Selasa, 08 November 2016

The Kids From Yesterday




Well now this could be the last of all the rides we take
So hold on tight and don't look back
We don't care about the message or the rules they make
We'll find you when the sun goes black
.....
All the cameras watch the accidents and stars you hate
They only care if you can bleed
Does the television make you feel the pills you ate?
Or every person that you need to be
.....
Here we are and we won't stop breathing
Yell it out 'till your heart stops beating
We are the kids from yesterday, today

Lagu The Kids From Yesterday milik My Chemical Romance mengalun indah di telinga gue. Malam ini gue naik bis terakhir. Trans Metro Bandung alias DAMRI jurusan Kota Baru Parahyangan ~ Alun-alun Bandung via Pasteur.
Seharian gue bareng teman sekantor habis membedah Trans Studio Bandung. Indoor Theme Park besar yang berhasil bikin dua kaki gue misah-misuh. Ya, secapek-capeknya abis maen, tetap aja puas lah. Gak semua wahana gue coba sih. Ada sebagian yang karena beberapa faktor dan hasil pertimbangan yang matang, gue mutusin buat gak naik wahana tersebut.
Misalnya seperti Vertigo dan Giant Swing. Dua-duanya hampir sama. Diombang-ambing sekaligus dijungkel-jungkelin. Selain gue harus mempertahankan jantung gue yang pasti bakal ser-seran, gue juga harus memperhatikan kepala gue yang pusing biar tetap utuh menempel pada leher. Pada keadaan seperti itu gue merasa bingung harus memprioritaskan yang mana dulu. Apakah jantung. Atau kepala. Akhirnya... gue putuskan untuk tidak menaiki keduanya. Entahlah, padahal waktu di Dufan gue naik segala macam wahana.
Sementara faktor lainnya, itu karena antrian panjang yang bikin gue males buat ikut-ikutan ngantri. Capek. Pegel kaki. Akhirnya gue mutusin buat gak terjun, terlibat dan berkecimpung dalam beberapa wahana.
So, wahana yang gue naikin / masukin itu cuma Yamaha Racing Coaster, Negeri Raksasa, Jelajah, Sky Pirates, Dunia Lain, Kong Climb, Dragon Rider, The Ocean dan terakhir Si Bolang Adventure. Cuman sedikit ternyata. Tapi ya sudahlah.
Yang palling seru menurut gue itu Negeri Raksasa, sekelas Hysteria di Dufan. Cuma naik turun gitu doang sih emang, tapi edannn itu berasa mau mati. Jatoh dari gedung tinggi aja gue rasa kecepatannya gak akan sedahsyat itu. Lo bayangin deh! Lo jatuh dari gedung tinggi dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Jantung gue berasa ketinggalan di atas kepala. Napas gue berasa berhenti seketika. Perut, tangan dan kaki gue kram. Yang gue bisa cuma megap-megap doang. Serius! Huuuhh.... emang dasar gue cemen sih orangnya. Naik wahana kek gitu aja lebay...
Tapi. Apapun dan bagaimana pun. Terimakasih banyak untuk Melinda Hospital yang sudah memberi tiket gratis buat main di TSB. Yap, setidaknya gue dan teman-teman gue merasa senang dan melupakan sejenak penat kami. Menjadi seperti anak nakal, bodoh dan tak mengacuhkan sekitar.


'Cause you only live forever in the lights you make
When we were young we used to say
That you only hear the music when your heart begins to break
Now we are the kids from yesterday
We are the kids from yesterday
We are the kids from yesterday
We are the kids from yesterday
Today, today..........
            Lagu berhenti ketika Bis mulai melaju meninggalkan Alu-alun Bandung. Gue memilih duduk tepat di belakang Bapak Sopir. Malam ini Bis hanya ditumpangi oleh 3 orang: gue, seorang laki-laki muda dan seorang Mbak berjilbab. Hanya kami bertiga yang dipilih Tuhan untuk menemani Bapak Sopir malam ini.
            Di atas sana gelap. Bintang tertutup awan cumulonimbus. Yang pasti, seharian tadi memang hujan telah mengguyur Kota Kembang. Dan saat ini pun di luar sana masih gerimis. Yup. Gerimis. Malam. Dingin. Sendiri. Sepi. Musik. Lelah. Huuuhhhh.....gue cuma bisa menyatukan beberapa komponen tersebut agar bisa memberikan keindahan yang harmonis. Satu-satunya cara yang praktis adalah menikmati momen ini dengan khidmat. Dan gue selalu menyukai momen-momen kaya gini. Sepiiii..... saatnya untuk menjernihkan pikiran. Saatnya untuk tak memperdulikan manusia sekitar gue. Saatnya untuk melamunkan sesuatu yang akan gue capai. Bye....Makasi sudah berkenan mampir ke Rumah Wortel gue.

Kamis, 25 Agustus 2016

Agustus Jelimet.....

Hai, halooooo.....?

Ehmm. Mungkin postingan saya kali ini lebih ke menyampaikan curahan hati kali ya. Entahlah. Bisa jadi saya bakal menyisipkan cerita fiksi di tengah atau di akhir. Soalnya saya pengen kaya Raditya Dika yang mampu mengumbar pengalaman dan aib hidupnya. Aib? Tunggu, untuk hal yang satu itu mungkin bakal saya simpen aja sendiri. Gak baik kan mengumbar aib sendiri, apalagi kalo sampe mengumbar aib orang.

Bulan ini cukup berat buat saya. Agustus, njelimet. Rasanya saya hidup gak hidup gitu di bulan ini. Kaki serasa melayang-layang, gak napak. Saya harus memastikan berkali-kali, apakah saya masih hidup atau sudah jadi Kuntil. Dan saya menjadi lebih sering bercermin akhir-akhir ini. Saya takut bayangan saya menghilang ketika bercermin. Tapi, syukur. Alhamdulillah saya masih nyata. Efih masih nyata! Hidupnya bukan fiksi. Ajiiaaahhhhh....

Part I
Siapa pun yang kedapatan singgah dan berkunjung ke Rumah Wortel. Mungkin ada beberapa yang mengenali cerpen saya yang berjudul Janji Terakhir. Cerpen tersebut berhasil dimuat di gen22.net yang diurus oleh Mas Lukas Gentara. Tahun 2012 cerpen tersebut diposting dan berhasil menjaring banyak pembaca. Kalo gak salah berhasil juga mengumpulkan ribuan like oleh pengguna Facebook. Dan ada beberapa yang membagikan dan memposting di blog pribadinya.

Saya senang. Untuk pertama kalinya karya saya dibaca oleh banyak orang, di berbagai belahan Indonesia. Karya yang menurut saya biasa saja, terdapat banyak salah penulisannya, lebay, kaya cerita sinetron itu mendapatkan banyak tanggapan baik dari pembaca. Banyak juga pembaca yang nangis bombay setelah baca cerpen tersebut. Maaf....ya....

Gegara kisah Nilam dan Elga juga, saya jadi punya banyak teman dari berbagai suku. Inbox di Fb saya penuh oleh pertanyaan-pertanyaan soal Nilam dan Elga.

Saya tegaskan, Janji Terakhir bukanlah pengalaman pribadi saya, itu murni hasil imajinasi saya.  Tokoh Elga hanya terinspirasi dari masa lalu saya. Seseorang yang namanya hampir sama. Kamu tahu, setelah Janji Terakhir banyak pembacanya, saya berusaha untuk mencari tahu mantan saya. Menghilangkan gengsi saya untuk memastikan dia baik-baik saja. Dan alhamdulillah dia sehat wal'afiat. Masih dengan sifat yang sama seperti dulu. Saya rasa, dia hanya sedang berkelana mencari seseorang yang dianggapnya pas untuk dijadikan yang terakhir. *Ohok, kalimat terakhir tak usah diambil hati.

Untuk Nilam. Dia sama sekali bukan saya. Kami sangat-sangat jauh berbeda. Saya gak selemah Nilam. Dan saya bukan orang yang mengutamakan "kekasih" di atas segalanya.

Kisah mereka ditutup oleh kematian Elga (Ini yang bikin saya khawatir sama mantan)  dan Nilam yang depresi. Ya, seharusnya seperti itu! Namun ada beberapa orang yang meng-copasnya dengan mengganti jalan ceritanya. Dengan kata-kata yang sama seperti yang saya buat, ada yang mengganti endingnya. Ada yang mengganti sudut pandangnya. Ada juga yang hanya mengganti nama tokohnya. Lalu mereka posting begitu saja tanpa mencantumkan nama saya. Seolah-olah cerpen itu mereka sendiri yang buat. Huuuuuuffttt.... sakit tauk! Rasanya digituin.

Saya gak bisa berbuat apa-apa. Ditegur? Please deh itu kasusnya udah lama, lagian gimana cara ngomongnya??? Saya cuma bisa teriak-teriak sendiri. Oy....napa cerpen butut gue yang lo plagiat???? rrrrrggggghhhh KEZEL.....ZEBEL.....

Part II
Ssshhh. Masalah plagiat belum kelar. Saya yang gemar memperhatikan tingkah manusia, dibuat repot oleh intuisi saya sendiri. Minggu kemarin, perhatian saya benar-benar tersedot pada satu orang. Saya tau apa yang sedang dia rasakan. Dan keegoisan saya telah berhasil menambah masalahnya menjadi lebih berat, mungkin. Saya sendiri merasa sangat kacau. Kacau yang benar-benar kacau.

Sesuatu yang tersembunyi, begitu mudah saya baca. Saya senang menganalisa manusia. Menyelami hati dan pikirannya. Menerka-nerka apa yang sekiranya sedang terjadi dalam hidupnya. Saya senang membaca karakter manusia. Membaca kebiasaannya. Membaca suasana hatinya. Dari gerakan tubuh, sorot mata, gerak bibir, nada bicara, jeda ketika berbicara, mimik wajah. Saya selalu menangkap informasi yang berlebihan dari diri manusia.

Saya lelah. Ketika saya harus ikut merasakan perasaan orang lain. Saya harus tau siapa saja orang yang tidak menyukai saya. Meski, seringnya saya selalu berpura-pura untuk tidak peduli. Saya berusaha untuk tidak melihatnya, saya menghindar.

Saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Cuma itu yang bisa saya katakan. Saya hanya ingin semuanya baik-baik saja. Semuanya bahagia. Jangan ada kesakitan. Jangan ada ketakutan. Jangan ada perselisihan. Mungkin itu sangat sulit. Saya hanya bisa berharap.

Ending.....
Setelah mendekatkan diri terhadap yang Maha pengasih. Akhirnya saya mendapat ketenangan. Saya maafkan mereka yang telah mencontek cerpen saya. Cerpen saya yang gak seberapa itu mungkin cukup memenuhi syarat untuk diplagiat. Itu artinya mereka yang memplagiat, menyukai karya saya. Yeeee....anggap saja karya saya itu bagus. Dan untuk masalah yang kedua. Saya berhasil berdamai dengan hati saya. Menerima segala apa yang terbaca. Berusaha menolong apa yang bisa saya tolong. Hmmm, saya hanya ingin mendamaikan dan menceriakan Indonesia. Itu saja.

Mas'alah itu selalu datang bawa temannya. Mbak'alah. Mungkin coretan saya ini gak akan secetar coretan Raditya Dika. Tapi ampun deh, yang penting sama-sama berbagi pengalaman. Yups, sekian dari saya. Terimakasih banyak buat yang udah kadung baca postingan ini sampai akhir. Pesannya..... mungkin ya... jangan pernah nyimpen masalah sendirian. Hey, sekecil apapun masalah yang kamu sembunyikan, itu tuh dadamu bakal sesak, tauk! Coba ngobrol sama keluarga atau teman. Biar pun mereka gak bisa kasih solusi. Seenggaknya, dadamu gak akan terlalu sesak. Dan jangan sampai kamu curhat sama rumput yang bergoyang. Karena nanti kamu bisa dianggap gila. Ups.

Terimakasih sudah baca.....

Sabtu, 06 Agustus 2016

KERTAS REMAS : IMPAS

“Lu gak mandi lagi?” Ami nuduh gue dan mulai menjauh.
“Enak aja! Gue wangi gini dibilang gak mandi! Nih cium nih! Wangi tau!” Gue nyodorin badan gue ke lubang idung Ami.
“Wangi sih wangi! Lu ngabisin minyak wangi brapa liter Ngek?”
“Cuma 3 kali semprot! Ketiak kiri, ketiak kanan, leher!”
“Tetep aja lu gak mandi, ya kan?”
“Emang yang bilang gue mandi siapa? Cicek yang nempel di dinding rumahnya Pak RT juga tau pagi ini gue gak mandi!”
“Tukaaaann! Jauh-jauh dari gue lu Ngek!”
“Emang gue mau deket-deket sama lu? Idih...kepedean lu!”
Gue pun ngibrit ninggalin Ami. Melewati kebun jangung milik tetangga, gang senggol, kuburan, kebun brokoli, gang senggol (lagi), halaman rumah orang, gang senggol (lagi dan lagi), jalan raya, kemudian gue nyebrang dengan melirik ke kiri dan ke kanan terlebih dulu, lalu gue menoleh ke belakang. Ami hilang.
Mi...., Mi...., badan lu tuh sama gedenya kaya Appa (Bison terbang milik Aang yang digunakan sebagai alat transportasi di film Avatar The Legend of Aang) tapi kecepatan jalan lu kok kaya Gary (Siput malas dan manja milik SpongeBob). Sekarang mana coba? Batang idung lu belum keliatan dalam radius 2 km. Yaahhh...daripada repot mikirin Ami, mending kita kenalan.
Ok. Nama gue Asma. Asma Humaira. Gue bercita-cita pengen jadi penulis terkenal kaya Mbak Asma Nadia. Karena nama gue sama kaya Mbak Asma, jadi gue rasa gue bisa lah ya jadi Penulis beken kaya beliau. Gue bikin banyak novel, dan novel-novel gue diangkat jadi film layar lebar. Gue juga bikin skenario sinetron yang tayang di TV swasta terkenal sampe ribuan episode. Puisi dan cerpen gue dimuat diberbagai media cetak. Gue ngadain pelatihan menulis di berbagai kota. Gue diundang sebagai tamu di acara-acara seminar kepenulisan. Gue jadi seorang motivator buat remaja-remaja yang baru belajar menulis. Gue ngadain bedah buku di Gramedia dan ternyata tiba-tiba temen-temen gue pada dateng buat minta tanda tangan sama foto bareng gue. Wueeehhh.....keren pokoknya. Asma Humaira, seorang penulis jenius yang karyanya sudah gak bisa dihitung lagi yang ternyata masih jomblo. Ayo, siapa pun, yang jauh mendekat, yang dekat merapat, Asma masih jomblo. Ayo yang mau....yang mauuuu... (eh dikira gue baju obralan apa?)
Namun sayang, nama gue yang cantik itu dirusak begitu saja sama temen-temen di kampus gue. Asma dalam bahasa Arab yang berarti mulia atau tinggi. Ternyata dalam bahasa Yunani ἅσθμα ásthma “terengah" merupakan peradangan kronis yang umum terjadi pada saluran napas yang ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel, dan spasme bronkus. Gejala umum meliputi mengi, batuk, dada terasa berat, dan sesak napas (Ini dicopas dari wikipedia). Diperpendek menjadi Bengek. Jadilah gue dipanggil Bengek sama anak-anak di kampus. Biar pun gak suka sama nama panggilan itu, entah kenapa gue selalu nyaut aja kalo ada yang manggil gue Ngek. Ngek, Ngek, Ngek. Kaya suara biola sumbang amang pengamen yang ada di lampu merah dr. Djunjunan.
“Ngek! Hhhhffff....lu ko hhhhhffff....ninggalin gue?” Ami hinggap di tanah di hadapan gue dengan napas terengah dan keliatan kecapean banget.
Malang. Ami telat 15 menit dari gue. Padahal dia baru mandi, tapi bau keringetnya udah kecium dari jarak semeter. Padahal ini masih pagi. Padahal ini di Cisarua, Lembang. Padahal udara di sini dingin. Padahal matahari ketutup kabut. Padahal harusnya Ami enggak berkeringet. Padahal selari-larinya Ami, tetep aja kecepatannya gak akan ngalahin jalannya Gary siput punya SpongeBob. Padahal matahari gak nongol, kok keringet Ami bau anyir matahari?
“Mi. Lu yang sabar ya!?” Gue sedikit prihatin atas nasib malang Ami dan mencoba mengelus-elus bahu Ami.
“Emang hhhfff....semenyedihkan gitu ya hhhhffff..... gue?” Ami menghempaskan lengan gue ampe copot dan loncat-loncat di tanah (kaya ekor cecak yang lepas dan klepak-klepek di lantai).
“Hhhmmm. Yup. Gue rasa gitu Mi. Pokoknya lu yang sabar ya. Hidup lu emang harus kaya gitu kali Mi! Lu gendut! Biarpun lu mandi sabunan, luluran 12 Jam per hari tetep aja. Dibawa lari dikit, badan lu bau anyir! Setan Mujair yang ada di badan lu kayaknya bangkit lagi Mi!” Gue nyoba ngelus lagi bahu Ami.
“Anjir, hhhhffff ...emang udah kecium ya? Yaaahhh. Hadeuh... hhhfff....hhhff...Ngek gue boleh hhhhffff....jujur gak?”
Ami mulai masang tampang serius. Gue curiga dia bakal ngomongin sesuatu yang penting. Tapi gue harap dia bakal bilang kalo dia abis menang lotre seratus perakan yang dibeli di warung Bu Eti. Kemaren Ami beli 20 lotre. Cuma keluar duit dua rebu perak dan Ami berharap bisa dapetin hadiah penghangat ruangan, selimut penghangat elektrik, atau tiket masuk Trans Studio atau dibebasin bayar uang sewa rumah petak. What? Ami kulitnya aja udah setebel kulit Paus Sperma. Belum lemak sama dagingnya yang tebelnya gak kira-kira. Kok bisa masih ngerasain dingin? Dan kalo tiket masuk Trans Studio itu Ami optimis bakal dapet 2 tiket, ntar dia bakal ngajak gue katanya. Tapi masa sih? Kan kemaren Ami barengan gue pas bukain kertas lotrenya. Gak ada hadiah yang begituan tuh. Malah si Ami Cuma dapet tulisan SILAKAN COBA LAGI EAAA....
“Jujur apa emang? Lu mau bilang kalo lu suka sama gue Mi? Idih amit-amit dah, mending lu gak usah suka sama gue.”
“Sssshhh. Berisik lu! Eh tapi jangan bilang-bilang ya! Jangan ngetawain gue! Jangan ngatain gue! Janji?” pinta Ami yang dengan paksa langsung melingkarkan jari kelingking tangan kanannya ke jari kelingking kaki kiri gue. (gimana cara?)
“Hhhm. Aku janji padamu, sayang....” gue ngangguk mantap dengan sedikit manja.
“Najis ih! Eh, lu mau denger enggak?”
“Iya! Buruan! Apa?”
“Sebenernya..... Ngek ya gue tuh itu... gue....”
“Lu beneran suka sama gue Mi? Tapi gue lebih suka sama Deddy Corbuzier, sorry I don’t love you, Babe.”
“Elu ya! Canda mulu! Gue juga gak mandi tauuukkk....”
Ami harusnya dikasi nama Humaira sama Mamanya. Karena pada kenyataannya yang pipinya sering merah merona itu Ami. Jujur itu emang menyakitkan Mi, dan harusnya tadi lu gak usah so’soan ngatain gue jorok mandi. Ini Cisarua Lembang. Udaranya meski tengah hari juga kerasa dingin. Dan air di sini yang bersumber langsung dari mata air pengunungan, meski udah lu tampung di bak selama dua hari juga tetep aja berasa air kulkas dinginnya. Makanya dalam seumur hidup gue, baru kali ini gue mutusin buat melaksanakan mandi 3 hari sekali. Sisanya Cuma diseka sekenanya aja pake aer anget segayung yang gue tadahin dari kran dispenser.
“Oh. Bwwhaaaaaa haaaaaaaa haaaaaaa.......” akhirnya gue gak bisa nampung ledakan tawa yang gue persembahkan buat Ami.
“Lu katanya janji Ngek? Ingkar lu Ngek! Gak usah ktawa lu!”
******




Sabtu, 21 Mei 2016

Lo pernah siap mati buat seseorang?



Lo pernah siap mati buat seseorang?Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang? Lo pernah siap mati buat seseorang?Lo pernah? Siap mati? Buat seseorang? Mati? Mati buat seseorang? Buat seseorang?Mati?


Pertanyaan Bong pada Elektra di novel Supernova: PETIR yang baru saja gue baca terus berlarian di dalem kepala gue. Sebelum melanjutkan membaca kata berikutnya, sejenak gue berpikir. Diam sesaat. Mematung. Bagai manekin yang dipajang di toko-toko busana yang hanya bisa melotot tanpa bisa berkedip dan merem. Bisa tersenyum tapi bibirnya gak bisa balik normal lagi. Tersenyum meski ditelanjangi. Terus tersenyum meski tangannya patah. Meski tubuhnya mulai keropos dan berlubang. Meski yang tersisa hanya kepalanya saja. Atau meski seluruh tubuhnya yang sudah termutilasi itu telah berada di dalam gerobak tukang sampah keliling. Dia tetap tersenyum. Diam. Tak bergerak. Sungguh ironis.

Gue tertegun sejenak. SANGAT sejenak. Namun cukup untuk merunut kisah hidup si Manekin itu hingga akhir hanyatnya. Dan cukup untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Bong terhadap Elektra. Padahal sumpah, Bong itu hanya seorang tokoh dari buah imajinasi Dee. Dewi Lestari, sang penulis novel Supernova yang ajaib itu. Dan gak mungkin Bong bakalan tiba-tiba dateng ke hadapan gue buat nanyain “Lo pernah siap mati buat seseorang, Fih?”.

Ok. Terlepas dari kisah hidup si Manekin yang menyedihkan itu. Gue diam, gak bergerak, namun otak gue tetap bekerja. Berpikir. Menunggu saraf-saraf berpikir gue menghantarkan rangsangnya. Kemudian, setelah proses njelimet yang gak terlalu lama itu, muncullah ide. Ide berupa jawaban dari pertanyaan si Bong sialan itu.

Gue dengan tegas meneriaki si Bong.

Gue pernah rela mati buat seseorang!!!!!

Ya. Rela mati untuk seseorang. Bukan pernah lagi. Tapi SERING. Gue sering bilang dalem hati kalau gue rela mati buat seseorang. RELA. Bukan SIAP. Karena memang pada kenyataannya emang gue belum siap untuk mati sekarang. Saat ini juga. Lain cerita kalau keadaannya benar-benar mendesak. Sangat mendesak hingga gue harus mati saat ini juga. Hingga gue harus benar-benar bernegosiasi dengan Malaikat Izrail. Meminta padanya untuk mencabut nyawa gue aja, jangan nyawa seseorang itu.

Tapi apa bisa? Gue tawar menawar dengan Malaikat Izrail? Bahkan kapan, di mana dan bagaimana gue mati aja semuanya udah di tulis di kitab Lauhul Mahfudz. Sekali pun gue merelakan nyawa gue, misalnya menolong seseorang yang kepeleset dari puncak Mahameru. Gue berusaha ikutan lompat buat nangkap dia dan nyelametin dia. Gue dan orang yang gue tolong itu sama-sama ngegelinding sampe bawah. Sama-sama terluka. Sama-sama patah kaki. Tulang-tulang remuk. Jantung ketusuk ranting. Dan luka gue bahkan lebih parah dari dia. Tapi kalau takdir menuliskan gue belum mati saat itu, ya gue gak akan mati.

Tapi, tunggu. Gue rasa Bong gak butuh jawaban serumit itu deh. Masalahnya Elektra cuman jawab “Belum, kayaknya...” udah, segitu doang jawaban Elektra.

Dan apa coba tanggapan Bong sama jawaban Elektra? Begini: “Bagus. Lebih bagus jangan...kalau ada apa-apa dengan mereka, kita bakal merasakan dua kali lipatnya. Mereka bahagia, kita lebih bahagia. Mereka merana, kita lebih-lebih lagi kayak tahi...”

Well. Bong Cuma nanya kesiapan gue doang kan? Siap mati buat seseorang? Tapi gue rasa pertanyaan Bong itu serupa kiasan doang! Kaya basa basi busuk doang. Jadi gak perlu diambil pusing. Itu kan cuma novel. Fiksi. Cuma fiksi Fih!

Tapi, sel-sel kecil di otak gue berkata lain. mereka malah bekerja keras buat terus memikirkan dan merenungkan pertanyaan itu. Mereka mencari-cari jawaban untuk menyesuaikan apa yang ada di hati, isi kepala sama apa yang gue mau. Mereka terus saja mencocok-cocokkan. Keluar masuk ruang ganti dengan 1.000 jawaban berbeda. Dan akhirnya...

Dan akhirnya gue mendapatkan jawaban terbaik. Jawaban yang gue rasa paling bijaksana dan cocok buat gue.

Gue siap Bong! Gue siap mati buat Mama gue! Buat Bapak gue! Buat Adek gue! Gue siap mati buat mereka! Siap! 100% Siap! Kalau pun musti mati sekarang, gue siap! Gue siap menukar nyawa gue untuk mereka! Asalkan mereka tetap hidup. Tetap sehat dan bahagia. Gue siap Bong! SIIIIIIIAAAAPPPPPPPP!

Semoga jawaban gue tersebut bisa didengar atau terbaca oleh Bong.


Minggu, 20 Desember 2015

YANG TERLEWATKAN



Di dunia ini semuanya berpasangan. Ada siang-malam, kaya-miskin, tua-muda, sehat-sakit, pria-wanita, hidup-mati. Mati? Siapa yang menginginkan hal itu? bahkan kematian dianggap oleh hampir seluruh makhluk yang bernyawa sebagai momok yang menakutkan.
*****
Ketika aku duduk di bangku SMP, aku berkenalan dengan seorang pria bernama Pras. Usianya lebih tua satu tahun dariku. Kami bersekolah di tempat yang berbeda. Tak dibutuhkan waktu lama, kami menyepakati untuk menjalin suatu hubungan yang disebut pacaran.

Kami memang berbeda sekolah. Namun kami selalu menghabiskan waktu bersama. Ya, selalu bersama. Mulai dari pergi dan pulang sekolah bersama. Melewati waktu liburan bersama dan bahkan aku tidak segan untuk berkunjung ke rumahnya, bertemu keluarganya begitu pun sebaliknya. Dua tahun kami menjalani hubungan yang nyaris tidak pernah pudar. Meksipun usia kami masih sangat belia, namun cinta kami tak perlu diragukan lagi.

Hingga suatu saat ketika sedang bersama, tiba-tiba Pras muntah darah di hadapanku. Aku kaget bukan main. Tangisku tumpah setelah mengetahui Pras divonis terserang TBC. Mulai saat itu aku berjanji akan selalu menemaninya. Selalu membuatnya tertawa dan bahagia.

Namun semuanya perlahan berubah ketika aku menginjak kelas 2 SMA. Aku harus menerima kenyataan bahwa Pras kini benar-benar telah berbeda. Perhatiannya berkurang, jarang menghubungiku dan jarang menemuiku. Bukan hanya aku saja yang merasakan perubahan yang terjadi pad Pras. Sahabat-sahabatku juga menyadarinya.

“Sari, pacarmu gak pernah kelihatan. Gak pernah antar jemput kamu lagi. Kalian baik-baik saja kan?”

Sementara aku hanya bisa diam dikala diberondongi pertanyaan semacam itu. ingin rasanya aku menjawab hubunganku baik-baik saja. Tapi aku tak mampu menutupi kegelisahan yang mendera hatiku.

Kegelisanhanku memuncak ketika aku melihat Pras sedang berduaan dengan seorang wanita. Aku tak bisa menghakimi Pras atau menuduhnya macam-macam. Karena sama sekali aku belum mendengar penjelasan dari Pras. Mungkin saja wanita itu teman Pras. Ya, aku berusaha untuk tidak berpikir negatif terhadap Pras. Namun hatiku tetap hancur. Ketika berusaha menghubungi Pras. Bukan Pras yang mengangkat telefonku. Tetapi perempuan. Selang dua hari setelah kejadian itu, Pras datang menemuiku, memutuskanku dan membenarkan kecurigaanku. Pras mengakui bahwa dia telah berselingkuh.


Awalnya aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kita harus berpisah. Tapi dengan berjalannya waktu, aku pun terbiasa hidup tanpa Pras. Aku merelakan Pras, asalkan dia bahagia. *****



Satu tahun berlalu, aku tetap menjalani hidupku secara normal. Aku tahu saat ini Pras mengambil kuliah di Jakarta. Meskipun kami sempat berpapasan, tapi Pras sama sekali tak menyapaku. Begitu mudahnya ia melupakanku, melupakan semua kenangan tentang kita. Sementara aku, tetap saja menaruh harapan pada pria itu.

Tiba-tiba Ibu Pras menghubungiku, memberi tahu keadaan Pras. Katanya Pras selalu bercerita tentang aku, tentang rindunya padaku. Pras takut jika aku membencinya karena kesalahannya tempo dulu. Dan kini keadaan Pras sudah semakin parah. Bahkan meludah pun sudah berdarah.

Pras menghubungiku. Dia menanyakan kabarku. Ia mengabariku akan pergi ke Jakarta minggu sore. Dia ingin sekali bertemu denganku dan memintaku untuk mengantarnya ke Stasiun. Dan aku pun mengamini permintaan Pras.

Sore itu aku pergi ke rumah Pras. Aku bertemu dengan Ibunya Pras. Masih seperti dulu. Ia masih ramah dan memperlakukan aku dengan hangat.


“Sari. Ayo masuk, sayang,” ajaknya mempersilahkan. “Sari mau kan bahagiain Pras?” lanjutnya lirih.

“Tapi Sari bisa apa Bu?” tanyaku balik.

“Tolong turuti permintaan Pras ya. Ibu mohon, Sari!”

“Iya Bu, sebisa Sari ya.”
*****

Saat itu di stasiun tak begitu ramai, kami duduk berdua di kursi tunggu.

“Sari, kamu pasti membenciku. Tapi apa selama ini kamu pernah merindukanku?”

“Aku gak membencimu, dan aku juga gak merindukanmu Pras,” jawabku, dan Pras hanya mendunduk.


“Maafkan aku Sari. Maafkan kesalahanku. Maaf, aku telah menyakiti perasaanmu,” katanya.

Pras memutar lagu Naff – Masih Kekasihku. Dia terus meminta maaf padaku. Dan Kereta menuju Jakarta tiba bersamaan dengan berakhirnya lagu yang diputar oleh Pras.


Sebelum Pras pergi, ia memelukku begitu erat.

“Aku rindu kamu Sari. Rindu banget,” bisiknya di telingaku. Lalu Pras mencium keningku dan berlalu memasuki kereta. *****

Satu bulan berlalu, tak ada kabar tentang Pras. Dan kurasa itu sudah lumrah dalam hidupku. Tapi entah perasaan apa yang menguasai hati dan pikiranku. Aku benar-benar merindukannya.

Hari ini tepat tanggal 25 Desember 2011. Ibu Pras menghubungiku. Ia mengatakan bahwa Pras telah berpulang ke rumah abadinya. Harusnya aku tak kaget mendengar kenyataan ini. Bahkan aku telah mengetahui kemungkinan yang akan terjadi pada Pras. Tentang kondisi Pras. Tentang masa depannya. Semua telah dijelaskan oleh Dokter waktu itu.

Air mataku tak terbendung lagi. Aku tak bisa membuat Pras bahagia. Bahkan aku tak sempat menyampaikan rinduku padanya. Aku benar-benar terpukul. Meski kita sudah tak bersama lagi, tapi cintaku pada pras masih tersimpan utuh di tempatnya. *****

Tak ada yang abadi di belahan bumi manapun. Minggu, 25 Desember 2011. Satu roh meninggalkan jasadnya. Terbang melayang bersama puluhan, ratusan, ribuan atau mungkin jutaan roh lainnya. Menyatu bersama udara, melintasi lapisan langit dan siap untuk disidang oleh sang Pencipta. Hidayat Prasmintoro. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untukmu di Surga.
*****
·