Minggu, 13 Juli 2014

ELLIN DANIEL (Part 2)

Dia menatapku dengan emosi, dia tampak marah sekali, bola matanya putih semua. Dia seperti hantu dan membuatku takut saat dia berjalan semakin mendekatiku.

Tidak, dia melukai dirinya sendiri. Dia menggigit jarinya sendiri hingga...... mengeluarkan cairan berwarna kuning, mengapa dia tidak berdarah?
Aaaarrrrgggghhh..... dengan seketika, dia juga menggigit jariku hingga berdarah. Aku benar-benar kesakitan, tapi aku mencoba menahannya saat dia terlihat ketakutan. Dia memaksaku untuk melihat cairan yang keluar dari jarinya, dia seperti ingin menjelaskan padaku bahwa darahku dengan darahnya berbeda. Dia terlihat sangat ketakutan dan panik. Sama halnya dengan aku, dia telah membuat nyaliku ciut. Beruntung ini segera berakhir ketika Ny. Grace tiba-tiba berada di muka pintu.

"Aku sudah bilang padamu untuk tidak mamasuki ruangan ini. Tapi kau tidak menurutiku."
"A.....aku....aku hanya ingin tahu ada apa di ruangan ini. Dan ternyata kau menyembunyikan perempuan itu disini. Siapa dia? Kenapa dia seperti itu?"
"Berhentilah kau bicara! Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, dan kau obati lukamu itu sebelum terjadi infeksi!"
Ny. Grace merangkul perempuan itu seraya menenangkannya, tapi perempuan itu tetap terlihat ketakutan sambil menatapku.

Sejenak kulupakan rasa sakit di jariku, betapa herannya aku memikirkan perempuan itu, tetap aku tidak bisa mengira-ngira siapa dia. Sisa malam ini ku habiskan dengan memikirkan hal itu, sama sekali tidak kurasakan kantuk.***

Kenapa pagi ini Ny. Grace tidak menyiapkan sarapan untukku. Apa dia masih marah padaku. Aku harus melihat perempuan itu lagi, aku ingin tahu keadaannya sekarang.
Ny. Grace terlihat ada di ruangan itu, dan aku mendengarkan percakapannya dengan perempuan itu.
"Kau akan baik-baik saja saat ku tinggalkan. Aku yakin, adikmu itu tidak akan kembali menemuimu lagi. Dia pasti takut setelah kau gigit dia semalam."
"Terimakasih Nek."
Apa maksud Ny. Grace dengan adik perempuan itu. Aku yakin semalam tidak ada orang yang dia gigit lagi selain aku. Kalaupun dia putri Bibi Tery, pasti dia memanggilku dengan sebutan kakak.Tapi kenapa dia memanggil Ny. Grace Nenek, apa begitu dekatnya dia pada Ny. Grace sampai harus memanggil pembantu dengan sebutan Nenek. Oh Tuhan, apa yang terjadi di rumah ini......
"Sedang apa kau disini?" Tiba-tiba Ny. Grace ada dihadapanku.
"Aku hanya ingin melihat keadaan dia, bagaimana dengan jarinya."
"Dia sudah terbiasa dengan itu! Bagaimana dengan jarimu sendiri, sudah kau obati?"
"Sudah, tapi masih sakit. Apa dia cucumu?"
"Sudahlah. Lupakan itu dan jangan pernah ganggu dia."
"Tapi aku masih ingin bertanya padamu!"
"Apa kau tidak lapar? Aku harus segera menyiapkan sarapanmu!"
Ah, sial. Kenapa Ny. Grace tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Kenapa dia tidak pernah mau bercerita padaku.
Hari ini kuputuskan untuk menemui Tn. Jack meskipun ini bukan hari libur, aku berharap dia ada di rumahnya.

Ya Tuhan, Tn. Jack tidak ada di rumahnya. Tapi aku sangat ingin bercerita padanya, aku benar-benar tidak punya teman disini. Malam kian larut, kulihat jam besar di Taman menunjukkan pukul 9 tepat. Tuhan tolonglah aku, kirimkan Tn. Jack untukku!
"Ellin, sedang apa kau?"
"Tn. Jack aku senang kau datang."
"Kau menungguku?"
"Dari tadi siang. Aku ingin bercerita padamu!"
"Selama itu kau menungguku?"
"Aku ingin bercerita padamu!"
"Baiklah, ayo masuk. Akan kubuatkan kau makan."
"Aku tidak ingin makan. Aku ingin bercerita, tolong dengarkan aku!"
"Tentu, aku akan mendengarkanmu. Ceritalah!"
Dan aku menceritakan kejadian semalam di ruangan belakang rumah Bibi Tery
"Tapi manusia tidak mungkin memiliki darah berwarna kuning."
"Apa dia monster?"
"Apa kau percaya dengan adanya monster?"
"Tidak"
"Kau harus mengambil sample darahnya. Nanti biar kuperiksakan darahnya di laboratorium."
"Baiklah, akan ku usahakan. Aku harus segera pulang."
"Perlu kuantar?"
"Tidak, terimakasih untuk semuanya."
"Aku akan selalu punya waktu untukmu. Kau bisa temui aku di tempat kerjaku."
"Baiklah"

Malam ini aku bertekad untuk mengambil
darah wanita itu. Syukurlah Ny. Grace tidak ada di kamar wanita aneh itu dan aku berharap mereka telah tertidur. Dan aku beruntung sekali ketika mendapati wanita itu tengah tertidur pulas. Dengan cepat aku menusukkan jarum yang diberikan Tn. Jack dan segera mengambil darah wanita itu beberapa cc. Wanita itu terbangun, mungkin dia merasa kesakitan dan aku berusaha untuk menenangkan dia agar tidak teriak histeris.
"Tenanglah aku hanya ingin menolongmu. Aku harus tahu, apa yang terjadi padamu." Dia hanya beriak kesakitan. "Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau dikurung disini?" Sama sekali tak ada jawaban. Dia bergerak berusaha menunjuk sesuatu diatas meja. Aku mengambil buku yang ia tunjuk, sebuah buku harian. Aku yakin ini miliknya. Tapi aku harus segera pergi dari sini.
"Aku akan membacanya, dan akan segera mengembalikan buku ini padamu. Akau akan datang padamu dengan informasi mengenai darahmu ini, doakan aku agar bisa menemuimu lagi."
Aku merasa dekat dengannya. Sangat dekat. Betapa tidak inginnya aku meninggalkan dia. Begitu juga dengan dia, dia tetap memegang lenganku saat aku beranjak meninggalkannya. Ya Tuhan, siapa sebenarnya wanita ini?

"Kenapa kau belum tidur?"
"Ah.....Bibi?" Betapa kagetnya aku ketika Bibi Tery tiba-tiba ada didepan kamarku.
"Aku......aku hanya susah tidur."
"Apa yang kau pegang?"
"Oh, ini buku harianku."
"Baiklah, kau masuklah ke kamarmu!"
"Ya, aku akan langsung masuk ke kamarku." Beruntunglah aku, Bibi tidak mencurigai aku. Aku harus segera tidur, agar besok pagi bisa menemui Tn. Jack sebelum dia pergi.
****

"Secepat ini kau dapatkan darahnya?"
"Ya, tidak sesulit yang kuduga."
"Baiklah, aku akan segera menelitinya. Kau tidak bohong, darahnya benar-benar kuning"
"Aku tidak pernah bohong Tn. Jack. Bolehkah aku diam di rumahmu siang ini? Aku butuh tempat untuk membaca buku ini."
"Tentu saja. Buku apa itu?"
"Ini buku harian wanita itu. Dia memberikannya padaku."
"Baiklah. Semoga kau dapat informasi dari buku itu. Aku harus pergi sekarang."

Wanita itu menulis:
~Namaku Anna Witch, tapi aku lebih suka bila namaku ANNA DANIEL

~Saat aku mulai bisa menulis, ibu tak ada di sampingku. Hanya ada Nenek Grace yang selalu menemaniku. Ini hari ulang tahunku dan Tuhan telah memberikan hadiah padaku. Aku memang tak seperti anak lainnya yang bisa bebas bermain di luar rumah. Kulitku akan terbakar sinar matahari jika aku keluar rumah. Tapi aku senang sekali, karena Nenek Grace membuatkan kue ulang tahun untukku. Dan hadiah terindah itu adalah kini aku mahir menulis.

~Ibu tidak pernah menganggapku ada. Mungkin dia malu memiliki anak sepertiku. Bukan kemauanku memiliki rupa seperti ini. Hatiku sangat sakit jika ibu mengatakan pada media bahwa dia tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Beruntung Nenek Grace selalu memberikan semangat padaku. Dialah yang mengajarkanku berbicara. Diusiaku yang ke -16, aku baru bisa berbicara pada Nenek Grace. Aku senang, meskipun masih terbata-bata.

~Nenek Grace terluka dan berdarah. Aku baru tahu bahwa darah manusia itu berwarna merah. Tapi mengapa setiap aku terluka, darahku selalu kuning. Aku ingin sekali memiliki darah berwarna merah.......

~Nenek Grace itu nenekku. Aku kira selama ini dia hanya seorang pekerja di rumah ibu. Nenek Grace bilang bahwa dia orang yang telah melahirkan ibu. Tapi karena ibu terlalu membencinya, jadi Nenek Grace tidak pernah mengatakannya pada ibu. Dan aku akan merahasiakan ini. Karena aku tidak mau sesuatu terjadi pada ibu dan Nenek Grace.

~Aku sangat sedih ketika nenek bercerita tentang hidupnya, tentang Ayah dan ibuku. Aku tidak percaya jika Ayahku itu adalah pamanku. Dulu nenek menitipkan Ayah dan Ibu pada temannya. Sedangkan teman nenek itu meninggal. Ayah dan ibu hanya hidup berdua sampai mereka dewasa. Dan mungkin keadaan itu yang membuat mereka saling mencintai hingga lahirlah aku dari pasangan kakak adik itu.

~Ibu menemuiku malam ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa aku kini bisa bicara dan menulis. Aku hanya bisa diam mendengarkan dia menangis. Ibu menangis, ibu sangat marah dan kesal pada Ayah. Ibu mengenang bagaimana dulu ia sakit hati atas keputusan Ayah. Ternyata Ayah lebih memilih wanita lain dan meninggalkan Ibu saat sedang mengandungku. Ayah tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Ibu, karena dia tahu hubungan itu tidak wajar. Mungkin Ayah bisa melupakan Ibu. Tapi Ibu tidak pernah bisa menghilangkan rasa cintanya pada Ayah. Itulah sebabnya
mengapa ibu lebih memilih sendiri. Dan tadi siang Ayah menemui Ibu. Ayah tidak sendiri, ayah datang bersama isterinya.

~Nenek bilang padaku bahwa Ayahku meninggal bersama isterinya karena kecelakaan saat pulang dari New York. Aku sangat sedih. Aku dan Nenek menangisi kepergiannya. Aku tidak punya kesempatan untuk melihat wajah ayahku seperti apa.

~Tetap saja darahku berwarna kuning. Aku sangat sedih karena aku berbeda dari manusia lain. Aku tidak peduli seberapa banyak luka di tubuhku. Aku hanya ingin darahku berwarna MERAH!!!

~Aku tidak tahu bahwa wanita yang kulukai semalam adalah adikku. Dia putri dari ayahku. Maafkan aku Ellin!!

Ya Tuhan inikah yang sebenarnya terjadi pada keluargaku. Wanita itu adalah Anna, kakak ku. Ayah dan Bibi Tery ternyata? Oh, dan Ny. Grace adalah nenekku? Mengapa aku tidak menyadarinya. Ny. Grace begitu menyayangi Anna dan meskipun dia keras padaku, dia tetap peduli padaku. Aku harus segera kembali ke rumah Bibi Tery.***

"Mengapa kau tidak kapok kembali ke tempat ini? Kau tidak mau digigit olehnya lagi kan?" Nenek Grace menghalangiku untuk masuk ke kamar Anna
"Dia tidak akan berani menyakitiku lagi, karena dia menyayangiku!" Dan akupun berhasil menerobos masuk ke kamar Anna. "Kaukah Anna kakakku? Kau saudaraku?" Pertanyaan itu disambut dengan air mata haru dari mata putih Anna. Seakan menandakan kebahagiaan dan keberhasilan mengungkapkan semua kenyataan.
"Aku menyayangimu." Hanya itu yang keluar dari bibir tipis Anna.
*******

Kamis, 13 Maret 2014

KUNTIL LINUX

Nah loh, malem Jumat Ngapain????

Kebetulan sekarang kan malem jumat. Gue nyoba bikin pelebaran dari Hantu Gangnam Style. Sekuat tenaga nyariin karib si Hantu Gangnam Style. Masih seputaran Hantu Unyu lah.....

Dapetlah ide, jreng jreng.....
Kakak sepupu gue yang entah dimana keberadaannya, hehe minta di bahasin tentang Tante K. What?? Tante K???? Sopo iki???
Oke, gue coba tebak. Mungkin K itu buat Kuetiaw? Atau Kajol? Atau Kribo? Atau Kasmaran? Atau Kuntil? What? Kuntil? Bisa jadi, bisa jadi. Tidaaaaak!!! Iyaaaaa!!! Bisa jadiiiii!!! Hehe

Oke, Fix gue bakal kenalin si Kuntil sama si Hantu Gangnam Style.

Gue kasi nama panjangnya Linux aja deh. Filosofi nya??? Well, mari ikut gue memperkenalkan si Kuntil.

Pada suatu masa di zamannya. Si Kuntil ini nih punya geng yang diberi nama The Linux. The Linux sendiri terdiri dari beberapa cewe bandel yang sulit dipastikan apakah dia cewe atau cowok? Mungkin Cewok?
Anggota The Linux bukan cewek biasa, melainkan perkumpulan cewek-cewek tomboy yang doyan ngotak-ngatik komputer. Mereka jago bikin program dan markasnya merupakan kios pinggir jalan yang juga sekalian buka service komputer. Hehe (ngasal banget nih bikin cerita)

Nah, pada suatu malem. Mereka yang rada brutal ini sepakat buat nyari makan. Dan targetnya adalah pohon rambutan milik Eyang Subur. Mereka naik satu persatu dengan perlahan. Memetik dan memakan buah rambutan sesuka hati tanpa minta izin dulu pada Eyang Subur.

Si Kuntil yang saat itu sangat sangat kelaparan. Tanpa sadar memakan rambutan tanpa membuka terlebih dulu kulitnya. Dia langsung memakan rambutan bulat-bulat. Lah emang rambutan wujudnya bulat kan? Ya agak sedikit lonjong deh. Ya, si Kuntil yang kelaparan pun langsung menelan rambutan itu. Lalu apa yang terjadi?

Rambutan yang masih utuh dengan cangkang berbulu juga semut-semut itemnya nyangkut di kerongkongan si Kuntil. Kontanlah si kuntil ga bisa bernafas karena jalan nafasnya tersumbat rambutan.

Matilah si kuntil di tempat saat itu juga. Nah, saat rohnya melayang-layang di udara, setelah beberapa lama kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Si Kuntil kebingungan dan bertanya-tanya.

Kenapa yang mati gue aja? Padahal gue belum makan rambutan satupun. Lah, temen gue ampe makan ratusan biji ko ga keselek?

Akhirnya Si kuntil tetap melanjutkan aksi mencuri rambutannya.
Dan sampe saat ini dia menjadi penghuni pohon rambutan. Ga ada yang bisa memetik buah rambutan setelah kejadian itu. Eng ing eng... begitulah kronologi kejadiannya. Ngasal amat.

By the way, setaunan yang lalu gue sama temen kost gue sering iseng metikin rambutan punya ibu kost. Tanpa minta izin dulu, hiyaaaahhhhh. Berdosa.... tapi ga apalah dosanya dibagi-bagi sama temen kantor. Hihi

Nah, back to Hantu Gangnam Style. Semoga dia bisa menerima kehadiran Si Kuntil Linux. Sukur-sukur kalo mereka jadian, terus kawin deh.......hehe

Minggu, 23 Februari 2014

ELLIN DANIEL (Part 1)

Aku memang masih muda, tapi aku satu-satunya wanita yang berhasil memecahkan lebih dari 10 kasus. Dua tahun bergabung di Agen 24, komunitas para Detective muda yang diselenggarakan Indonesia sebagai ajang pengembangan bakat The Young Detective. Keterlibatanku dalam Agen 24 hanyalah sekedar pelampiasanku dari kedua orang tuaku. Tom Daniel dan Selvy Midah adalah orang tuaku yang selalu menyembunyikan keberadaan keluarga mereka. Sembilan belas tahun aku hanya hidup dengan Ayah dan Ibu tanpa tahu keberadaan keluarga besar mereka. Aku selalu berusaha mencari tahu identitas yang sebenarnya tentang orang tuaku. Tapi mereka selalu menyembunyikannya dengan sempurna. Aku hanya ingin tahu siapa mereka sebenarnya, dimana Nenek dan Kakek, Paman, Bibi, Sepupu. Agar kelak jika orang tuaku tiada, aku masih memiliki keluarga.
*****
"Kau masih memiliki Bibi, tidak sulit mencari dia di New York sana." Tn. Tedi pengacara Ayah memulai percakapan.
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Dulu dia menyuruhku untuk memberitahukan hal ini."
"Kenapa setelah Ayah dan Ibu meninggal?"
"Entahlah, Bibimu Tery Witch. Seorang model, ku berikan alamatnya padamu. Ayahmu ingin mengirimmu ke sana jika dia telah meninggal. Dan sekarang saatnya kau tahu bahwa Tery Witch adalah adik Ayahmu."
" Bagaimana dengan keluarga Ibuku?"
"Mereka tidak akan menerimamu. Karena mereka sangat membenci Ayahmu."
"Dengan alasan apa?"
"Kau akan tahu setelah bertemu Tery Witch. Kau Agen 24, kau pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri."
"Kau akan ikut menemaniku? Aku baru mau 19 Tahun 3 bulan lagi."
"Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia. Kau anak pintar dan pemberani. Kau pasti bisa. Akan ku urus keberangkatanmu."
*****
New York
Akhirnya aku akan bertemu Bibiku. Bahasa Inggrisku tidak lancar, tapi akan kuusahakan, karena mungkin saja aku akan tinggal disini selamanya. Rumah Bibi Tery besar, menandakan bahwa Bibi adalah orang yang lebih dari berkecukupan. Sama saja dengan Ayah, yang menjadikanku seorang milioner muda dengan harta yang dia tinggalkan.
Pintu besar dengan ukiran bunga terbuka, seorang nenek muncul memandangku sesaat.
"Ellin Daniel?"
"Ya"
Nenek itu merangkul tubuhku, ia menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan ku masuk. Apa mungkin dia Nenekku?
"Duduklah, tunggu sebentar. Akan ku ambilkan minum.untukmu."
"Terimakasih."
Setelah beberapa lama Nenek itu meninggalkanku, muncul perempuan cantik mengenakan mini dress putih. Mungkin dia Bibiku yang seorang model itu.
"Ellin Daniel?"
"Ya aku. Apa kau Tery Witch?"
"Ya. Selamat datang di istanaku Ellin."
Beberapa saat nenek itu muncul dengan membawa minuman dan beberapa kue. Bibi Tery memperkenalkan nenek itu sebagai kepala rumah tangganya, yaitu Ny. Grace.
"Aku harus pergi dan akan segera kembali, kau tunggu disini. Istirahatlah."
Bibi Tery pergi bersama seorang pria yang menunggunya di mobil yang terparkir di luar gerbang. Mengapa Bibi Tery dingin sekali padaku, tidak sehangat sambutan Ny. Grace. Tidak ada pelukan dari seorang Bibi yang merindukan keponakannya.
"Aku akan pergi ke dapur, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
"Baiklah. Terima kasih Ny. Grace."
Dari air mukanya, Ny. Grace seperti mencemaskan aku. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dan apakah Bibi Tery tidak menikah? Mengapa rumah besarnya sepi sekali.
Malam kian larut, Ny. Grace tidak kelihatan lagi. Aku mulai merasakan takut di rumah ini, mungkin sebaiknya aku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Siapa tahu aku bisa bertanya tentang Bibi Tery pada tetangga.
"Kau mau kemana Ellin?" Bibi Tery tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
"Tidak perlu. Ini sudah malam. Kau tidurlah, masuk ke kamarmu."
Ny. Grace muncul bersamaan dengan kedatangan Bibi Tery. Dia sangat tergesa-gesa, seperti tidak ingin membiarkan aku berduaan dengan Bibiku sendiri.
"Ikuti aku agar kau sampai di kamarmu." Aku mengikuti langkah Ny. Grace, kami melewati tangga untuk sampai ke lantai 2.
"Apa Bibi Tery mabuk? Kenapa tadi kau meninggalkanku sendirian Ny. Grace?"
"Ini kamarmu. Semoga tidurmu nyenyak Ellin."
"Apa Bibi Tery mabuk? Apa dia selalu seperti itu?"
"Sebaiknya kau tidur sekarang."
"Ny. Grace. Jawab aku."
"Tidurlah sekarang Ellin." Ny. Grace pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.
Sebenarnya siapa Bibi Tery? Apa dia benar-benar adik ayahku? Malam ini aku tidak bisa tidur. Otakku berputar memikirkan apa yang terjadi di rumah ini. Ny. Grace seakan menyembunyikan sesuatu. Aku harus tahu kenapa keluarga Ibu membenci Ayah.
******
Pagi ini aku harus berhasil menanyakan tentang Ayah pada Bibi Tery.
"Ny. Grace, apa BibiTery belum bangun?"
"Dia sudah pergi."
"Kapan dia pulang?"
"Entahlah. Kau makan saja. Aku harus pergi."
"Kau akan meninggalkanku sendirian lagi seperti kemarin? Apa di rumah ini tidak ada orang lain selain aku, kau dan Bibi Tery? Apa Bibi Tery tidak menikah?"
"Aku akan meninggalkanmu sendiri agar kau tidak banyak bertanya!"
"Ny. Grace kau marah padaku?"
"Maafkan aku Ellin, aku hanya..... ah sudahlah." Ny. Grace lagi-lagi meninggalkanku sendiri.
Sebenarnya pergi kemana Ny. Grace. Di dapur dan disekeliling rumah ini tak kujumpai Ny. Grace. Ah, lebih baik aku jalan-jalan saja. Akan ku jelajahi tempat tinggalku yang baru ini. Tunggu, tapi aku tak yakin akan betah tinggal bersama Bibi Tery. Bahkan sepertinya dia tidak peduli padaku . Dan sangat diragukan kalau dia benar-benar menyayangiku.
Akupun berjalan meninggalkan rumah Bibi Tery, tidak jauh aku melihat taman yang cukup besar. Aku memilih untuk duduk di bangku kayu yang menghadap ke jalan raya.
"Hai, apa kau orang asing?" Tiba-tiba seorang bapak duduk di sampingku. Dia tampak rapi dengan kemeja warna putih dan kaca matanya. Aku seperti melihat Tn. tedi pengacara Ayah.
"Aku dari Indonesia. Aku tinggal bersama Bibiku disini. Namaku Ellin Daniel."
"Aku Jack Marrow. Senang berkenalan denganmu. Berapa usiamu?"
"Sembilan belas. Tn. jack apa kau mengenal Tery Witch?"
"Aku tidak kenal, tapi aku tahu dia seorang model terkenal."
"Dia Bibiku."
"Benarkah? Kau tinggal di rumah mewah itu?"
"Ya. Tapi aku tak suka tinggal disana."
"Kenapa?"
"Sepertinya Bibiku tak menyukaiku."
Akupun menceritakan tentang kehidupanku. Tentang keterlibatanku di Agen 24. Tentang orang tuaku dan pertemuanku dengan Bibi Tery. Entah kenapa aku begitu semangat menceritakan kisah hidupku pada Tn. Jack. Orangtuaku saja tidak pernah mau mendengarkan ceritaku. Berbeda dengan Tn. jack yang begitu peduli pada kisahku. Aku hanya berharap Tn. Jack bukan orang jahat.
"Mungkin Bibimu belum terbiasa dengan keberadaanmu. Kau tunggu saja. Luluhkan hatinya."
"Tapi aku susah untuk bisa bertemu dengannya. Dia tidak punya waktu untukku."
"Kau tau dia seorang model, pasti sibuk. Kau mau main ke rumahku?"
"Tidak, terimakasih. Aku harus pulang."
"Baiklah. Aku juga harus pulang. Kau lihat rumah yang diseberang sana?"
"Cat putih?"
"Ya, itu rumahku. Kau boleh main ke sana. Tapi hanya hari libur saja aku ada di rumah."
"Kau kerja dimana?"
"Rumah sakit. Ini kartu namaku."
Aku senang sekali bisa mengenal Tn. Jack. Setidaknnya di kota ini masih ada yang bisa aku ajak bicara. Lebih baik aku segera pulang, siapa tahu Bibi Tery sudah ada di rumah.**
"Ny Grace!!!"
"Bibi Tery. Apa kalian ada dirumah?"
Kenapa tidak ada yang menjawab. Sebenernya kemana Ny. Grace, dia jarang terlihat di rumah ini. Sebenernya mereka ini kenapa, tidak pernah mempedulikan aku.
Tunggu, itu kan Ny. Grace, sedang apa dia disana? Kenapa aku baru tahu ada rumah kecil di belakang rumah Bibi Tery? Apa mungkin itu kamar Ny. Grace?
"Ny. Grace. Apa ini ruanganmu?"
"Haaaahh. Kau. Mau apa kau kemari?" Kenapa Ny. Grace begitu ketakutan seperti itu, dia panik dan gugup.
"Ny. Grace ada apa di dalam sana?"
"Kau tidak perlu tahu! Bibimu akan marah jika kau masuk ke dalam."
"Tapi kau membuatku curiga. Kalian semua aneh! Seperti ada yang kalian sembunyikan dariku!"
"Jangan lancang kau! Aku tidak seperti yang kau kira. Aku hanya berusaha mengabdikan diri pada Bibimu!" Kudengar ada suara benda bergesek dari dalam ruangan.
"Suara apa di dalam?" Tanyaku penasaran
"Bukan suara apa-apa!" Jawab Ny. Grace ketus
"Di dalam pasti ada orang! Aku harus masuk!" Aku berusaha menerobos tubuh besar Ny. Grace
"Tidak! Percayalah padaku! Jika kau punya hati, ku mohon jangan biarkan Bibimu memecatku hanya karena kau masuk ke dalam!" Ny. Grace sangat memohon padaku. Ada apa sebenarnya di ruangan itu? Tapi aku tidak tega jika Ny. Grace harus diberhentikan karena keegoisanku.
"Baik. Kali ini aku tidak akan memaksa. Tapi aku Agen 24, profesiku adalah seorang detektif. Aku akan mencari tahu yang sebenarnya."
"Semoga kau mengetahui semuanya. Aku akan selalu mendoakanmu."
Aku benar-benat tidak habis fikir. Kenapa Ny. Grace begitu takut pada Bibi Tery. Tapi aku bisa merasakan, kalau Ny. Grace mengkhawatirkanku.
Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Berkeliaran sendiri di kota ini. Tujuanku ke New York untuk menemui keluargaku, Bibi Tery. Tapi kenapa dia tidak menganggapku ada. Aku tidak akan pulang jika belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku harus mencari tahu ada apa di ruangan belakang.***
Tidak semudah yang kuduga. Semua pintu terkunci. Dan aku harus membuka beberapa pintu untuk sampai ke ruangan itu. Mudah-mudahan Ny. Grace sudah terlelap. Bukan Agen 24 kalau aku tidak bisa menyelinap seperti penjahat dan membuka pintu-pintu yang terkunci. Aku hampir berhasil membuka pintu ruangan rahasia ini, ya aku berhasil. Oh, Tuhan, ini kamar. Kamar yang besar. Tampak seperti kamar seorang wanita. Apa ini kamar Bibi Tery. Tapi setahuku, kamar Bibi Tery di lantai atas.
Siapa yang tidur disana. Seperti perempuan muda. Lebih muda dari Bibi Tery. Ya ampun, ini bukan Bibi Tery, juga bukan Ny. Grace. Mengapa aku sampai tidak tahu ada perempuan muda yang tinggal di rumah ini. Oh, Tuhan, dia tebangun dan melihatku, apa yang harus kulakukan. Tidak, dia tidak seperti manusia biasa. Dia seperti hantu. Kulitnya putih, seperti kapas, tidak ada sedikitpun warna hitam di bagian tubuhnya.
*****

Kamis, 19 Desember 2013

HANTU GANGNAM STYLE

Ehemm.... Sekarang bertepatan dengan Malem Jum'at. Sebenernya sama aja sih sama malem-malem laennya. Cuman, katanya lebih serem dari Malem Minggu. Tunggu, siapa yang bilang Malem Minggu serem? Mmmmm..... mungkin yang bilang, para Jomblo tingkat internasional kali ya. Kaya gue. Hehe
Terlepas dari Jomblo atau enggaknya gue. Mari kita tinggalkan sub pokok bahasan di atas dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan. Agar kita tidak terjerumus pada lembah surganya dunia. Yang lumpurnya bisa menghisap dan melenyapkan siapapun yang iseng mencelupkan jempol kakinya ke lembah itu. Sudah. Sekarang mari kita benar-benar meninggalkan bahasan tersebut.
Malem Jum'at ngapain???
Jangan balik tanya gue, karena sudah sangat pasti gue lagi bertapa di kamar yang penerangan lampunya cukup. Cukup bikin ngantuk, maksud gue, hehe.
Malem ini sebenernya gue lagi ga punya ide buat nulis, apalagi bikin cerpen cinta. Cuman ya ga apa-apalah gue ngotorin RUMAH WORTEL. Mumpung lagi waras dan tiba-tiba inget kejadian 10 Bulan lalu. Dimana, pada suatu malam, di sebuah rumah petak sewaan, yang ga mewah dan ga terlalu sederhana pula, selepas magrib setelah hujan mengguyur kota Purwakarta.
Ya, dulu gue pernah kost di Purwakarta. Abis baca Yasin. Gue iseng melongo ke luar pintu, berharap bisa liat bulan purnama yang dikelilingin bintang kejora. Dasar gue emang ga tau diri, mana ada bintang kalo cuacanya lagi gerimis begitu.
Gue pun balik lagi ke dalem kamar yang ga dihuni oleh gue seorang. Ada satu temen gue yang inisialnya Fitri. Lupa deh kejadian detilnya kaya apa. Yang jelas tiba-tiba aja kita bahas Hantu Malem Jum'at.
Semua hantu gue sebutin dengan tanpa ngebayangin wujudnya. Dari mulai Pocong, Kuntilanak, Gunderewo, Tuyul, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Mak lampir, dan yang terakhir Hantu Gangnam Style. Entah atas dasar apa gue nyebut tu hantu. Tiba-tiba aja sosoknya mengelebat depan fikiran gue.
Dan makhluk halusinasi ciptaan gue itu ga ada nyereminnya barang sedikitpun. Lo bayangin aja, tu hantu jalannya kaya lagi nunggang kuda, pake kostum pocong pula. Hebat kan?
Yang jelas, buat malem jum'at berikutnya. Gue sama temen kost gue gak lepas dari ngebahas Hantu Gangnam Style. Emang ga ada lucu-lucunya sih. Tapi gue belum mau berusaha atau mencari pembahasan Hantu Unyu yang lainnya. Kalaupun ada, gue ga mau tau dan ga mesti tau.
Dan malem ini. Malem jum'at. Malemnya Hantu Gangnam Style berkeluyuran nyari temen duet. Gue harap dia udah ga seagresif dan seposesif dulu. Mudah-mudahan dia ngikutin saran gue buat belajar dansa atau balet, biar ritmenya ga terlalu bikin pinggang encok.
Apapun tulisan gue ini, bagaimanapun tanggapan kalian tentang Hantu Gangnam Style ataupun Gue. Kali ini gue bener-bener ngerasa kalo gue lagi terkena sindrome Gaje Otak. Yaitu suatu kondisi dimana apa yang diperintahkan oleh otak pada syaraf motorik gue lagi Gak Jelas.
Ya sudahlah. Berhubung malem kian dewasa, juga mata gue yang udah ga bisa di ganjel pake kayu gelondongan sekalipun. Gue cukupkan sekian dan terimakasih buat malem ini. Selamat malam dan selamat berdansa dengan Hantu Gangnam Style.
~Vh~

Senin, 18 November 2013

CINTA ITU SABAR


“Amara please lo jangan tolak cinta Gue”

“Amara, gue cinta banget sama lo! Lo mau ya jadi pacar gue?”

“Amara kamu mau jadi pacar aku?”

“Apa yang lo minta bakal gue kasih! Asalkan lo jadi pacar gua Amara….”

Danil, Erlangga, Nicki, febri ato siapapun nama mereka, uda di tolak mentah-mentah sama Amara, Amara Cuma bisa nyengir dan ngusir mereka jauh-jauh dari depan mukanya. Tanpa basa-basi lagi Amara langsung bilang “Sorry gue ga suka sama Lo!”

Harta, popularitas atau apapun itu gak lantas buat Amara nerima cowok-cowok kurang kerjaan itu, meskipun Amara jutek dan rada galak tapi cowok-cowok kurang kerjaan itu gak pernah kehabisan ide buat bikin hati Amara kelepek-kelepek.

Hari senin seusai upacara bendera tiba-tiba Amara pingsan. Kontan cowok-cowok kurang kerjaan itu rebutan nolongin Amara. Entah itu beneran nolong atau Cuma sekedar cari perhatian aja, gak ada yang bisa dipercaya. Tapi ada satu cowok yang dengan sigap bawa Amara ke UKS.

“Amara….Lo ga kenapa-napa kan? Lo bikin gue khawatir!” Rintih Nadin, sahabat dekat Amara saat Amara tersadar.

“Huusstt, gue cuma belum sarapan, don’t cry baby!” seru Amara nenangin Nadin yang terisak-isak. “Ngomong-ngomong, siapa yang ngangkut gue ke sini? Jangan bilang salah satu dari cowok-cowok kurang kerjaan itu yang ngangkut gue!”

“Tegar yang gendong Lo kesini. Lo mau dibeliin makan apa? Gue beliin ya?”

“O, Tegar, sampein makasi ya Nad. Ga usah Nad, gue ga mau repotin Lo.”

Sebenernya Amara seneng banget, ternyata yang gendong dia ke UKS Tegar, cowok yang selama ini dia cintai. Tapi kalo inget kenyataannya Tegar pacaran sama Nadin, Amara Cuma bisa nahan perasaan bahagianya itu.

“Amara, Lo ngelamunin apa?” Sahut Nadin membuyarkan lamunan Amara.

“Tegar.” Seru Amara spontan, tanpa sadar Amara udah bikin Nadin kebingungan. “Maksud gue, Tegar hebat bisa ngangkut badan gue yang segini gedenya. Hahaha” Tapi lelucon Amara gak bikin Nadin berhenti membuat Lipatan ombak di keningnya.

“Ra, Lo gak suka sama Tegar kan?” Nadin mulai serius dan membuat Amara salah tingkah.

“Gak mungkin lah gue suka sama Cowok Lo! Ngarang! “ Kilah Amara.

“Lo yakin Ra? Lo sedikit pun gak punya perasaan apa-apa sama Tegar?”

“Come on Nad, gak mungkin gue suka sama cowok Lo! Lo sahabat terbaik gue, ayolah….jangan pernah bikin pertanyaan yang gak masuk akal lagi, ok honey!”

Kejadian di UKS pagi ini bikin Amara shock, apalagi setelah Nadin nanyain perasaan Amara pada Tegar. Amara menyesal udah bohongin Nadin dan perasaannya sendiri. Sepanjang jam sekolah berlangsung Nadin masih menampakan wajah kusutnya. Amara gak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berpura-pura gak menyadari keadaan sahabatnya itu. Amara takut jika Nadin menyadari perasaan yang ia punya pada Tegar. Bakal kaya gimana persahabatan mereka kalau Nadin tahu Amara sangat mencintai Tegar.

Seusai sekolah, saat Amara berjalan kaki menuju rumahnya, tiba-tiba Tegar berdiri dan berjalan mengiringi Amara. Aliran darah Amara mengalir begitu deras, begitu juga dengan detak jantungnya, tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan terasa begitu tak berdaya.

“Lo masih sakit Ra?” Tegar menempelkan kelima jari tangannya pada kening Amara dan membuat Amara semakin lemah tak berdaya.

“Eng,,, engga, Cuma capek aja kali.”

“Ko bisa sich cewek seangkuh Lo pingsan?”

“Angkuh? Jadi Lo nganggap gue angkuh?”

“Yup! Dengan semua sikap Lo ke cowok-cowok yang udah Lo tolak itu. Menurut gue sich Lo angkuh Ra!”

“Gue gak angkuh! Gue Cuma gak bisa terima mereka! Gue, gue suka…. Sama… seseorang… “ Seru Amara gugup.

“Siapa Ra?” pertanyaan itu membuat Amara tersentak dan berfikir seratus kali lebih cepat untuk mengarang alibi.

“Itu,,, dia,,, Lo gak bakal kenal dia ko!”

“Berarti bukan anak sekolahan kita dong! Tapi gue saranin Lo jangan terlalu jutek sama mereka Ra! Tolak mereka dengan cara baik-baik ok!”

“Yes, ok.”. gumam Amara.

Hari berikutnya di sekolah, Amara berusaha menjalankan saran dari Tegar. Bahkan setiap rayuan dari cowok-cowok kurang kerjaan itu ia ladeni. Mungkin perubahan Amara buat cowok-cowok kurang kerjaan itu suatu hal yang luar biasa. Tapi enggak buat Nadin, Nadin merasa Mual melihat tingkah Amara yang seperti gak ada harga dirinya itu.
 
“Are you fine Amara?” Seru Nadin sambil membubarkan cowok-cowok kurang kerjaan yang mengelilingi meja tempat ia dan Amara duduk.

“Tentu” Singkat Amara. “Nick nanti sore jadi ya temenin gue ke Toko Buku!” Teriak Amara sambil melambaikan tangan kanannya pada cowok berambut ikal bernama Nicki.

“Helloooo…. Amara Lo serius mau jalan sama Nicki? Ra Lo kesambet setan apa?” Seru Nadin sambil menepuk-nepuk pipi Amara.

“Doi cakep! Tajir! Kurang apa coba?” jelas Amara. “Apalagi Nicki mobilnya keren!” Lanjutnya.
Penjelasan Amara Cuma bikin Nadin tambah mual dan muak pada Amara. Disatu sisi Amara pengen ngilangin kecurigaan Nadin terhadap perasaannya pada Tegar, tapi Amara merasa sangat bersalah udah bohongin Nadin. Amara dan Nadin bersahabat sejak SMP, perbedaan sifat yang mereka miliki bikin mereka saling melengkapi satu sama lain. Amara yang jutek dan galak bisa melindungi Nadin yang manja dan gampang nangis.

Lagi-lagi Tegar udah ada di samping Amara, mereka jalan bersama, karena rumah mereka satu arah.

“Lo kenapa Ra? Tadi Nadin nangis.” Tegar memulai pembicaraan.
 
“Lo ko jalan kaki terus Gar, kaya hantu lagi tiba-tiba nongol gitu aja!” Seru Amara mengalihkan pembicaraan.

“Lo kenapa udah bikin Nadin nangis?” Kata Tegar lebih galak dan serius.

“Gue gak bikin Nadin nangis ko, emang nangis kenapa?”

“Lo sahabat macam apa sich Ra! Nadin gak suka sama sikap Lo hari ini! Harusnya Lo nyadar Ra!” Jelas Tegar dengan nada tinggi “Lo harusnya bisa jaga perasaan Nadin! Jangan bikin dia nangis!” Sambung Tegar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Amara menghentikan langkahnya dan menatap mata Tegar dalam-dalam, tanpa sadar butiran air mata udah membajiri pipi Amara. Dalam hati Amara berfikir betapa Tegar mencintai Nadin, sampai Tegar membentak Amara seperti itu, lalu bagaimana dengan rasa cinta yang Amara miliki buat Tegar. Dalam benaknya Amara merasa gak punya kesempatan buat memiliki Tegar, perasaan yang dia miliki buat Tegar gak mungkin terbalas.

“Lo ko nangis Ra?” Tanya Tegar lembut.

“Sumpah. Gue. Benci sama Lo! Gue benci sama Lo! Benciiiii!!!” Amara berlari meninggalkan Tegar dengan hati yang berkeping. Tidak ada gunanya lagi meneruskan perasaan cintanya pada Tegar, karena Amara sadar bahwa Tegar sangat mencintai Nadin, sahabatnya yang manja itu. Bukan hanya itu, Amara sakit hati karena cowok yang sangat ia cintai tega membentaknya.

Pagi-pagi di sekolah, Nadin menghampiri Amara dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ra, Lo kenapa? Lo kenapa berubah? Lo kenapa jadi gini Ra?” Seru Nadin pada sahabatnya itu. Tapi Amara sedikitpun gak menghiraukan keberadaan Nadin. “Tegar bilang Lo kemaren nangis? Lo kenapa gak cerita sama gue Ra?” Sambung Nadin.

“Bukan urusan Lo!” Bentak Amara.

“Lo marah sama gue? Gue punya salah apa sama Lo Ra?” Tangis Nadin lebih menjadi. “Cowok yang Lo suka bukan Tegar kan Ra?” Sambung Nadin.

“Heh Nad! Ini bukan urusan Lo! Bilang juga sama cowok Lo, jangan pernah bentak orang lain yang gak tau apa-apa!” Jelas Amara yang langsung menyeret tasnya keluar kelas.
 
“Amara, gue minta maaf! Maafin Tegar juga!”

“Gue, Benci Lo berdua! Lo, Tegar! Gue benci kalian!” Teriak Amara di ambang pintu kelasnya.
Nadin semakin terpukul dengan ucapan Amara, kata BENCI yang terlontar dari mulut Amara udah tercerna dan mengalir ke seluruh tubuh dan otaknya. Sahabat terdekatnya dengan mudah mengatakan kata Benci padanya, Nadin gak bisa menguasai kesedihan yang ia rasakan, hingga pada akhirnya Nadin pingsan.

Di lain tempat, Amara hanya bisa menangis. Membayangkan betapa Tegar sangat mencintai Nadin, begitu memperhatikan Nadin, sementara sikap Tegar kemarin membuatnya sakit hati. Dilain hati Amara merasa bersalah pada Nadin, ia merasa sangat mementingkan perasaannya sendiri, jika saja Nadin tau dirinya mencintai Tegar, Nadin pasti akan sangat terluka. Amara menimbang-nimbang perasaannya, perasaan sayangnya pada Nadin, perasaan cintanya pada Tegar. Ia mencoba mengontrol emosinya, menata langkah mana yang harus diambilnya.

Hari berikutnya di sekolah, Tegar mendatangi Amara saat kelas masih sepi. Amara menyadari kedatangan Tegar, tapi pandangan Amara tetap tertuju pada layar ponsel yang ia genggam.
 
“Kita perlu bicara Ra!” Ungkap Tegar menarik lengan Amara.

“Kemaren gue bikin cewek Lo nangis! Lo kesini mau bentak gue lagi? Hah?”

“Bukan itu masalahnya Ra!” jelas Tegar. Amara Cuma menatap wajah Tegar dengan sinis dan penuh emosi, mungkin buat saat ini Amara melupakan rasa cintanya pada Tegar.

“Gue minta Lo pergi dari hadapan gue! Sekarang!” Bentak Amara.

“Nadin sakit Ra! Lo harus liat dia! Dia butuh Lo!” Seru Tegar meninggalkan kelas Amara.

Nadin sakit, batin Amara terus terusik oleh dua kata itu, Amara merasa bersalah, dia gak pernah bertengkar sehebat ini dengan Nadin, apalagi sampai Nadin jatuh sakit, kali ini Amara sudah keterlaluan. Sepulang sekolah Amara bertekad untuk meminta maaf pada Nadin, sekalian menengok cewek manja yang masih ia anggap sebagai sahabat itu.

Tanpa canggung lagi Amara langsung menaiki anak tangga menuju kamar Nadin, langkah Amara terhenti saat mendengar isak tangis dari dalam kamar Nadin. Samar-samar Amara mendengar percakapan Nadin dengan seseorang di balik pintu kamar Nadin, dan orang itu adalah Tegar.

“Sampai kapanpun, aku bakal selalu sayang sama kamu Nad, aku gak peduli seberapa banyak rintangannya, aku bakal selalu cinta sama kamu.” Seru Tegar.

“Jangan! Aku gak mau nyakitin Amara, aku gak mau persahabatan aku sama Amara berantakan. Aku yakin, kalo Amara suka sama kamu Gar. Kamu bisa cari cewek lain yang lebih baik dari aku.” Jelas Nadin dengan isak tangis yang makin keras.

“Aku bakal nunggu sampe Amara lupain aku dan dia jatuh cinta sama cowok lain. Biar kita bisa bersama lagi Nad.”

“Apa kita bakal kuat? Apa kamu bakal tetap mencintai aku? Kalo Amara gak bisa lupain kamu gimana?”

“Kenapa kamu jadi pesimis Nad! Kita berharap yang terbaik buat kita aja! Ok! Gak ada alasan lain, selamanya aku bakal mencintai kamu Nad!”

Mendengar perbincangan Nadin dan Tegar, Amara mutusin buat pergi dan gak nemuin Nadin. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Amara menangis, betapa Nadin menyayanginya, demi dirinya Nadin lebih rela berpisah dengan Tegar. Amara mencoba mengingat perjalanan hidupnya bersama Nadin, sejak mereka berkenalan, Nadin selalu baik dan mengalah pada Amara, selalu mengalah. Dan untuk kali ini,keputusan Amara udah bulat, jika selama ini Nadin yang selalu mengalah, kenapa Amara gak bisa mengalah untuk sahabatnya itu.

Esok hari di sekolah, Amara udah liat sosok Nadin duduk di kursinya dengan senyuman termanisnya. Amara sangat bahagia melihat sahabatnya udah sembuh, tanpa pikir panjang Amara berlari menghambur kearah Nadin dan memeluknya erat.

“Nad, gue suka sama Tegar. Tapi Lo jangan putus sama Tegar gara-gara gue Nad!”

“Gue udah ambil keputusan Ra! Kita gak mungkin mencintai cowok yang sama!”

“Kenapa Nad! Gue mohon, Lo jangan putus sama Tegar! Gue mau Lo bahagia Nad! Gue gak apa-apa!”

“Lo gak bisa maksa Gue Ra, Gue udah gak punya hubungan apa-apa sama Tegar. Kita coba cari cowok lain, cowok yang berbeda!”

“Maafin gue Nad, Gue egois. Gue akan berusaha buat lupain Tegar, demi Lo!”

Mungkin usaha Amara buat lupain Tegar butuh waktu yang lama. Selama Amara belum bisa lupain Tegar, Nadin dan Tegar gak akan bersatu. Kini Amara terang-terangan nunjukin perasaan sukanya sama Tegar pad Nadin, bahkan Nadin kini lebih sering godain Amara. Mereka masih mencintai cowok yang sama.

“Ra, Tegar liatin Lo tuch!” Goda Nadin
 
“Doi kan cinta mati sama Lo Nad! Tapi hari ini Doi cakep buanget Nad.”

“Siapa tau sekarang Doi naksir Lo Ra.”

“Ntar Lo sakit hati Nad kalo Gue sama Doi jadian.”

“Gue kan pernah ngerasain jadi pacar Doi Ra.”

“Bukannya kita mesti nyari cowok yang beda Nad. Kenapa merhatiin Doi terus?”

“Haha, kita hunting cowok lain yuck!”

“Ayo…hahaha.”

Mereka tertawa bersama di kantin sekolah, kini Amara, Nadin dan Tegar memendam perasaan mereka sendiri-sendiri. Amara berusaha keras melupakan cintanya pada Tegar. Sementara nadin dan Tegar tetap menjaga hati mereka dan menunggu Amara mencintai cowok lain agar mereka bias bersama lagi.

BILIK HARAPAN

 Semakin jauh, semakin lenyap gubuk itu dari pandanganku. Gubuk tua di tepian ladang jagung yang berumur puluhan tahun, mungkin bisa dikatakan seusia dengan umur Abah.Kulaju cepat motor tua peninggalan Abah. Meski berat kutinggalkan gubuk tua itu, tapi inilah pilihanku. Aku akan semakin tersiksa jika harus menetap di balik bilik tua itu. Mengandalkan penghasilan dari panen jagung yang tiga bulan sekali itu. Lalu bagaimana nasib aku dan adik ku, jika harus menunggu tiga bulan untuk mendapatkan uang.

Aku bertekad untuk pergi ke kota. Mengais pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama adik ku. Aku ingat betul apa yang telah terjadi pada Mak dan Abah satu bulan yang lalu.

“Mak, biar Ahmad saja yang ambil uang jagung itu.”
“Jangan, Biar Mak sama Abah mu saja yang ke pasar. Biar sekalian Mak belikan seragam baru untuk mu dan Aik.”
“Ahmad tidak perlu seragam baru. Biar Mak istirahat saja di rumah. Nanti Ahmad belikan seragam untuk Aik.”
“Sudahlah Ahmad, Mak kan ingin sekalian jalan-jalan dengan Abah, mumpung Mak masih kuat untuk pergi jauh.”
“Tapi Mak harus hati-hati. Di pasar banyak copet dan orang jahat.”

Siang itu Aik angat menanti-nanti kedatangan Mak dan Abah, dia sangat mengingikan seragam baru. Meskipun aku sangat khawatir dengan Mak dan Abah, tapi aku juga sangat menanti kedatangan mereka membawa kebahagiaan untuk Aik. Saat aku berharap-harap Mak dan Abah datang, aku dikejutkan oleh teriakan Bontang sahabatku.

“Mad, Abah dan Mak mu ada di puskesmas. Kau kesanalah sekarang. Biar aku tinggal disini menjaga adikmu!”

Tanpa kata-kata, aku langsung berlari menuju puskesmas yang jaraknya cukup jauh dari rumah.Sesampainya disana, begitu banyak orang berkerumun bersungut-sungut, segelintir dari mereka hanya mengatakan KASIAN.

Ya allah, itukah Mak dan Abah. Aku sangat ingat baju yang mereka kenakan saat pergi tadi, baju batik yang satu motif. Astagfirullah, Inalillahi wainaillaihi raziun.

Kusaksikan tubuh orangtua ku tidak bernyawa, berlumuran darah, bahkan tulangnya remuk, ya Allah tak pernah ku bayangkan, kau mengambil mereka dengan cara seperti ini. Kalau saja aku yang pergi. Kalau saja aku bisa membujuk Mak untuk tidak pergi. Mungkin mereka tidak akan menjadi korban tabrak lari. Mereka tidak akan meninggalkan aku dan Aik.
ooooooooo

“Kenapa tidak kau saja yang terluka!!!!”

Teriak ku pada motor tua yang sedang ku kendarai itu.

“Abang!!”

Tak sadar aku telah membuat motor oleng dan membuat Aik takut. Di kota ini, aku akan memulai hidup baru bersama Aik. Aku berjanji pada Mak dan Abah akan menyekolahkan Aik hingga SMA. Meskipun aku tidak yakin, apakah anak ingusan seperti aku bisa menyekolahkan adik ku. Sementara SMA saja, aku belum lulus. Biarlah sekolah ku ini terputus, tapi jangan sampai Aik juga ikut-ikutan putus sekolah.
 
“Abang, jadi kita akan tinggal di rumah ini?”
“Untuk sementara, sebelum kita menemukan rumah kontrakan yang lebih murah dari ini”
“Abang janji kan mau daftarin Aik sekolah besok?”
“Iya. Abang akan berjuang untuk sekolahmu. Meskipun sekolah SD itu masih gratis, tapi kan masih ada biaya ini itu.”
“Sekarang Aik jadi tanggung jawab Abang, Aik janji gak akan mengecewakan Abang.”
“Abang percaya sama Aik, Aik anak pintar, jujur, shaleh, makanya Abang mau memperjuangkan sekolah Aik.”

Ya memang Aik seperti itu. Dia menjadi kebanggaan Mak dan Abah, begitu juga aku. Aik selalu menjadi juara, mulai dari kelas satu hingga kelas lima sekarang. Bahkan dia juga mengharumkan nama sekolahnya dengan menjuarai beberapa perlombaan. Kini tinggal Aik yang kupunya. Aku harus benar-benar menjaganya.

Bontang berkunjung ke kontrakanku. Berkat Bontanglah aku mendaptkan rumah kontrakan ini, dan aku akan ikut Bontang bekerja. Bontang memang Lima tahun lebih tua dariku, tapi dia selalu menganggap ku sebaya dengannya. Di kota, Bontang menjadi sopir metromini, dan dia mengajak ku untuk menjadi kernetnya. Untuk sementara ku terima tawaran Bontang.

Hari pertama aku menjadi kernet metromini. Setelah mendapatkan penjelasan tarif penumpang, akupun bersemangat berdiri di ambang pintu dan berteriak-teriak mengajak penumpang untuk naik metrominiku. Aku bangga pada diriku sendiri, karena aku kini bisa mencari uang sendiri. Meskipun terik mentari menyengat kulitku, dan tiupan angin mengeringkan mata dan kerongkonganku, tapi aku berusaha untuk ramah pada penumpangku. Dan kulihat dari kaca spion, senyum Bontang merekah, menambah semangat untukku.

Seminggu berlalu tanpa masalah. Kunikmati hidup untuk berdiri di muka metromini sambil berteriak-teriak. Meskipun kurasakan hidup begitu keras dan rumit, tapi aku akan tetap berjuang demi Aik. Kenapa sudah malam seperti ini Aik belum pulang. Dia juga tidak meninggalkan memo untukku. Ya Tuhan, kemana Aik. Semenjak aku bekerja, pertemuanku dengan Aik hanya malam dan subuh saja. Apa Aik marah padaku? Tapi Aik bukan anak seperti itu, dia tidak mungkin pergi tanpa izin dari ku.

“Assalamualaikum Abang!”
“Waalaikum salam Aik, dari mana saja kau? Membuat Abang khawatir. Kau baik-baik saja?”
“Maafkan Aik bang.”
“Kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?”
“Tadi dia digodai sama anak-anak berandal yang ada di daerah sini. Saya lihat dia dikejar-kejar. Lalu saya bawa saja ke rumah, sampai tadi kulihat kamu pulang.”
“Ya Tuhan, Aik maafkan Abang.”

Aku benar-benar merasa bersalah pada Aik. Aku merasa tidak berguna, tidak bisa menjaga Aik. Mak dan Abah pasti kecewa padaku. Beruntung ada Ibu Huznul yang menolong Aik. Kulihat Ibu Huznul sangat baik pada Aik, juga padaku. Ibu Huznul seorang janda TNI, dia memiliki satu putra yang telah berkeluarga. Sekarang beliau hidup sendiri, menjadi seorang penjahit yang memiliki beberapa pegawai.

Ibu Huznul menawarkan sesuatu yang membuatku lega. Beliau menawarkan Aik untuk belajar menjahit, dan sepulang sekolah Aik akan berada di rumah Ibu Huznul sampai aku pulang.
Satu minggu setelah kejadian itu, Ibu Huznul memintaku untuk memperbolehkan Aik tinggal di rumahnya. Beliau sangat memahami kisah hidupku. Bagiku dan Aik, beliau adalah pengganti Mak, meskipun posisi Mak tidak akan pernah tergantikan.

Hingga pada suatu hari, Ibu Huznul menawariku untuk bekerja bersama putranya Mas Yusuf. Akhirnya akupun bisa bekerja di Mini Market milik Mas Yusuf. Awalnya aku mencoba menjadi satpam, tapi Mas Yusuf mempercayaiku untuk bekerja dibagian kasir.

Tiga bulan sudah aku dan Aik hidup di kota. Ternyata tidak sesulit yang ku kira. Aku dan Aik selalu mendapatkan kebaikan dan pertolongan dari orang-orang. Hingga sekarang kami bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Ini saatnya panen jagung, aku dan Aik harus pulang ke desa. Tidak enak kalau kami tidak menengok bang Wahid yang kupercayai untuk mengurus ladang dan rumah. Aik sangat bahagia datang ke desa, dia bisa berbagi cerita tentang hidupnya di kota pada teman-teman yang sudah lama tidak ia jumpai, adiku itu tampak riang.

Tapi tetap saja ada yang kurang di rumah ini, tidak ada Abah yang selalu mengajak tetangga main catur di teras rumah. Tidak ada Mak yang selalu duduk di depan kompor untuk membuat makanan atau sekedar cemilan untuk ku dan Aik sebagai penyemangat saat kami sedang belajar.

Bilik di rumah ini banyak yang berlubang. Hingga angin senja pun bebas menelusup, menghampiriku. Jerit kencang jangkrik pun mengalahkan canda Aik yang sedang bergurau dengan teman-temannya itu. Seketika canda para gadis itu lenyap ditelan suara lengking jangkrik. Jangkrik pun berhenti menjerit ketika suara Adzan maghrib berkumandang memecahkan sunyi.

“Abang, kita shalat di mesjid yuk. Sudah lama kita tidak shalat berjamaah di mesjid.”
“Tunggu dulu sampai Adzannya berhenti. Abang masih ingin merasakan betapa bahagianya dulu kita hidup di rumah ini.”
“Di balik bilik ini ada sejuta harapan yang Aik sampaikan pada Allah. Sebagian terwujud dan sebagiannya lagi belum. Aik tau, apapun yang terjadi pada Aik adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk Aik.”
“Kau harus tetap bersyukur. Disini kita menorehkan doa-doa kita, di bilik harapan ini.”
“Bilik harapan termewah yang ditinggalkan orangtua kita.”.

CINTA TAKKAN USAI


Masih belum bisa kulupakan memory 5 tahun yang lalu, pria yang sampai saat ini membuatku selalu memikirkannya. Bukan hanya itu, sampai saat ini aku masih mengharapkannya. Dia bukan pria yang sempurna, tapi dia mampu mengunci rapat hatiku.
****


Lima tahun yang lalu, aku benar-benar yakin dan berani mengklasifikasikan perasaan yang kumiliki ini sebagai gejala jatuh cinta. Untuk yang pertama kalinya aku berani menyatakan perasaan pada seorang pria. Pada saat hari valentine, aku memberikan sebatang coklat dan sepucuk surat tanpa identitas pengirim. Siang malam aku memikirkan reaksi dia saat menerima coklat dariku, apa bahagia atau marah. Kerena aku tau betul, saat itu dia memiliki kekasih.

Tidak ada yang bisa kulakukan setelah itu, hanya menunggu hingga saatnya dia tau siapa wanita pengecut yang telah memberinya coklat dan surat saat valentine. Hingga harapanku hampir musnah ketika aku melihat dia sedang bersama kekasihnya. Aku hanya bisa menangis dan berusaha mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi rasanya sangat sulit, semakin aku berusaha melupakan dia, semakin sakit hatiku.

Hingga suatu malam aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal, dan ternyata itu dia. Aku sangat bahagia saat itu, tidak kuduga pria itu bisa menghubungi aku. Setelah itu kami sering mengirimi pesan, rasanya seperti di surga bisa berhubungan dengan pria yang kucintai. Meskipun aku tau dia masih memiliki kekasih.

Lama setelah itu, dia mengungkapkan perasaan sayangnya padaku, tapi hanya sebatas sayang dari seorang kaka pada adiknya. Aku tidak bisa melupakan kata-kata itu, setelah sekian lama aku mencintainya, dia hanya menganggapku adik saja. Aku tidak bisa terus-terusan memendam perasaanku, hingga suatu saat aku meminta dia untuk melakukan suatu hal yang bisa membuatku membencinya. Dan dia benar-benar melakukannya, dia menghilang begitu saja dan tidak pernah menghubungiku. Sampai saat ini.

Dan sampai saat ini, aku masih mencintainya.