Minggu, 26 Juli 2015

LAS'KAR BITT (Sabun Colek)

Mendung menggelayut di langit jam 2 sore. Hembusan angin yang semula semilir berubah menjadi hunusan tajam yang menghujam kulit.

Menggigil. Gusti menghentikan kegiatan mengayuh sepedanya. Debu dari lalu lalang kendaraan membuat Gusti mengerjap-ngerjapkan mata.

Perjalanan ke rumah masih sekitar 15 menit lagi jika ditempuh oleh sepeda kumbang. Sepeda yang kecepatannya tak dapat melebihi kereta listrik ekonomi sekali pun.

Air deras berjatuhan tiba-tiba dari atap bumi. Hujan. Gusti segera memarkirkan sepedanya di depan sebuah toko roti. Ia semakin menggigil. Mengingat peliharaan di perutnya belum diberi makan sejak pagi.

"Gusti?" seseorang dari belakang mengagetkan Gusti. Suara lembut dari seorang wanita yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Yaaaahhh ujaaannn......," tangan lentiknya memainkan air hujan yang terjatuh dari genting.

"Hujannya besar banget," Gusti mencoba bicara di tengah kegugupan dan kemenggigilannya.

"Kamu pasti lagi berteduh ya Gus?"
Akhirnya Gusti dapat melihat sorot mata Bidadari itu dari dekat.

"Iya. Kamu juga lagi berteduh ya?" pertanyaan menjiplak akhirnya Gusti layangkan pada Kareen.

"Aku sih habis beli roti. Nih!" Kareen mengangkat kantong kresek yang dipenuhi oleh roti. "Gusti!!!" tiba-tiba Kareen membentak.

Gusti terperanjat.

"Aku benci sama kamu!!!" Kareen menonjok pelan lengan Gusti dan pernyataan Kareen tersebut telah berhasil menohok jantung Gusti hingga ke pangkalnya.

"Kok bisa?" Gusti mulai panik dan semakin gemetar, juga semakin lapar.

"Ya abisnya nilai ulangan Fisika kamu paling gede! Huh! Padahal aku udah belajar mati-matian buat dapet nilai paling gede!"

"Oh......," Gusti merasa lega dan bernyawa kembali. "Tunggu. Harusnya kamu kalau mau dapet nilai besar ya belajar Fisika. Bukan belajar mati-matian. Belajar mati-matian itu kalau mau ulangan perang. Teori mati-matian bakal berguna buat mengelabui musuh."

"Ih Gusti apaan sih! Aku serius malah di bercandain! Kamu makan apa sih bisa pinter kaya gitu?" kini tatapan Kareen semakin tajam.

Gusti memalingkan wajah. Mengingat selama ini tak pernah makan yang aneh-aneh. Atau makan produk yang di kemasannya bertuliskan 'BIKIN PINTAR' .

"Tahu," Gusti tanpa sadar bergumam. Melihat reaksi Kareen yang membuat lipatan ombak di keningnya. Gusti gelagapan. "Saya selalu sarapan sama Tahu dari Mas Joko!" lanjutnya.

"Tahu? Tahu Mas Joko? Kok bisa bikin pinter?"

"Mmmmm. Anu.... Saya sih biar di sekolah konsentrasi tiap paginya harus sarapan sama tahu. Mungkin sugesti aja. Tapi emang tahu Mas Joko bisa bikin otak saya encer sih," ungkap Gusti sedikit ngaco.

"Ah serius! Kalo gitu besok beliin buat aku ya! Nanti aku ganti uangnya. Atau uangnya mau sekarang aja Gus?" Kareen antusias mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku seragamnya.

"Hah? Enggak usah Kar! Masalahnya Mas Joko lagi pulang dulu ke Tegal. Istrinya melahirkan. Lagian teman saya makan tahunya Mas Joko malah ingusnya yang encer. Itu mah sugesti saya aja mungkin Kar. Habis makan tahu jadi berasa pinter."

Pertemuan di toko roti berakhir dengan datangnya mobil mewah yang menjemput Kareen. Seseorang yang memegang kemudi turun dengan membuka payung terlebih dahulu. "Nenek sihir" begitu menurut pengakuan Kareen ketika wanita berpayung itu mendekat.

"Aku duluan ya Gus!" pamit Kareen yang melangkah mantap.

Gusti mengangguk pelan karena tidak mengharapkan perpisahan ini. Matanya terus saja menatapi punggung Kareen. Namun, wanita judes yang satu kelas dengannya itu berbalik badan.

Gusti tersenyum. Tiba-tiba dirinya tersedot oleh mesin pemindah tempat yang dapat memposisikan seseorang di mana pun, layaknya Jinny. Jin cantik pada Film Jinny oh Jinny.

Dengan kesadaran yang optimal dan nyaris tanpa paksaan. Gusti membayangkan dirinya sedang menjadi seseorang di sebuah FTV drama seri Indonesia. Kareen berbalik badan dan akan berlari ke arah Gusti. Kareen akan merangkul Gusti dan mengatakan bahwa dirinya teramat mencintai Gusti dan tidak akan meninggalkan Gusti. Kareen lebih memilih bersama Gusti ketimbang pergi bersama Ibunya.

Lalu angin kencang pun datang menyambar lamunan Gusti. Menerbangkan semua halusinasi tentang drama FTVnya itu.

"Ini buat kamu Gus!" Kareen tiba-tiba sudah berada di depan lubang hidungnya, menyodorkan satu bungkus roti. "Hujan kaya gini bakal lama. Kamu bakal makin kurus kalo gak cepet ngasi makan cacingmu itu!" Kareen segera berlari ke bawah naungan payung yang dipegang Ibunya.

"Makasi Kar! Makasi banyak!" teriakan Gusti terbawa angin.

****
Sesampainya di rumah. Gusti masih membayangkan senyum simpul Kareen. Ditambah dengan alunan lagu Dewa 19 yang memenuhi ruang di kamarnya yang sempit itu. Gusti merasa dirinya tengah terbang dan hinggap di satu awan ke awan lainnya. Dia membelai lembut gumpalan awan itu. Yang jika dimakan, rasanya seperti ice cream vanila yang sering dibelikan oleh Tante Monic.

Tanpa sadar. Gusti menjatuhkan diri ke atas kasur tipis di atas lantai.

Buuuukkkkk........Krreeekkkkk......
"Aaaawwwww......Tulang gue sakit! Tulang gue patah!" jeritan Gusti berhasil membangunkan tidur cantik Bule.

Ya. Sebut saja Bule. Remaja blasteran yang 3 Tahun lebih tua dari Gusti. Dibuang paksa oleh Ibu kandungnya sejak umur 2 Tahun. Dipungut dan dibesarkan oleh Ibu Rahmi selaku Ibu kandung Gusti.

"Apa? Tiang mana yang patah? Tuh kan, apa kata gue? Musti cepet-cepet dibenerin! Kalo enggak, ini gubuk bakal rubuh!" kumandang Bule di sela-sela mengigaunya.

"Heh. Monyet! Tulang gue yang patah!" Gusti masih meringis.

"Monyet siapa yang patah tulangnya?" Bule berusaha bangun dan mengucek-ngucek matanya. "Wah! Monyet Kang Aip jangan-jangan Gus?"

"Monyeeet di depaaan luuuu yang tulangnyaaaa patah!!!!!!"

Gusti melempar bantal kumal yang mendarat tepat di wajah Bule yang tetap tampan meski dipenuhi iler. Menurut Gusti ini salah satu cara yang paling efektik, cepat dan aman untuk membantu Bule mengumpulkan nyawanya.

****

Cuaca di jam istirahat siang ini begitu gelap dan dingin. Siang? Gelap? Ah,  Gusti lebih suka menyebut keadaan seperti ini adalah waktu subuh.

Gusti masih meringkuk di atas kursi di pojokan kelas ketika Kareen dan temannya datang. Gusti tak terganggu sama sekali oleh cekikikan gadis-gadis labil itu. Dia masih bermimpi tengah didekap oleh Ibunya.

"Jadi seriusan kemaren kamu ujan-ujan berduaan sama Gusti di depan toko roti?" Alfira memulai percakapan.

Kareen duduk di kursinya, merogoh Novel dari dalam tas dan mulai membukanya. "Iya, kalo gak percaya tanya aja sama orangnya."

"Eh, tapi kok aku gak liat Gusti ya di luar sana? Di kantin juga enggak liat?" Fira mulai celingukan.

"Ini kan hari kemis Neng!"

"Iya hari kemis. Terus kenapa?" Fira bingung sendiri.

"Iya kan tu anak rajin banget puasa senen kemisnya, Fir!! Paling juga ngadem di Masjid!"

"Astaga. Aku lupa, Kareen,"  Fira menepuk keningnya pelan.

"Istigfar Fir! Bukan astaga! Kaya bukan muslim aja ah!"

"Iya ya. Astagfirullahaladzim. Tapi seriusan itu romantis banget sekali Kareen! Kalian pasti mandangin ujan yang turun, terus kalian ngobrol-ngobrol cantik gitu. Ya ampuuuunnn Kareen! Kalo aku jadi kamu ya. Aku bakalan banyak nanya semua apa pun tentang dia. Itu kesempatan langka loh Kareen! Kamu tau Gusti kan anaknya sedingin kulkas gitu. Selama aku sama Gusti sekelas aja, belum pernah tuh Gusti nyapa aku! Dia tuh judes! Kaya kamu Kareen!" oceh Fira yang gak sadar kalo Kareen ternyata udah khusuk baca Novel.

"Ah, Kareen mah gitu! Kalo aku ngomong tuh gak pernah didenger! Nyebelin tauk!" Fira mulai manyun.

"Iya. Aku denger kok Fir apa yang kamu omongin! Tapi, masa iya aku musti seheboh itu ketemu Gusti?"

"Tapi kan seenggaknya kamu tanya-tanya tentang dia dong, Kareen! Rumahnya di mana?"

"Gak kefikiran tanya rumahnya sih Fir! Aku cuma tanya, dia makan apa kok bisa sepinter itu! Gitu!"

"Terus, dia jawab apa?"

"Dia selalu sarapan sama Tahu Mas Joko. Gitu katanya. Tapi, ah, kayaknya dia bohong deh Fir! Masa cuman sarapan sama tahu aja bisa bikin pinter!"

"Siapa Mas Joko?"

"Yang jual tahu deket rumahnya kali Fir," Kareen mengangkat kedua bahunya. "Tapi, Fir. Pas aku deketan sama Gusti tuh kok seragamnya kayak bau sabun colek gitu ya? Kecium banget pokoknya! Emang ada ya parfum wangi sabun colek?"

"Kok tau sih itu bau sabun colek? Kamu di rumah masih pake sabun colek ya nyucinya?" Fira mendelik nakal.

"Simbok kadang suka beli sabun colek. Suka ada tuh di tempat cucian. Tapi gak tau deh dia cuciin bajuku pake apa. Yang jelas bajuku gak bau sabun colek pas dipake!"

"Ya gak apa-apa lah Kareen! Orang Naysila Mirdad sama Lidya Kandow aja nyuci bajunya pake sabun colek kok!" seloroh Fira penuh percaya diri.

"Tau dari mana kamu Fir?"

"Itu di TV!"

"Emang dia ikut reality show gitu?"

"Kan ada iklannya, Kareen! Sabun colek Ekonomi gituan kalo gak salah. Itu ya bajunya Lidya Kandow zaman muda, masih bisa dipake sama Naysila pas udah dewasa. Itu karena dicucinya pake sabun colek ekonomi!" Fira menjelaskan penuh antusias.

"Idiiihhh..... korban iklan kamu mah Fir!" cibir Kareen langsung melanjutkan kegiatan membacanya.

Sementara itu. Di alam mimpi. Gusti berlari terseok-seok mengejar Bule yang berada di dalam kendaraan mewah. Bule sudah bertemu dengan Ibu kandungnya. Dan ternyata Bule merupakan anak dari keluarga yang kaya raya.

Mobil mewah itu terus melaju. Si pengemudi seolah tidak peduli terhadap Gusti yang terus saja berlari. Di dalamnya, Bule duduk bersama Ibu kandung dan juga seorang gadis yang wajahnya disamarkan. Gusti terus berlari sekuat tenaga hingga terjatuh.

Buuuukkkkk........

"Aaaawwwww......" Gusti meringis.

Kareen lekas menutup Novelnya. Ia terperanjat dan langsung menoleh ke sumber suara. Begitu pun Fira. Fira secara spontan langsung berdiri dan berlari ke pojokan kelas.

Fira menatap Gusti penuh iba. Sekaligus menahan ledak tawa yang hendak ia muntahkan.

"Gusti. Kamu kenapa? Lagi ngapain di situ?"

Fira mendekati Gusti yang masih dalam kondisi dada telungkup di lantai, namun kaki masih tersangkut pada kursi.

****
Bersambung yaaa........

Senin, 02 Februari 2015

PENYESALAN NONA WORTEL

Alkisah di sebuah Desa Permai. Hidup seorang Petani Wotel yang baik hati.
Musim kemarau Tahun ini begitu panjang dan berat. Desa Permai dilanda kekeringan yang sangat menyiksa. Semua sumur di Desa ini kering, begitu pun dengan satu-satunya sungai yang terdapat di Desa ini.
Pada suatu hari, seekor Kelinci betina mendatangi rumah Petani Wortel, Tn. Edd. Kelinci itu tengah kelaparan. Di rumah, 3 ekor anaknya menanti sang induk membawa pulang banyak makanan.
Kemarau panjang mengakibatkan tanah menjadi kering dan retak. Semua petani sayur dan buah mengalami gagal panen. Kecuali kebun wortel Tn. Edd yang tetap subur.
Tidak hanya itu, hewan ternak pun banyak yang mati kelaparan. Tidak ada yang bisa dimakan oleh penduduk Desa Permai. Sehingga banyak orang yang pergi meninggalkan Desa Permai.
Beberapa penduduk yang masih tinggal, meminta wortel pada Tn. Edd. Dan Tn. Edd merasa senang jika bisa membantu orang yang kesusahan.
Di kebun, tersisa satu wortel yang sengaja dibiarkan tumbuh oleh Tn. edd. Tn. Edd melarang siapa pun mengambil wortel itu.
"Kalian boleh mengambil wortel mana pun. Tapi jangan mengambil wortel yang di ujung sana. Dia wortel kesayanganku. Aku akan membiarkan dia tumbuh besar," ujar Tn. Edd setiap kali ada tetangga yang meminta wortelnya.
Sementara itu, induk kelinci melompat menghampiri Nn. Wortel.
"Hai Nn. Wortel, bolehkan aku meminta bantuanmu?" tanya induk kelinci.
"Bantuan apa Ny. Kelinci?"
"Anak-anakku sedang kelaparan. Kami butuh makan. Sementara di desa ini sudah tak ada tanaman yang bisa kami makan."
"Lalu apa yang bisa kulakukan untuk kalian?"
"Bolehkah aku mengambilmu Nona? Anak-anakku akan selamat jika aku membawamu pulang," pinta induk kelinci.
"Aku akan sangat bahagia jika bisa membantu kalian. Tapi kau perlu tahu Ny. Kelinci, di kebun ini dan bahkan di desa ini. Hanya tinggal aku satu-satunya Wortel yang tersisa. Pemilik kebun ini, Tn. Edd sengaja membiarkanku tumbuh besar. Aku ingin sekali membuatnya kenyang. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk dia, seperti apa yang selalu dia lakukan untuk tetangga-tetangganya," tutur Nn. Wortel.
"Aku terharu atas kesetiaanmu pada Tn. Edd. Semoga kau bisa memberikan yang terbaik untuk tuanmu itu Nona. Aku mungkin akan mencari makanan di desa lain. Berat rasanya meninggalkan anak-anakku dalam bahaya."
Induk Kelinci sangat menghargai kesetiaan Nn. Wortel. Dia pun melompat meninggalkan Nn. Wortel
dengan sedihnya.
"Tunggu Nyonya!" teriak Nn. Wortel.
Induk Kelinci berhenti melompat.
"Mengapa anda tidak meminta bantuan pada Tn. Cacing?" Nn. Wortel menunjuk Tn. Cacing yang sedang tertidur pulas di kejauhan.
"Tidak Nona. Tn. Cacing akan sangat berjasa menyuburkanmu! Tumbuhlah yang besar bersama Tn. Cacing!"
Ny. Kelinci kembali melompat. Tak lama kemudian, terdengar jeritan Ny. Kelinci.
Rupanya Tn. Edd menangkap Ny. Kelinci untuk menjadikannya santapan. Ny. Kelinci sudah tak bernyawa setelah pisau tajam Tn. Edd menyembelih lehernya.
Nn. Wortel merasa bersalah atas nasib yang menimpa Ny. Kelinci.
"Kalian pasti sangat kelaparan sekarang. Kalian pasti mengira Ibu kalian akan pulang membawa makanan. Oh Tuhan, mengapa Tn. Edd begitu tega? Andai saja aku dapat berjalan dan menemui kalian," gumam Nn. Wortel saat mengingat anak-anak Ny. Kelinci.
Hari-hari berlalu. Tubuh Nn. Wortel semakin lemah dan dipenuhi keriput. Tn. Edd tak juga menghampiri Nn. Wortel.
Tubuh besar Ny. Kelinci pasti cukup untuk makan Tn. Edd selama beberapa hari. Sehingga Tn. Edd tak perlu keluar rumah dan perlahan mulai melupakan Nn. Wortel.
Teriknya matahari semakin membuat tubuhnya tak berdaya. Seharusnya kini Nn. Wortel sudah mengenyangkan perut tuannya. Karena itulah satu-satunya alasan dia tumbuh.
Hari-hari dia lalui dengan perasaan bersalah dan penuh penyesalan. Nn. Wortel juga merasa dirinya tak berguna dan berharga. Bahkan Tn. Edd pun tidak menginginkan dirinya.
Tn. Cacing yang tadinya selalu menyuburkan tanah di kebun Tn. Edd kini hanya bisa tertegun melihat tubuh Nn. Wortel yang telah membusuk.
Perlahan-lahan, Tn. Cacing pun menggerogoti tubuh Nn. Wortel.
"Katamu, kau akan bahagia dan merasa berharga bila bisa mengenyangkan perut seseorang. Aku memang hanya seekor cacing. Tapi sebagai sahabatmu, aku akan membuatmu bahagia dan berharga. Meski berat rasanya menyantapmu. Selamat jalan Nn. Wortel."
Tn. Cacing meneteskan air mata saat menyantap tubuh Nn. Wortel.
****

Minggu, 13 Juli 2014

ELLIN DANIEL (Part 2)

Dia menatapku dengan emosi, dia tampak marah sekali. Dia seperti hantu dan membuatku takut saat dia berjalan semakin mendekatiku.
Tidak, dia melukai dirinya sendiri. Dia menggigit jarinya sendiri hingga...... mengeluarkan cairan berwarna kuning pekat, mengapa dia tidak berdarah?
Aaaarrrrgggghhh..... dengan seketika, dia juga menggigit jariku hingga berdarah. Aku benar-benar kesakitan, tapi aku mencoba menahannya saat dia terlihat ketakutan. Dia memaksaku untuk melihat cairan yang keluar dari jarinya. Dia seperti ingin menjelaskan padaku bahwa darahku dengan darahnya berbeda. Dia terlihat sangat ketakutan dan panik. Sama halnya dengan aku, dia telah membuat nyaliku ciut. Beruntung ini segera berakhir ketika Ny. Grace tiba-tiba berada di muka pintu.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak mamasuki ruangan ini. Tapi kau tidak menurutiku."
"A.....aku....aku hanya ingin tahu ada apa di ruangan ini. Dan ternyata kau menyembunyikan perempuan itu disini. Siapa dia? Kenapa dia seperti itu?"
"Berhentilah kau bicara! Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, dan kau obati lukamu itu sebelum terjadi infeksi!"
Ny. Grace merangkul perempuan itu seraya menenangkannya, tapi perempuan itu tetap terlihat ketakutan sambil menatapku.
Sejenak kulupakan rasa sakit di jariku, betapa herannya aku memikirkan perempuan itu. Tetap aku tidak bisa mengira-ngira siapa dia. Sisa malam ini ku habiskan dengan memikirkan hal itu, sama sekali tidak kurasakan kantuk.***
Kenapa pagi ini Ny. Grace tidak menyiapkan sarapan untukku. Apa dia masih marah padaku. Aku harus melihat perempuan itu lagi, aku ingin tahu keadaannya sekarang.
Ny. Grace terlihat ada di ruangan belakang, dan aku mendengarkan percakapannya dengan perempuan itu.
"Kau akan baik-baik saja saat ku tinggalkan. Aku yakin, adikmu itu tidak akan kembali menemuimu lagi. Dia pasti takut setelah kau menggigitnya semalam."
"Terimakasih Nek."
Apa maksud Ny. Grace dengan adik perempuan itu. Aku yakin semalam tidak ada orang yang dia gigit lagi selain aku. Kalaupun dia putri Bibi Tery, pasti dia memanggilku dengan sebutan kakak atau apapun itu.Dan kenapa pula dia memanggil Ny. Grace dengan sebutan Nenek? Apa sebegitu dekatnya dia dengan Ny. Grace sampai harus memanggil pembantu dengan sebutan Nenek. Oh Tuhan, apa yang terjadi di rumah ini......
"Sedang apa kau disini?" tiba-tiba Ny. Grace ada dihadapanku.
"Aku hanya ingin melihat keadaan dia, bagaimana dengan jarinya?"
"Dia sudah terbiasa dengan itu! Bagaimana dengan jarimu sendiri, sudah kau obati?"
"Sudah, tapi masih sakit. Apa dia cucumu?"
"Sudahlah. Lupakan itu dan jangan pernah ganggu dia."
"Tapi aku masih ingin bertanya padamu!"
"Apa kau tidak lapar? Aku harus segera menyiapkan sarapanmu!"
Ah, sial. Kenapa Ny. Grace tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Kenapa dia tidak pernah mau bercerita padaku.
Hari ini kuputuskan untuk menemui Tn. Jack meskipun ini bukan hari libur, aku berharap dia ada di rumahnya.
Dan setelah aku sampai di rumah Tn. Jack. Ternyata Tn. Jack tidak ada. Tapi aku sangat ingin bercerita padanya, aku benar-benar tidak punya teman disini. Malam kian larut, kulihat jam besar di Taman menunjukkan pukul 9 tepat. Tuhan tolonglah aku, kirimkan Tn. Jack untukku!
"Ellin, sedang apa kau?"
"Tn. Jack aku senang kau datang."
"Kau menungguku?"
"Dari tadi siang. Aku ingin bercerita padamu!"
"Selama itu kau menungguku?"
"Aku ingin bercerita padamu!"
"Baiklah, ayo masuk. Akan kubuatkan kau makan."
"Aku tidak ingin makan. Aku ingin bercerita, tolong dengarkan aku!"
"Tentu, aku akan mendengarkanmu. Ceritalah!"
Dan aku menceritakan kejadian semalam di ruangan belakang rumah Bibi Tery
"Tapi manusia tidak mungkin memiliki darah berwarna kuning."
"Apa dia monster?"
"Apa kau percaya dengan adanya monster?"
"Tidak"
"Kau harus mengambil sample darahnya. Nanti biar kuperiksakan darahnya di laboratorium."
"Baiklah, akan ku usahakan. Aku harus segera pulang."
"Perlu kuantar?"
"Tidak, terimakasih untuk semuanya."
"Aku akan selalu punya waktu untukmu. Kau bisa temui aku di tempat kerjaku."
"Baiklah"
Malam ini aku bertekad untuk mengambil
darah wanita itu. Syukurlah Ny. Grace tidak ada di kamar wanita aneh itu dan aku berharap mereka telah tertidur. Dan aku beruntung sekali ketika mendapati wanita itu tengah tertidur pulas. Dengan cepat aku menusukkan jarum yang diberikan Tn. Jack dan segera mengambil darah wanita itu beberapa cc. Wanita itu terbangun, mungkin dia merasa kesakitan dan aku berusaha untuk menenangkan dia agar tidak teriak histeris.
"Tenanglah aku hanya ingin menolongmu. Aku harus tahu, apa yang terjadi padamu. Mengapa darahmu berwarna kuning," dia hanya beriak kesakitan. "Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau dikurung disini?" sama sekali tak ada jawaban. Dia bergerak berusaha menunjuk sesuatu diatas meja. Aku mengambil buku yang ia tunjuk, sebuah buku harian. Aku yakin ini miliknya. Tapi aku harus segera pergi dari sini.
"Aku akan membacanya, dan akan segera mengembalikan buku ini padamu. Aku akan datang padamu dengan informasi mengenai darahmu ini, doakan aku agar bisa menemuimu lagi."
Aku merasa dekat dengannya. Sangat dekat. Betapa tidak inginnya aku meninggalkan dia. Begitu juga dengan dia, dia tetap memegangi lenganku saat aku beranjak meninggalkannya. Ya Tuhan, siapa sebenarnya wanita ini?
"Kenapa kau belum tidur?"
"Ah.....Bibi?" betapa kagetnya aku ketika Bibi Tery tiba-tiba ada didepan kamarku.
"Aku......aku hanya susah tidur."
"Apa yang kau pegang?"
"Oh, ini buku harianku."
"Baiklah, kau masuklah ke kamarmu!"
"Ya, aku akan langsung masuk ke kamarku."
Beruntunglah aku, Bibi tidak mencurigai aku. Aku harus segera tidur, agar besok pagi bisa menemui Tn. Jack sebelum dia pergi.
****
"Secepat ini kau dapatkan darahnya?"
"Ya, tidak sesulit yang kuduga."
"Baiklah, aku akan segera menelitinya. Kau tidak bohong, darahnya benar-benar kuning."
"Aku tidak pernah bohong Tn. Jack. Bolehkah aku diam di rumahmu siang ini? Aku butuh tempat untuk membaca buku ini."
"Tentu saja. Buku apa itu?"
"Ini buku harian wanita itu. Dia memberikannya padaku."
"Baiklah. Semoga kau dapat informasi dari buku itu. Aku harus pergi sekarang."
Wanita itu menulis:
~Namaku Anna Witch, tapi aku lebih suka bila namaku ANNA DANIEL
~Saat aku mulai bisa menulis, ibu tak ada di sampingku. Hanya ada Nenek Grace yang selalu menemaniku. Ini hari ulang tahunku dan Tuhan telah memberikan hadiah padaku. Aku memang tak seperti anak lainnya yang bisa bebas bermain di luar rumah. Kulitku akan terbakar sinar matahari jika aku keluar rumah. Tapi aku senang sekali, karena Nenek Grace membuatkan kue ulang tahun untukku. Dan hadiah terindah itu adalah kini aku mahir menulis.
~Ibu tidak pernah menganggapku ada. Mungkin dia malu memiliki anak sepertiku. Bukan kemauanku memiliki rupa seperti ini. Hatiku sangat sakit jika ibu mengatakan pada media bahwa dia tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Beruntung Nenek Grace selalu memberikan semangat padaku. Dialah yang mengajarkanku berbicara. Diusiaku yang ke -16, aku baru bisa berbicara pada Nenek Grace. Aku senang, meski pun masih terbata-bata.
~Nenek Grace terluka dan berdarah. Aku baru tahu bahwa darah manusia itu berwarna merah. Tapi mengapa setiap aku terluka, darahku selalu kuning. Aku ingin sekali memiliki darah berwarna merah.......
~Nenek Grace itu nenekku. Aku kira selama ini dia hanya seorang pekerja di rumah ibu. Nenek Grace bilang bahwa dia orang yang telah melahirkan ibu. Tapi karena ibu terlalu membencinya, jadi Nenek Grace tidak pernah mengatakannya pada ibu. Dan aku akan merahasiakan ini. Karena aku tidak mau sesuatu terjadi pada ibu dan Nenek Grace.
~Aku sangat sedih ketika nenek bercerita tentang hidupnya, tentang Ayah dan ibuku. Aku tidak percaya jika Ayahku itu adalah pamanku. Dulu nenek menitipkan Ayah dan Ibu pada temannya. Sedangkan teman nenek itu meninggal. Ayah dan ibu hanya hidup berdua sampai mereka dewasa. Dan mungkin keadaan itu yang membuat mereka saling mencintai hingga lahirlah aku dari pasangan kakak adik itu.
~Ibu menemuiku malam ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa aku kini bisa bicara dan menulis. Aku hanya bisa diam mendengarkan dia menangis. Ibu menangis, ibu sangat marah dan kesal pada Ayah. Ibu mengenang bagaimana dulu ia sakit hati atas keputusan Ayah. Ternyata Ayah lebih memilih wanita lain dan meninggalkan Ibu saat sedang mengandungku. Ayah tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Ibu, karena dia tahu hubungan itu tidak wajar. Mungkin Ayah bisa melupakan Ibu. Tapi Ibu tidak pernah bisa menghilangkan rasa cintanya pada Ayah. Itulah sebabnya
mengapa ibu lebih memilih sendiri. Dan tadi siang Ayah menemui Ibu. Ayah tidak sendiri, ayah datang bersama istrinya.
~Nenek bilang padaku bahwa Ayahku meninggal bersama isterinya karena kecelakaan saat pulang dari New York. Aku sangat sedih. Aku dan Nenek menangisi kepergiannya. Aku tidak punya kesempatan untuk melihat wajah ayahku seperti apa.
~Tetap saja darahku berwarna kuning. Aku sangat sedih karena aku berbeda dari manusia lain. Aku tidak peduli seberapa banyak luka di tubuhku. Aku hanya ingin darahku berwarna MERAH!!!
~Aku tidak tahu bahwa wanita yang kulukai semalam adalah adikku. Dia putri dari ayahku. Maafkan aku Ellin!!
Ya Tuhan inikah yang sebenarnya terjadi pada keluargaku. Wanita itu adalah Anna, kakak ku. Ayah dan Bibi Tery ternyata? Oh, dan Ny. Grace adalah nenekku? Mengapa aku tidak menyadarinya. Ny. Grace begitu menyayangi Anna dan meskipun dia keras padaku, dia tetap peduli padaku. Aku harus segera kembali ke rumah Bibi Tery.***
"Mengapa kau tidak kapok kembali ke tempat ini? Kau tidak mau digigit olehnya lagi kan?" Nenek Grace menghalangiku untuk masuk ke kamar Anna
"Dia tidak akan berani menyakitiku lagi, karena dia menyayangiku!" dan aku pun berhasil menerobos masuk ke kamar Anna. "Kaukah Anna kakakku? Kau saudaraku?" pertanyaan itu disambut dengan air mata haru dari mata Anna. Seakan menandakan kebahagiaan dan keberhasilan mengungkapkan kenyataan.
"Aku menyayangimu," hanya itu yang keluar dari bibir tipis Anna.
*******

Kamis, 13 Maret 2014

KUNTIL LINUX

Nah loh, malem Jumat Ngapain????

Kebetulan sekarang kan malem jumat. Gue nyoba bikin pelebaran dari Hantu Gangnam Style. Sekuat tenaga nyariin karib si Hantu Gangnam Style. Masih seputaran Hantu Unyu lah.....

Dapetlah ide, jreng jreng.....
Kakak sepupu gue yang entah dimana keberadaannya, hehe minta di bahasin tentang Tante K. What?? Tante K???? Sopo iki???
Oke, gue coba tebak. Mungkin K itu buat Kuetiaw? Atau Kajol? Atau Kribo? Atau Kasmaran? Atau Kuntil? What? Kuntil? Bisa jadi, bisa jadi. Tidaaaaak!!! Iyaaaaa!!! Bisa jadiiiii!!! Hehe

Oke, Fix gue bakal kenalin si Kuntil sama si Hantu Gangnam Style.

Gue kasi nama panjangnya Linux aja deh. Filosofi nya??? Well, mari ikut gue memperkenalkan si Kuntil.

Pada suatu masa di zamannya. Si Kuntil ini nih punya geng yang diberi nama The Linux. The Linux sendiri terdiri dari beberapa cewe bandel yang sulit dipastikan apakah dia cewe atau cowok? Mungkin Cewok?
Anggota The Linux bukan cewek biasa, melainkan perkumpulan cewek-cewek tomboy yang doyan ngotak-ngatik komputer. Mereka jago bikin program dan markasnya merupakan kios pinggir jalan yang juga sekalian buka service komputer. Hehe (ngasal banget nih bikin cerita)

Nah, pada suatu malem. Mereka yang rada brutal ini sepakat buat nyari makan. Dan targetnya adalah pohon rambutan milik Eyang Subur. Mereka naik satu persatu dengan perlahan. Memetik dan memakan buah rambutan sesuka hati tanpa minta izin dulu pada Eyang Subur.

Si Kuntil yang saat itu sangat sangat kelaparan. Tanpa sadar memakan rambutan tanpa membuka terlebih dulu kulitnya. Dia langsung memakan rambutan bulat-bulat. Lah emang rambutan wujudnya bulat kan? Ya agak sedikit lonjong deh. Ya, si Kuntil yang kelaparan pun langsung menelan rambutan itu. Lalu apa yang terjadi?

Rambutan yang masih utuh dengan cangkang berbulu juga semut-semut itemnya nyangkut di kerongkongan si Kuntil. Kontanlah si kuntil ga bisa bernafas karena jalan nafasnya tersumbat rambutan.

Matilah si kuntil di tempat saat itu juga. Nah, saat rohnya melayang-layang di udara, setelah beberapa lama kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Si Kuntil kebingungan dan bertanya-tanya.

Kenapa yang mati gue aja? Padahal gue belum makan rambutan satupun. Lah, temen gue ampe makan ratusan biji ko ga keselek?

Akhirnya Si kuntil tetap melanjutkan aksi mencuri rambutannya.
Dan sampe saat ini dia menjadi penghuni pohon rambutan. Ga ada yang bisa memetik buah rambutan setelah kejadian itu. Eng ing eng... begitulah kronologi kejadiannya. Ngasal amat.

By the way, setaunan yang lalu gue sama temen kost gue sering iseng metikin rambutan punya ibu kost. Tanpa minta izin dulu, hiyaaaahhhhh. Berdosa.... tapi ga apalah dosanya dibagi-bagi sama temen kantor. Hihi

Nah, back to Hantu Gangnam Style. Semoga dia bisa menerima kehadiran Si Kuntil Linux. Sukur-sukur kalo mereka jadian, terus kawin deh.......hehe

Minggu, 23 Februari 2014

ELLIN DANIEL (Part 1)

Aku memang masih muda, tapi aku satu-satunya wanita yang berhasil memecahkan lebih dari 10 kasus. Dua tahun bergabung di Agen 24, komunitas para Detective muda yang diselenggarakan Indonesia sebagai ajang pengembangan bakat The Young Detective. Keterlibatanku dalam Agen 24 hanyalah sekedar pelampiasanku terhadap kedua orangtuaku. Tom Daniel dan Selvy Midah adalah orangtuaku yang selalu menyembunyikan keberadaan keluarga mereka. Sembilan belas tahun aku hanya hidup dengan Ayah dan Ibu tanpa tahu keberadaan keluarga besar mereka. Aku selalu berusaha mencari tahu identitas yang sebenarnya tentang orangtuaku. Tapi mereka selalu menyembunyikannya dengan sempurna. Aku hanya ingin tahu siapa mereka sebenarnya, dimana Nenek, Kakek, Paman, Bibi, Sepupu. Agar jika orangtuaku tiada, aku masih memiliki keluarga.
*****
"Kau masih memiliki Bibi, tidak sulit mencari dia di New York sana," Tn. Tedi pengacara Ayah memulai percakapan.
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Dulu dia menyuruhku untuk memberitahukan hal ini."
"Kenapa setelah Ayah dan Ibu meninggal?"
"Entahlah, Bibimu Tery Witch. Seorang model, akan ku berikan alamatnya padamu. Ayahmu ingin mengirimmu ke sana jika dia telah meninggal. Dan sekarang saatnya kau tahu bahwa Tery Witch adalah adik dari Ayahmu."
" Bagaimana dengan keluarga Ibuku?"
"Mereka tidak akan menerimamu. Karena mereka sangat membenci Ayahmu."
"Dengan alasan apa?"
"Kau akan tahu setelah bertemu Tery Witch. Kau Agen 24, kau pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri."
"Kau akan ikut menemaniku? Aku baru mau 19 Tahun 3 bulan lagi."
"Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia. Kau anak pintar dan pemberani. Kau pasti bisa. Akan ku urus keberangkatanmu."
*****
New York
Akhirnya aku akan bertemu Bibiku. Bahasa Inggrisku memang tidak terlalu lancar, tapi akan kuusahakan, karena mungkin saja aku akan tinggal disini selamanya. Rumah Bibi Tery besar, menandakan bahwa Bibi adalah orang yang lebih dari berkecukupan. Sama saja dengan Ayah, yang menjadikanku seorang milioner muda dengan harta yang dia tinggalkan.
Pintu besar dengan ukiran bunga pun terbuka, seorang nenek muncul memandangiku sesaat.
"Ellin Daniel?"
"Ya."
Nenek itu merangkul tubuhku, ia menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan ku masuk. Apa mungkin dia Nenekku?
"Duduklah, tunggu sebentar. Akan ku ambilkan minum untukmu."
"Terimakasih."
Setelah beberapa lama Nenek itu meninggalkanku, muncul perempuan cantik mengenakan mini dress putih. Mungkin dia Bibiku yang seorang model itu.
"Ellin Daniel?"
"Ya aku. Apa kau Tery Witch?"
"Ya. Selamat datang di istanaku Ellin."
Beberapa saat nenek tadi muncul kembali dengan membawa minuman dan beberapa kue. Bibi Tery memperkenalkan nenek tersebut sebagai kepala rumah tangga. Ny. Grace.
"Aku harus pergi dan akan segera kembali, kau tunggu disini. Istirahatlah!"
Bibi Tery pergi bersama seorang pria yang menungguinya di mobil yang terparkir di luar gerbang. Mengapa Bibi Tery dingin sekali padaku, tidak sehangat sambutan Ny. Grace. Tidak ada pelukan dari seorang Bibi yang merindukan keponakannya.
"Aku akan pergi ke dapur, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
"Baiklah. Terima kasih Ny. Grace."
Dari air mukanya, Ny. Grace seperti mencemaskan aku. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dan apakah Bibi Tery tidak menikah? Mengapa rumah besarnya ini sepi sekali.
Malam kian larut, Ny. Grace tidak kelihatan lagi. Aku mulai merasakan takut di rumah ini, mungkin sebaiknya aku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Siapa tahu aku bisa bertanya tentang Bibi Tery pada tetangga.
"Kau mau kemana Ellin?" Bibi Tery tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
"Tidak perlu. Ini sudah malam. Kau tidurlah, masuk ke kamarmu."
Ny. Grace muncul bersamaan dengan kedatangan Bibi Tery. Dia sangat tergesa-gesa, seperti tidak ingin membiarkan aku berduaan dengan Bibiku sendiri.
"Ikuti aku agar kau sampai di kamarmu!" Aku mengikuti langkah Ny. Grace, kami melewati tangga untuk sampai ke lantai 2.
"Apa Bibi Tery mabuk? Kenapa tadi kau meninggalkanku sendirian Ny. Grace?"
"Ini kamarmu. Semoga tidurmu nyenyak Ellin."
"Apa Bibi Tery mabuk? Apa dia selalu seperti itu?"
"Sebaiknya kau tidur sekarang."
"Ny. Grace! Jawab aku!"
"Tidurlah sekarang Ellin!" Ny. Grace pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.
Sebenarnya siapa Bibi Tery? Apa dia benar-benar adik ayahku? Malam ini aku tidak bisa tidur. Otakku berputar memikirkan apa yang terjadi di rumah ini. Ny. Grace seakan menyembunyikan sesuatu. Aku harus tahu kenapa keluarga Ibu membenci Ayah.
******
Pagi ini aku harus berhasil menanyakan tentang Ayah pada Bibi Tery.
"Ny. Grace, apa BibiTery belum bangun?"
"Dia sudah pergi."
"Kapan dia pulang?"
"Entahlah. Kau makan saja. Aku harus pergi."
"Kau akan meninggalkanku sendirian lagi seperti kemarin? Apa di rumah ini tidak ada orang lain selain aku, kau dan Bibi Tery? Apa Bibi Tery tidak menikah?"
"Aku akan meninggalkanmu sendiri agar kau tidak banyak bertanya!"
"Ny. Grace kau marah padaku?"
"Maafkan aku Ellin, aku hanya..... ah sudahlah," Ny. Grace lagi-lagi meninggalkanku sendiri.
Sebenarnya pergi kemana Ny. Grace. Di dapur dan disekeliling rumah ini tak kujumpai Ny. Grace. Ah, lebih baik aku jalan-jalan saja. Akan ku jelajahi tempat tinggalku yang baru ini. Tunggu, tapi aku tak yakin akan betah tinggal bersama Bibi Tery. Bahkan sepertinya dia tidak peduli padaku . Dan sangat diragukan kalau dia benar-benar menyayangiku.
Aku pun berjalan meninggalkan rumah Bibi Tery, tidak jauh aku melihat taman yang cukup besar. Aku memilih untuk duduk di bangku kayu yang menghadap ke jalan raya.
"Hai, apa kau orang asing?" tiba-tiba seorang bapak duduk di sampingku. Dia tampak rapi dengan kemeja warna putih dan kaca matanya. Aku seperti melihat Tn. Tedi pengacara Ayah.
"Aku dari Indonesia. Aku tinggal bersama Bibiku disini. Namaku Ellin Daniel."
"Aku Jack Marrow. Senang berkenalan denganmu. Berapa usiamu?"
"Sembilan belas. Tn. jack apa kau mengenal Tery Witch?"
"Aku tidak kenal, tapi aku tahu dia seorang model terkenal."
"Dia Bibiku."
"Benarkah? Kau tinggal di rumah mewah itu?"
"Ya. Tapi aku tidak suka tinggal disana."
"Kenapa?"
"Sepertinya Bibiku tak menyukaiku."
Akupun menceritakan tentang kehidupanku. Tentang keterlibatanku di Agen 24. Tentang orang tuaku dan pertemuanku dengan Bibi Tery. Entah kenapa aku begitu bersemangat menceritakan kisah hidupku pada Tn. Jack. Orangtuaku saja tidak pernah mau mendengarkan ceritaku. Berbeda dengan Tn. jack yang begitu antusias mendengarkan kisahku. Aku hanya berharap Tn. Jack bukan orang jahat.
"Mungkin Bibimu belum terbiasa dengan keberadaanmu. Kau tunggu saja."
"Tapi aku susah untuk bisa bertemu dengannya. Dia tidak punya waktu untukku."
"Kau tau dia seorang model, pasti sibuk. Kau mau main ke rumahku?"
"Tidak, terimakasih. Aku harus pulang."
"Baiklah. Aku juga harus pulang. Kau lihat rumah yang diseberang sana?"
"Cat putih?"
"Ya, itu rumahku. Kau boleh main ke sana. Tapi hanya hari libur saja aku ada di rumah."
"Kau kerja dimana?"
"Rumah sakit. Ini kartu namaku."
Aku senang sekali bisa mengenal Tn. Jack. Setidaknnya di kota ini masih ada yang bisa aku ajak bicara. Lebih baik aku segera pulang, siapa tahu Bibi Tery sudah ada di rumah.**
"Ny Grace!!! Bibi Tery!!! Apa kalian ada dirumah?"
Kenapa tidak ada yang menjawab. Sebenernya kemana Ny. Grace, dia jarang terlihat di rumah ini. Sebenernya mereka ini kenapa, tidak pernah mempedulikan aku.
Aku pun mengintari rumah Bibi Tery. Tunggu, itu kan Ny. Grace, sedang apa dia disana? Kenapa aku baru tahu ada rumah kecil di belakang rumah Bibi Tery? Apa mungkin itu kamar Ny. Grace?
"Ny. Grace. Apa ini ruanganmu?"
"Haaaahh. Kau. Mau apa kau kemari?" Kenapa Ny. Grace begitu ketakutan seperti itu, dia panik dan gugup.
"Ny. Grace ada apa di dalam sana?"
"Kau tidak perlu tahu! Bibimu akan marah jika kau masuk ke dalam."
"Tapi kau membuatku curiga. Kalian semua aneh! Seperti ada yang kalian sembunyikan dariku!"
"Jangan lancang kau! Aku tidak seperti yang kau kira. Aku hanya berusaha mengabdikan diri pada Bibimu!" Kudengar ada suara benda bergesek dari dalam ruangan.
"Suara apa di dalam?" tanyaku penasaran.
"Bukan suara apa-apa!" Jawab Ny. Grace ketus.
"Di dalam pasti ada orang! Aku harus masuk!" Aku berusaha menerobos tubuh besar Ny. Grace
"Tidak! Percayalah padaku! Jika kau punya hati, ku mohon jangan biarkan Bibimu memecatku hanya karena kau masuk ke dalam!" Ny. Grace sangat memohon padaku. Ada apa sebenarnya di ruangan itu? Tapi aku tidak tega jika Ny. Grace harus diberhentikan karena keegoisanku.
"Baik. Kali ini aku tidak akan memaksa. Tapi aku Agen 24, profesiku adalah seorang detektif. Aku akan mencari tahu yang sebenarnya."
"Semoga kau mengetahui semuanya. Aku akan selalu mendoakanmu."
Aku benar-benat tidak habis fikir. Kenapa Ny. Grace begitu takut pada Bibi Tery. Di samping itu aku bisa merasakan, kalau Ny. Grace mengkhawatirkanku.
Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Berkeliaran sendiri di kota ini. Tujuanku ke New York untuk menemui keluargaku, Bibi Tery. Tapi kenapa dia tidak menganggapku ada. Aku tidak akan pulang jika belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku harus mencari tahu ada apa di ruangan belakang.***
Tidak semudah yang kuduga. Semua pintu terkunci. Dan aku harus membuka beberapa pintu untuk sampai ke ruangan itu. Mudah-mudahan Ny. Grace sudah terlelap. Bukan Agen 24 kalau aku tidak bisa menyelinap seperti penjahat dan membuka pintu-pintu yang terkunci. Aku hampir berhasil membuka pintu ruangan rahasia ini, ya aku berhasil. Oh, Tuhan, ini kamar. Kamar yang besar. Tampak seperti kamar seorang wanita. Apa ini kamar Bibi Tery. Tapi setahuku, kamar Bibi Tery di lantai atas.
Siapa yang tidur disana. Seperti perempuan muda. Lebih muda dari Bibi Tery. Ya ampun, ini bukan Bibi Tery, juga bukan Ny. Grace. Mengapa aku sampai tidak tahu ada perempuan muda yang tinggal di rumah ini. Oh, Tuhan, dia tebangun dan melihatku, apa yang harus kulakukan. Tidak, dia tidak seperti manusia biasa. Dia seperti hantu. Kulitnya putih, seperti kapas, tidak ada sedikitpun warna hitam di bagian tubuhnya. Kecuali retina yang berwarna coklat pudar yang hampir tak terlihat.
*****

Kamis, 19 Desember 2013

HANTU GANGNAM STYLE

Ehemm.... Sekarang bertepatan dengan Malem Jum'at. Sebenernya sama aja sih sama malem-malem laennya. Cuman, katanya lebih serem dari Malem Minggu. Tunggu, siapa yang bilang Malem Minggu serem? Mmmmm..... mungkin yang bilang, para Jomblo tingkat internasional kali ya. Kaya gue. Hehe
Terlepas dari Jomblo atau enggaknya gue. Mari kita tinggalkan sub pokok bahasan di atas dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan. Agar kita tidak terjerumus pada lembah surganya dunia. Yang lumpurnya bisa menghisap dan melenyapkan siapapun yang iseng mencelupkan jempol kakinya ke lembah itu. Sudah. Sekarang mari kita benar-benar meninggalkan bahasan tersebut.
Malem Jum'at ngapain???
Jangan balik tanya gue, karena sudah sangat pasti gue lagi bertapa di kamar yang penerangan lampunya cukup. Cukup bikin ngantuk, maksud gue, hehe.
Malem ini sebenernya gue lagi ga punya ide buat nulis, apalagi bikin cerpen cinta. Cuman ya ga apa-apalah gue ngotorin RUMAH WORTEL. Mumpung lagi waras dan tiba-tiba inget kejadian 10 Bulan lalu. Dimana, pada suatu malam, di sebuah rumah petak sewaan, yang ga mewah dan ga terlalu sederhana pula, selepas magrib setelah hujan mengguyur kota Purwakarta.
Ya, dulu gue pernah kost di Purwakarta. Abis baca Yasin. Gue iseng melongo ke luar pintu, berharap bisa liat bulan purnama yang dikelilingin bintang kejora. Dasar gue emang ga tau diri, mana ada bintang kalo cuacanya lagi gerimis begitu.
Gue pun balik lagi ke dalem kamar yang ga dihuni oleh gue seorang. Ada satu temen gue yang inisialnya Fitri. Lupa deh kejadian detilnya kaya apa. Yang jelas tiba-tiba aja kita bahas Hantu Malem Jum'at.
Semua hantu gue sebutin dengan tanpa ngebayangin wujudnya. Dari mulai Pocong, Kuntilanak, Gunderewo, Tuyul, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Mak lampir, dan yang terakhir Hantu Gangnam Style. Entah atas dasar apa gue nyebut tu hantu. Tiba-tiba aja sosoknya mengelebat depan fikiran gue.
Dan makhluk halusinasi ciptaan gue itu ga ada nyereminnya barang sedikitpun. Lo bayangin aja, tu hantu jalannya kaya lagi nunggang kuda, pake kostum pocong pula. Hebat kan?
Yang jelas, buat malem jum'at berikutnya. Gue sama temen kost gue gak lepas dari ngebahas Hantu Gangnam Style. Emang ga ada lucu-lucunya sih. Tapi gue belum mau berusaha atau mencari pembahasan Hantu Unyu yang lainnya. Kalaupun ada, gue ga mau tau dan ga mesti tau.
Dan malem ini. Malem jum'at. Malemnya Hantu Gangnam Style berkeluyuran nyari temen duet. Gue harap dia udah ga seagresif dan seposesif dulu. Mudah-mudahan dia ngikutin saran gue buat belajar dansa atau balet, biar ritmenya ga terlalu bikin pinggang encok.
Apapun tulisan gue ini, bagaimanapun tanggapan kalian tentang Hantu Gangnam Style ataupun Gue. Kali ini gue bener-bener ngerasa kalo gue lagi terkena sindrome Gaje Otak. Yaitu suatu kondisi dimana apa yang diperintahkan oleh otak pada syaraf motorik gue lagi Gak Jelas.
Ya sudahlah. Berhubung malem kian dewasa, juga mata gue yang udah ga bisa di ganjel pake kayu gelondongan sekalipun. Gue cukupkan sekian dan terimakasih buat malem ini. Selamat malam dan selamat berdansa dengan Hantu Gangnam Style.
~Vh~

Senin, 18 November 2013

CINTA ITU SABAR


“Amara please lo jangan tolak cinta Gue”

“Amara, gue cinta banget sama lo! Lo mau ya jadi pacar gue?”

“Amara kamu mau jadi pacar aku?”

“Apa yang lo minta bakal gue kasih! Asalkan lo jadi pacar gua Amara….”

Danil, Erlangga, Nicki, febri ato siapapun nama mereka, uda di tolak mentah-mentah sama Amara, Amara Cuma bisa nyengir dan ngusir mereka jauh-jauh dari depan mukanya. Tanpa basa-basi lagi Amara langsung bilang “Sorry gue ga suka sama Lo!”

Harta, popularitas atau apapun itu gak lantas buat Amara nerima cowok-cowok kurang kerjaan itu, meskipun Amara jutek dan rada galak tapi cowok-cowok kurang kerjaan itu gak pernah kehabisan ide buat bikin hati Amara kelepek-kelepek.

Hari senin seusai upacara bendera tiba-tiba Amara pingsan. Kontan cowok-cowok kurang kerjaan itu rebutan nolongin Amara. Entah itu beneran nolong atau Cuma sekedar cari perhatian aja, gak ada yang bisa dipercaya. Tapi ada satu cowok yang dengan sigap bawa Amara ke UKS.

“Amara….Lo ga kenapa-napa kan? Lo bikin gue khawatir!” Rintih Nadin, sahabat dekat Amara saat Amara tersadar.

“Huusstt, gue cuma belum sarapan, don’t cry baby!” seru Amara nenangin Nadin yang terisak-isak. “Ngomong-ngomong, siapa yang ngangkut gue ke sini? Jangan bilang salah satu dari cowok-cowok kurang kerjaan itu yang ngangkut gue!”

“Tegar yang gendong Lo kesini. Lo mau dibeliin makan apa? Gue beliin ya?”

“O, Tegar, sampein makasi ya Nad. Ga usah Nad, gue ga mau repotin Lo.”

Sebenernya Amara seneng banget, ternyata yang gendong dia ke UKS Tegar, cowok yang selama ini dia cintai. Tapi kalo inget kenyataannya Tegar pacaran sama Nadin, Amara Cuma bisa nahan perasaan bahagianya itu.

“Amara, Lo ngelamunin apa?” Sahut Nadin membuyarkan lamunan Amara.

“Tegar.” Seru Amara spontan, tanpa sadar Amara udah bikin Nadin kebingungan. “Maksud gue, Tegar hebat bisa ngangkut badan gue yang segini gedenya. Hahaha” Tapi lelucon Amara gak bikin Nadin berhenti membuat Lipatan ombak di keningnya.

“Ra, Lo gak suka sama Tegar kan?” Nadin mulai serius dan membuat Amara salah tingkah.

“Gak mungkin lah gue suka sama Cowok Lo! Ngarang! “ Kilah Amara.

“Lo yakin Ra? Lo sedikit pun gak punya perasaan apa-apa sama Tegar?”

“Come on Nad, gak mungkin gue suka sama cowok Lo! Lo sahabat terbaik gue, ayolah….jangan pernah bikin pertanyaan yang gak masuk akal lagi, ok honey!”

Kejadian di UKS pagi ini bikin Amara shock, apalagi setelah Nadin nanyain perasaan Amara pada Tegar. Amara menyesal udah bohongin Nadin dan perasaannya sendiri. Sepanjang jam sekolah berlangsung Nadin masih menampakan wajah kusutnya. Amara gak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berpura-pura gak menyadari keadaan sahabatnya itu. Amara takut jika Nadin menyadari perasaan yang ia punya pada Tegar. Bakal kaya gimana persahabatan mereka kalau Nadin tahu Amara sangat mencintai Tegar.

Seusai sekolah, saat Amara berjalan kaki menuju rumahnya, tiba-tiba Tegar berdiri dan berjalan mengiringi Amara. Aliran darah Amara mengalir begitu deras, begitu juga dengan detak jantungnya, tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan terasa begitu tak berdaya.

“Lo masih sakit Ra?” Tegar menempelkan kelima jari tangannya pada kening Amara dan membuat Amara semakin lemah tak berdaya.

“Eng,,, engga, Cuma capek aja kali.”

“Ko bisa sich cewek seangkuh Lo pingsan?”

“Angkuh? Jadi Lo nganggap gue angkuh?”

“Yup! Dengan semua sikap Lo ke cowok-cowok yang udah Lo tolak itu. Menurut gue sich Lo angkuh Ra!”

“Gue gak angkuh! Gue Cuma gak bisa terima mereka! Gue, gue suka…. Sama… seseorang… “ Seru Amara gugup.

“Siapa Ra?” pertanyaan itu membuat Amara tersentak dan berfikir seratus kali lebih cepat untuk mengarang alibi.

“Itu,,, dia,,, Lo gak bakal kenal dia ko!”

“Berarti bukan anak sekolahan kita dong! Tapi gue saranin Lo jangan terlalu jutek sama mereka Ra! Tolak mereka dengan cara baik-baik ok!”

“Yes, ok.”. gumam Amara.

Hari berikutnya di sekolah, Amara berusaha menjalankan saran dari Tegar. Bahkan setiap rayuan dari cowok-cowok kurang kerjaan itu ia ladeni. Mungkin perubahan Amara buat cowok-cowok kurang kerjaan itu suatu hal yang luar biasa. Tapi enggak buat Nadin, Nadin merasa Mual melihat tingkah Amara yang seperti gak ada harga dirinya itu.
 
“Are you fine Amara?” Seru Nadin sambil membubarkan cowok-cowok kurang kerjaan yang mengelilingi meja tempat ia dan Amara duduk.

“Tentu” Singkat Amara. “Nick nanti sore jadi ya temenin gue ke Toko Buku!” Teriak Amara sambil melambaikan tangan kanannya pada cowok berambut ikal bernama Nicki.

“Helloooo…. Amara Lo serius mau jalan sama Nicki? Ra Lo kesambet setan apa?” Seru Nadin sambil menepuk-nepuk pipi Amara.

“Doi cakep! Tajir! Kurang apa coba?” jelas Amara. “Apalagi Nicki mobilnya keren!” Lanjutnya.
Penjelasan Amara Cuma bikin Nadin tambah mual dan muak pada Amara. Disatu sisi Amara pengen ngilangin kecurigaan Nadin terhadap perasaannya pada Tegar, tapi Amara merasa sangat bersalah udah bohongin Nadin. Amara dan Nadin bersahabat sejak SMP, perbedaan sifat yang mereka miliki bikin mereka saling melengkapi satu sama lain. Amara yang jutek dan galak bisa melindungi Nadin yang manja dan gampang nangis.

Lagi-lagi Tegar udah ada di samping Amara, mereka jalan bersama, karena rumah mereka satu arah.

“Lo kenapa Ra? Tadi Nadin nangis.” Tegar memulai pembicaraan.
 
“Lo ko jalan kaki terus Gar, kaya hantu lagi tiba-tiba nongol gitu aja!” Seru Amara mengalihkan pembicaraan.

“Lo kenapa udah bikin Nadin nangis?” Kata Tegar lebih galak dan serius.

“Gue gak bikin Nadin nangis ko, emang nangis kenapa?”

“Lo sahabat macam apa sich Ra! Nadin gak suka sama sikap Lo hari ini! Harusnya Lo nyadar Ra!” Jelas Tegar dengan nada tinggi “Lo harusnya bisa jaga perasaan Nadin! Jangan bikin dia nangis!” Sambung Tegar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Amara menghentikan langkahnya dan menatap mata Tegar dalam-dalam, tanpa sadar butiran air mata udah membajiri pipi Amara. Dalam hati Amara berfikir betapa Tegar mencintai Nadin, sampai Tegar membentak Amara seperti itu, lalu bagaimana dengan rasa cinta yang Amara miliki buat Tegar. Dalam benaknya Amara merasa gak punya kesempatan buat memiliki Tegar, perasaan yang dia miliki buat Tegar gak mungkin terbalas.

“Lo ko nangis Ra?” Tanya Tegar lembut.

“Sumpah. Gue. Benci sama Lo! Gue benci sama Lo! Benciiiii!!!” Amara berlari meninggalkan Tegar dengan hati yang berkeping. Tidak ada gunanya lagi meneruskan perasaan cintanya pada Tegar, karena Amara sadar bahwa Tegar sangat mencintai Nadin, sahabatnya yang manja itu. Bukan hanya itu, Amara sakit hati karena cowok yang sangat ia cintai tega membentaknya.

Pagi-pagi di sekolah, Nadin menghampiri Amara dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ra, Lo kenapa? Lo kenapa berubah? Lo kenapa jadi gini Ra?” Seru Nadin pada sahabatnya itu. Tapi Amara sedikitpun gak menghiraukan keberadaan Nadin. “Tegar bilang Lo kemaren nangis? Lo kenapa gak cerita sama gue Ra?” Sambung Nadin.

“Bukan urusan Lo!” Bentak Amara.

“Lo marah sama gue? Gue punya salah apa sama Lo Ra?” Tangis Nadin lebih menjadi. “Cowok yang Lo suka bukan Tegar kan Ra?” Sambung Nadin.

“Heh Nad! Ini bukan urusan Lo! Bilang juga sama cowok Lo, jangan pernah bentak orang lain yang gak tau apa-apa!” Jelas Amara yang langsung menyeret tasnya keluar kelas.
 
“Amara, gue minta maaf! Maafin Tegar juga!”

“Gue, Benci Lo berdua! Lo, Tegar! Gue benci kalian!” Teriak Amara di ambang pintu kelasnya.
Nadin semakin terpukul dengan ucapan Amara, kata BENCI yang terlontar dari mulut Amara udah tercerna dan mengalir ke seluruh tubuh dan otaknya. Sahabat terdekatnya dengan mudah mengatakan kata Benci padanya, Nadin gak bisa menguasai kesedihan yang ia rasakan, hingga pada akhirnya Nadin pingsan.

Di lain tempat, Amara hanya bisa menangis. Membayangkan betapa Tegar sangat mencintai Nadin, begitu memperhatikan Nadin, sementara sikap Tegar kemarin membuatnya sakit hati. Dilain hati Amara merasa bersalah pada Nadin, ia merasa sangat mementingkan perasaannya sendiri, jika saja Nadin tau dirinya mencintai Tegar, Nadin pasti akan sangat terluka. Amara menimbang-nimbang perasaannya, perasaan sayangnya pada Nadin, perasaan cintanya pada Tegar. Ia mencoba mengontrol emosinya, menata langkah mana yang harus diambilnya.

Hari berikutnya di sekolah, Tegar mendatangi Amara saat kelas masih sepi. Amara menyadari kedatangan Tegar, tapi pandangan Amara tetap tertuju pada layar ponsel yang ia genggam.
 
“Kita perlu bicara Ra!” Ungkap Tegar menarik lengan Amara.

“Kemaren gue bikin cewek Lo nangis! Lo kesini mau bentak gue lagi? Hah?”

“Bukan itu masalahnya Ra!” jelas Tegar. Amara Cuma menatap wajah Tegar dengan sinis dan penuh emosi, mungkin buat saat ini Amara melupakan rasa cintanya pada Tegar.

“Gue minta Lo pergi dari hadapan gue! Sekarang!” Bentak Amara.

“Nadin sakit Ra! Lo harus liat dia! Dia butuh Lo!” Seru Tegar meninggalkan kelas Amara.

Nadin sakit, batin Amara terus terusik oleh dua kata itu, Amara merasa bersalah, dia gak pernah bertengkar sehebat ini dengan Nadin, apalagi sampai Nadin jatuh sakit, kali ini Amara sudah keterlaluan. Sepulang sekolah Amara bertekad untuk meminta maaf pada Nadin, sekalian menengok cewek manja yang masih ia anggap sebagai sahabat itu.

Tanpa canggung lagi Amara langsung menaiki anak tangga menuju kamar Nadin, langkah Amara terhenti saat mendengar isak tangis dari dalam kamar Nadin. Samar-samar Amara mendengar percakapan Nadin dengan seseorang di balik pintu kamar Nadin, dan orang itu adalah Tegar.

“Sampai kapanpun, aku bakal selalu sayang sama kamu Nad, aku gak peduli seberapa banyak rintangannya, aku bakal selalu cinta sama kamu.” Seru Tegar.

“Jangan! Aku gak mau nyakitin Amara, aku gak mau persahabatan aku sama Amara berantakan. Aku yakin, kalo Amara suka sama kamu Gar. Kamu bisa cari cewek lain yang lebih baik dari aku.” Jelas Nadin dengan isak tangis yang makin keras.

“Aku bakal nunggu sampe Amara lupain aku dan dia jatuh cinta sama cowok lain. Biar kita bisa bersama lagi Nad.”

“Apa kita bakal kuat? Apa kamu bakal tetap mencintai aku? Kalo Amara gak bisa lupain kamu gimana?”

“Kenapa kamu jadi pesimis Nad! Kita berharap yang terbaik buat kita aja! Ok! Gak ada alasan lain, selamanya aku bakal mencintai kamu Nad!”

Mendengar perbincangan Nadin dan Tegar, Amara mutusin buat pergi dan gak nemuin Nadin. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Amara menangis, betapa Nadin menyayanginya, demi dirinya Nadin lebih rela berpisah dengan Tegar. Amara mencoba mengingat perjalanan hidupnya bersama Nadin, sejak mereka berkenalan, Nadin selalu baik dan mengalah pada Amara, selalu mengalah. Dan untuk kali ini,keputusan Amara udah bulat, jika selama ini Nadin yang selalu mengalah, kenapa Amara gak bisa mengalah untuk sahabatnya itu.

Esok hari di sekolah, Amara udah liat sosok Nadin duduk di kursinya dengan senyuman termanisnya. Amara sangat bahagia melihat sahabatnya udah sembuh, tanpa pikir panjang Amara berlari menghambur kearah Nadin dan memeluknya erat.

“Nad, gue suka sama Tegar. Tapi Lo jangan putus sama Tegar gara-gara gue Nad!”

“Gue udah ambil keputusan Ra! Kita gak mungkin mencintai cowok yang sama!”

“Kenapa Nad! Gue mohon, Lo jangan putus sama Tegar! Gue mau Lo bahagia Nad! Gue gak apa-apa!”

“Lo gak bisa maksa Gue Ra, Gue udah gak punya hubungan apa-apa sama Tegar. Kita coba cari cowok lain, cowok yang berbeda!”

“Maafin gue Nad, Gue egois. Gue akan berusaha buat lupain Tegar, demi Lo!”

Mungkin usaha Amara buat lupain Tegar butuh waktu yang lama. Selama Amara belum bisa lupain Tegar, Nadin dan Tegar gak akan bersatu. Kini Amara terang-terangan nunjukin perasaan sukanya sama Tegar pad Nadin, bahkan Nadin kini lebih sering godain Amara. Mereka masih mencintai cowok yang sama.

“Ra, Tegar liatin Lo tuch!” Goda Nadin
 
“Doi kan cinta mati sama Lo Nad! Tapi hari ini Doi cakep buanget Nad.”

“Siapa tau sekarang Doi naksir Lo Ra.”

“Ntar Lo sakit hati Nad kalo Gue sama Doi jadian.”

“Gue kan pernah ngerasain jadi pacar Doi Ra.”

“Bukannya kita mesti nyari cowok yang beda Nad. Kenapa merhatiin Doi terus?”

“Haha, kita hunting cowok lain yuck!”

“Ayo…hahaha.”

Mereka tertawa bersama di kantin sekolah, kini Amara, Nadin dan Tegar memendam perasaan mereka sendiri-sendiri. Amara berusaha keras melupakan cintanya pada Tegar. Sementara nadin dan Tegar tetap menjaga hati mereka dan menunggu Amara mencintai cowok lain agar mereka bias bersama lagi.