang mana?"
"Oh. Maksudnya, aku minta kue sagunya tiga tuh ya langsung kumakan tadi barusan di admission."
"Yaaahhhh...... Efiiihhhhhhhh....."
*********
Memang terkadang berkata jujur itu menyulitkan. Perlu bicara ngaler ngidul dulu, baru ke poin pentingnya. Apalagi gue harus berusaha buat gak nyakitin atau menyinggung perasaan orang yang mau gue jujurin. Gue harus menjaga kata-kata gue. Pengaturan diksi juga penting. Tapi, sesulit-sulitnya berkata jujur. Tetap lebih sulit nyembuhin penyakit pilon alias pikun gue ini.
*********
Tengkyu somac, udah baca cerita gak jelas gue ini. Salam hangat dari secangkir teh yang dibuat dengan penuh cinta.

Minggu, 26 Juli 2015

LAS'KAR BITT 1

Mendung menggelayut di langit jam 2 sore. Hembusan angin yang semula semilir berubah menjadi hunusan tajam yang menghujam kulit.
Menggigil. Gusti menghentikan kegiatan mengayuh sepedanya. Debu dari lalu lalang kendaraan membuat Gusti mengerjap-ngerjapkan mata.
Perjalanan ke rumah masih sekitar 15 menit lagi jika ditempuh oleh sepeda kumbang. Sepeda yang kecepatannya tak dapat melebihi kereta listrik ekonomi sekali pun.
Air deras berjatuhan tiba-tiba dari atap bumi. Hujan. Gusti segera memarkirkan sepedanya di depan sebuah toko roti. Ia semakin menggigil. Mengingat peliharaan di perutnya belum diberi makan sejak pagi.
"Gusti?" seseorang dari belakang mengagetkan Gusti. Suara lembut dari seorang wanita yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Yaaaahhh ujaaannn......," tangan lentiknya memainkan air hujan yang terjatuh dari genting.
"Hujannya besar banget," Gusti mencoba bicara di tengah kegugupan dan kemenggigilannya.
"Kamu pasti lagi berteduh ya Gus?"
Akhirnya Gusti dapat melihat sorot mata Bidadari itu dari dekat.
"Iya. Kamu juga lagi berteduh ya?" pertanyaan menjiplak akhirnya Gusti layangkan pada Kareen.
"Aku sih habis beli roti. Nih!" Kareen mengangkat kantong kresek yang dipenuhi oleh roti. "Gusti!!!" tiba-tiba Kareen membentak.
Gusti terperanjat.
"Aku benci sama kamu!!!" Kareen menonjok pelan lengan Gusti dan pernyataan Kareen tersebut telah berhasil menohok jantung Gusti hingga ke pangkalnya.
"Kok bisa?" Gusti mulai panik dan semakin gemetar, juga semakin lapar.
"Ya abisnya nilai ulangan Fisika kamu paling gede! Huh! Padahal aku udah belajar mati-matian buat dapet nilai paling gede!"
"Oh......," Gusti merasa lega dan bernyawa kembali. "Tunggu. Harusnya kamu kalau mau dapet nilai besar ya belajar Fisika. Bukan belajar mati-matian. Belajar mati-matian itu kalau mau ulangan perang. Teori mati-matian bakal berguna buat mengelabui musuh."
"Ih Gusti apaan sih! Aku serius malah di bercandain! Kamu makan apa sih bisa pinter kaya gitu?" kini tatapan Kareen semakin tajam.
Gusti memalingkan wajah. Mengingat selama ini tak pernah makan yang aneh-aneh. Atau makan produk yang di kemasannya bertuliskan 'BIKIN PINTAR' .
"Tahu," Gusti tanpa sadar bergumam. Melihat reaksi Kareen yang membuat lipatan ombak di keningnya. Gusti gelagapan. "Saya selalu sarapan sama Tahu dari Mas Joko!" lanjutnya.
"Tahu? Tahu Mas Joko? Kok bisa bikin pinter?"
"Mmmmm. Anu.... Saya sih biar di sekolah konsentrasi tiap paginya harus sarapan sama tahu. Mungkin sugesti aja. Tapi emang tahu Mas Joko bisa bikin otak saya encer sih," ungkap Gusti sedikit ngaco.
"Ah serius! Kalo gitu besok beliin buat aku ya! Nanti aku ganti uangnya. Atau uangnya mau sekarang aja Gus?" Kareen antusias mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku seragamnya.
"Hah? Enggak usah Kar! Masalahnya Mas Joko lagi pulang dulu ke Tegal. Istrinya melahirkan. Lagian teman saya makan tahunya Mas Joko malah ingusnya yang encer. Itu mah sugesti saya aja mungkin Kar. Habis makan tahu jadi berasa pinter."
Pertemuan di toko roti berakhir dengan datangnya mobil mewah yang menjemput Kareen. Seseorang yang memegang kemudi turun dengan membuka payung terlebih dahulu. "Nenek sihir" begitu menurut pengakuan Kareen ketika wanita berpayung itu mendekat.
"Aku duluan ya Gus!" pamit Kareen yang melangkah mantap.
Gusti mengangguk pelan karena tidak mengharapkan perpisahan ini. Matanya terus saja menatapi punggung Kareen. Namun, wanita judes yang satu kelas dengannya itu berbalik badan.
Gusti tersenyum. Tiba-tiba dirinya tersedot oleh mesin pemindah tempat yang dapat memposisikan seseorang di mana pun, layaknya Jinny. Jin cantik pada Film Jinny oh Jinny.
Dengan kesadaran yang optimal dan nyaris tanpa paksaan. Gusti membayangkan dirinya sedang menjadi seseorang di sebuah FTV drama seri Indonesia. Kareen berbalik badan dan akan berlari ke arah Gusti. Kareen akan merangkul Gusti dan mengatakan bahwa dirinya teramat mencintai Gusti dan tidak akan meninggalkan Gusti. Kareen lebih memilih bersama Gusti ketimbang pergi bersama Ibunya.
Lalu angin kencang pun datang menyambar lamunan Gusti. Menerbangkan semua halusinasi tentang drama FTVnya itu.
"Ini buat kamu Gus!" Kareen tiba-tiba sudah berada di depan lubang hidungnya, menyodorkan satu bungkus roti. "Hujan kaya gini bakal lama. Kamu bakal makin kurus kalo gak cepet ngasi makan cacingmu itu!" Kareen segera berlari ke bawah naungan payung yang dipegang Ibunya.
"Makasi Kar! Makasi banyak!" teriakan Gusti terbawa angin.
****
Sesampainya di rumah. Gusti masih membayangkan senyum simpul Kareen. Ditambah dengan alunan lagu Dewa 19 yang memenuhi ruang di kamarnya yang sempit itu. Gusti merasa dirinya tengah terbang dan hinggap di satu awan ke awan lainnya. Dia membelai lembut gumpalan awan itu. Yang jika dimakan, rasanya seperti ice cream vanila yang sering dibelikan oleh Tante Monic.
Tanpa sadar. Gusti menjatuhkan diri ke atas kasur tipis di atas lantai.
Buuuukkkkk........Krreeekkkkk......
"Aaaawwwww......Tulang gue sakit! Tulang gue patah!" jeritan Gusti berhasil membangunkan tidur cantik Bule.
Ya. Sebut saja Bule. Remaja blasteran yang 3 Tahun lebih tua dari Gusti. Dibuang paksa oleh Ibu kandungnya sejak umur 2 Tahun. Dipungut dan dibesarkan oleh Ibu Rahmi selaku Ibu kandung Gusti.
"Apa? Tiang mana yang patah? Tuh kan, apa kata gue? Musti cepet-cepet dibenerin! Kalo enggak, ini gubuk bakal rubuh!" kumandang Bule di sela-sela mengigaunya.
"Heh. Monyet! Tulang gue yang patah!" Gusti masih meringis.
"Monyet siapa yang patah tulangnya?" Bule berusaha bangun dan mengucek-ngucek matanya. "Wah! Monyet Kang Aip jangan-jangan Gus?"
"Monyeeet di depaaan luuuu yang tulangnyaaaa patah!!!!!!"
Gusti melempar bantal kumal yang mendarat tepat di wajah Bule yang tetap tampan meski dipenuhi iler. Menurut Gusti ini salah satu cara yang paling efektik, cepat dan aman untuk membantu Bule mengumpulkan nyawanya.
****
Cuaca di jam istirahat siang ini begitu gelap dan dingin. Siang? Gelap? Ah,  Gusti lebih suka menyebut keadaan seperti ini adalah waktu subuh.
Gusti masih meringkuk di atas kursi di pojokan kelas ketika Kareen dan temannya datang. Gusti tak terganggu sama sekali oleh cekikikan gadis-gadis labil itu. Dia masih bermimpi tengah didekap oleh Ibunya.
"Jadi seriusan kemaren kamu ujan-ujan berduaan sama Gusti di depan toko roti?" Alfira memulai percakapan.
Kareen duduk di kursinya, merogoh Novel dari dalam tas dan mulai membukanya. "Iya, kalo gak percaya tanya aja sama orangnya."
"Eh, tapi kok aku gak liat Gusti ya di luar sana? Di kantin juga enggak liat?" Fira mulai celingukan.
"Ini kan hari kemis Neng!"
"Iya hari kemis. Terus kenapa?" Fira bingung sendiri.
"Iya kan tu anak rajin banget puasa senen kemisnya, Fir!! Paling juga ngadem di Masjid!"
"Astaga. Aku lupa, Kareen,"  Fira menepuk keningnya pelan.
"Istigfar Fir! Bukan astaga! Kaya bukan muslim aja ah!"
"Iya ya. Astagfirullahaladzim. Tapi seriusan itu romantis banget sekali Kareen! Kalian pasti mandangin ujan yang turun, terus kalian ngobrol-ngobrol cantik gitu. Ya ampuuuunnn Kareen! Kalo aku jadi kamu ya. Aku bakalan banyak nanya semua apa pun tentang dia. Itu kesempatan langka loh Kareen! Kamu tau Gusti kan anaknya sedingin kulkas gitu. Selama aku sama Gusti sekelas aja, belum pernah tuh Gusti nyapa aku! Dia tuh judes! Kaya kamu Kareen!" oceh Fira yang gak sadar kalo Kareen ternyata udah khusuk baca Novel.
"Ah, Kareen mah gitu! Kalo aku ngomong tuh gak pernah didenger! Nyebelin tauk!" Fira mulai manyun.
"Iya. Aku denger kok Fir apa yang kamu omongin! Tapi, masa iya aku musti seheboh itu ketemu Gusti?"
"Tapi kan seenggaknya kamu tanya-tanya tentang dia dong, Kareen! Rumahnya di mana?"
"Gak kefikiran tanya rumahnya sih Fir! Aku cuma tanya, dia makan apa kok bisa sepinter itu! Gitu!"
"Terus, dia jawab apa?"
"Dia selalu sarapan sama Tahu Mas Joko. Gitu katanya. Tapi, ah, kayaknya dia bohong deh Fir! Masa cuman sarapan sama tahu aja bisa bikin pinter!"
"Siapa Mas Joko?"
"Yang jual tahu deket rumahnya kali Fir," Kareen mengangkat kedua bahunya. "Tapi, Fir. Pas aku deketan sama Gusti tuh kok seragamnya kayak bau sabun colek gitu ya? Kecium banget pokoknya! Emang ada ya parfum wangi sabun colek?"
"Kok tau sih itu bau sabun colek? Kamu di rumah masih pake sabun colek ya nyucinya?" Fira mendelik nakal.
"Simbok kadang suka beli sabun colek. Suka ada tuh di tempat cucian. Tapi gak tau deh dia cuciin bajuku pake apa. Yang jelas bajuku gak bau sabun colek pas dipake!"
"Ya gak apa-apa lah Kareen! Orang Naysila Mirdad sama Lidya Kandow aja nyuci bajunya pake sabun colek kok!" seloroh Fira penuh percaya diri.
"Tau dari mana kamu Fir?"
"Itu di TV!"
"Emang dia ikut reality show gitu?"
"Kan ada iklannya, Kareen! Sabun colek Ekonomi gituan kalo gak salah. Itu ya bajunya Lidya Kandow zaman muda, masih bisa dipake sama Naysila pas udah dewasa. Itu karena dicucinya pake sabun colek ekonomi!" Fira menjelaskan penuh antusias.
"Idiiihhh..... korban iklan kamu mah Fir!" cibir Kareen langsung melanjutkan kegiatan membacanya.
Sementara itu. Di alam mimpi. Gusti berlari terseok-seok mengejar Bule yang berada di dalam kendaraan mewah. Bule sudah bertemu dengan Ibu kandungnya. Dan ternyata Bule merupakan anak dari keluarga yang kaya raya.
Mobil mewah itu terus melaju. Si pengemudi seolah tidak peduli terhadap Gusti yang terus saja berlari. Di dalamnya, Bule duduk bersama Ibu kandung dan juga seorang gadis yang wajahnya disamarkan. Gusti terus berlari sekuat tenaga hingga terjatuh.
Buuuukkkkk........
"Aaaawwwww......" Gusti meringis.
Kareen lekas menutup Novelnya. Ia terperanjat dan langsung menoleh ke sumber suara. Begitu pun Fira. Fira secara spontan langsung berdiri dan berlari ke pojokan kelas.
Fira menatap Gusti penuh iba. Sekaligus menahan ledak tawa yang hendak ia muntahkan.
"Gusti. Kamu kenapa? Lagi ngapain di situ?"
Fira mendekati Gusti yang masih dalam kondisi dada telungkup di lantai, namun kaki masih tersangkut pada kursi.
Kareen ikut berlari ke pojokan kelas dan dirinya terperanjat ketika melihat keadaan Gusti.
Dengan spontan Kareen menarik sepatu Gusti. "Gus! Gusti! Kamu baik-baik aja kan? Gus!"
Gusti masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia berusaha untuk bangun. Dadanya terasa sakit akibat menghantam lantai. Masih duduk di lantai, Gusti memutar badannya hingga bertatapan dengan Kareen dan Fira. Gusti mengusap-usap dadanya.
"Kamu baik-baik aja, Gusti?" tanya Fira berlutut.
"Enggak," Gusti menjawab sangat pelan, namun masih terdengar.
"Kok bisa Gus?" giliran Kareen bertanya heran.
Gusti menggeleng dan masih mengusapi dadanya yang sakit.
"Sakit ya?" Fira semakin mendekat dan berusaha mengecek anggota tubuh Gusti. "Jadi, dari tadi kamu ada di kelas, Gusti? Kamu gak diem-diem dengerin obrolan kita kan, Gusti?" Fira mulai curiga.
"Saya ketiduran!" sedikit malu Gusti menjawab.
Gusti mencoba berdiri dan segera berjalan menuju pintu. Jam istirahat masih 10 menit lagi. Dan kelas itu masih dihuni oleh Gusti, Kareen dan Fira.
"Saya mau cuci muka," ucap Gusti.
Fira yang masih berlutut, dibuat tercengang oleh kelakuan Gusti yang tiba-tiba pergi tanpa menjelaskan apa-apa.
"Kareen, jangan-jangan Gusti denger semuanya?"
"Ya biarin aja. Emang kenapa?"
"Kita kan dari tadi ngomongin dia mulu! Mana kamu bilang baju Gusti bau sabun colek, lagi! Kalo dia marah gimana, Kareen?"
"Ya kan emang kenyataannya gitu Fir!" Kareen melangkah kembali ke kursinya.
Sementara di toilet, Gusti masih kefikiran tentang mimpinya. Tentang perpisahannya bersama Bule. Tentang gadis di samping Bule yang wajahnya disamarkan.
****
Di kamar. Gusti diam-diam mencuri pandang ke arah Bule. Bule tengah mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Gusti.
Seperti biasa. Usai pekerjaan selesai, Gusti selalu mengajari Bule. Gusti menyampaikan kembali apa yang dia pelajari tadi siang di Sekolah. Gusti mengajari Bule layaknya seorang guru profesional.
Gusti dan Bule dititipkan oleh Bu Fatimah pada Tante Monic. Bu Fatimah mencari nasib di kampung halamannya sendiri. Palembang. Sebuah Negara penghasil Pempek terbanyak.
Sementara. Tante Monic, seorang janda yang tidak memiliki anak yang merupakan mantan majikan dari Bu Fatimah. Tante Monic berjanji pada Bu Fatimah akan membiayai sekolah Gusti hingga SMA.
Tante Monic sendiri memiliki sebuah bengkel Las Karbit. Salah satu pegawai kesayangannya ialah Bule. Anak angkat Bu Fatimah yang dinilainya ulet, cekatan dan jujur. Sedangkan Gusti, hanya membantu semampunya setelah pulang sekolah.
Setelah lulus SMP, mereka berdua tinggal di sebuah ruangan sempit di dalam bengkel las karbit milik Tante Monic. Sebuah ruangan yang mereka sebut Cielo en la tierra yang merupakan bahasa Spanyol dari Surga di dunia.
"Kenapa? Lu baru sadar kalo gue ganteng?" goda Bule yang baru menyadari bahwa Gusti tengah memperhatikannya.
"Idih! Amit-amit deh!" Gusti memalingkan wajahnya.
Kembali hening. Bule kembali berkutat dengan soal-soalnya. Gusti kembali menatap Bule.
"Bang!" panggil Gusti pelan.
"Hah?"
"Kalo lu ketemu nyokap kandung lu! Lu bakal ninggalin gue gak?"
Bule menaruh pensilnya. Membenarkan letak duduknya dan memandang Gusti.
"Kenapa lu nanya gitu? Tumben-tumbenan!"
"Ya jawab aja! Apa susahnya? Kalo ternyata nyokap kandung lu tajir melintir gimana? Lu masih mau bertahan bareng gue? Hidup susah?"
"Eh, denger ya! Gue dari kecil udah hidup sama Ibu! Sama lu juga! Gue udah biasa hidup susah! Kalo pun ternyata nyokap kandung gue kaya raya, gue gak akan nikmatin semuanya sendirian Gus! Gue bakal ajak lu sama Ibu!"
"Kalo nyokap lu gak nerima gue sama Ibu?"
"Gue bakal tetep bareng kalian! Gue gak mungkin ninggalin kalian! Kalian keluarga gue satu-satunya! Paham?? Udah gak usah tanya kaya gituan lagi! Gue gak konsen nih!"
Gusti merenungkan apa yang diucapkan Bule. Dalam hatinya ia berdoa. Semoga saja Bule menepati ucapannya dan tidak kesilauan jika memang benar Ibu kandungnya kaya raya.
****
"Pagi Tante Cantik!?" sapa Bule dengan sumringah. "Tumben Minggu pagi dateng Tan?"
"Iya Le! Gusti mana ya?" Tante Monic celingukan.
"Ada kok! Gus!! Gus!! Ada Tante Monic nih!" teriak Bule yang berhasil bikin telinga Tante Monic berdengung.
Tak lama Gusti keluar dengan piring dan spon yang penuh busa di tangannya.
"Kamu lagi cuci piring Gus?" Tante Monic merasa sedikit bersalah karena sudah mengganggu Gusti.
"Iya Tente. Maaf ya. Kenapa? Ada apa? Ada masalah? Apa ada yang mesti saya lakukan?"
"Kamu kok nanyanya banyak banget Gus!?"
"Hehe," Gusti nyengir kuda.
"Calon pengacara Tante si Gusti mah!" celetuk Bule.
Gusti kembali masuk ke dapur dan lekas mencuci tangan.
"Pengangguran banyak acara mah iya kali!" canda Gusti saat keluar.
"Ih. Jangan Gusti! Kamu kan pinter! Sayang kalo nganggur mah! Nanti kamu coba nyari program beasiswa! Minta bantuan aja sama guru. Minta info-info gitu! Ya! Sama ini sekalian uang buat ujian! Maaf ya, Tante telat ngasinya!"
Gusti menerima amplop cokelat yang disodorkan Tante Monic. Hatinya bergetar. Karena inilah yang Ia tunggu-tunggu dari setiap perjumpaannya dengan Tante Monic.
Gusti selalu berharap Tante Monic bisa menepati janjinya. Bahwa Tante Monic akan membiayai Gusti hingga lulus SMA. Dan sebentar lagi ujian kelulusan. Gusti membutuhkan uang dengan jumlah yang lumayan banyak hingga mendapatkan Ijazah.
"Tante. Apa ini gak kebanyakan?" Gusti menimang-nimang uang di dalam amplop yang gak terlihat itu.
"Kamu bakal butuh banyak Gus! Belum buat perpisahan kan biasanya ada piknik! Pokoknya kamu pake sebaik-baiknya ya Gus! Awas aja kalo sampe dipake yang gak bener!" ungkap Tante Monic sambil mengusap-usap bahu Gusti.
"Insya allah Tante. Si Gusti orangnya amanah kok. Dan Ibu gak pernah ngajarin yang gak baik sama kita. Iya kan Gus?" Bule angkat bicara.
****
Bersambung yaaa........