Kamis, 13 Maret 2014

KUNTIL LINUX

Nah loh, malem Jumat Ngapain????

Kebetulan sekarang kan malem jumat. Gue nyoba bikin pelebaran dari Hantu Gangnam Style. Sekuat tenaga nyariin karib si Hantu Gangnam Style. Masih seputaran Hantu Unyu lah.....

Dapetlah ide, jreng jreng.....
Kakak sepupu gue yang entah dimana keberadaannya, hehe minta di bahasin tentang Tante K. What?? Tante K???? Sopo iki???
Oke, gue coba tebak. Mungkin K itu buat Kuetiaw? Atau Kajol? Atau Kribo? Atau Kasmaran? Atau Kuntil? What? Kuntil? Bisa jadi, bisa jadi. Tidaaaaak!!! Iyaaaaa!!! Bisa jadiiiii!!! Hehe

Oke, Fix gue bakal kenalin si Kuntil sama si Hantu Gangnam Style.

Gue kasi nama panjangnya Linux aja deh. Filosofi nya??? Well, mari ikut gue memperkenalkan si Kuntil.

Pada suatu masa di zamannya. Si Kuntil ini nih punya geng yang diberi nama The Linux. The Linux sendiri terdiri dari beberapa cewe bandel yang sulit dipastikan apakah dia cewe atau cowok? Mungkin Cewok?
Anggota The Linux bukan cewek biasa, melainkan perkumpulan cewek-cewek tomboy yang doyan ngotak-ngatik komputer. Mereka jago bikin program dan markasnya merupakan kios pinggir jalan yang juga sekalian buka service komputer. Hehe (ngasal banget nih bikin cerita)

Nah, pada suatu malem. Mereka yang rada brutal ini sepakat buat nyari makan. Dan targetnya adalah pohon rambutan milik Eyang Subur. Mereka naik satu persatu dengan perlahan. Memetik dan memakan buah rambutan sesuka hati tanpa minta izin dulu pada Eyang Subur.

Si Kuntil yang saat itu sangat sangat kelaparan. Tanpa sadar memakan rambutan tanpa membuka terlebih dulu kulitnya. Dia langsung memakan rambutan bulat-bulat. Lah emang rambutan wujudnya bulat kan? Ya agak sedikit lonjong deh. Ya, si Kuntil yang kelaparan pun langsung menelan rambutan itu. Lalu apa yang terjadi?

Rambutan yang masih utuh dengan cangkang berbulu juga semut-semut itemnya nyangkut di kerongkongan si Kuntil. Kontanlah si kuntil ga bisa bernafas karena jalan nafasnya tersumbat rambutan.

Matilah si kuntil di tempat saat itu juga. Nah, saat rohnya melayang-layang di udara, setelah beberapa lama kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Si Kuntil kebingungan dan bertanya-tanya.

Kenapa yang mati gue aja? Padahal gue belum makan rambutan satupun. Lah, temen gue ampe makan ratusan biji ko ga keselek?

Akhirnya Si kuntil tetap melanjutkan aksi mencuri rambutannya.
Dan sampe saat ini dia menjadi penghuni pohon rambutan. Ga ada yang bisa memetik buah rambutan setelah kejadian itu. Eng ing eng... begitulah kronologi kejadiannya. Ngasal amat.

By the way, setaunan yang lalu gue sama temen kost gue sering iseng metikin rambutan punya ibu kost. Tanpa minta izin dulu, hiyaaaahhhhh. Berdosa.... tapi ga apalah dosanya dibagi-bagi sama temen kantor. Hihi

Nah, back to Hantu Gangnam Style. Semoga dia bisa menerima kehadiran Si Kuntil Linux. Sukur-sukur kalo mereka jadian, terus kawin deh.......hehe

Minggu, 23 Februari 2014

ELLIN DANIEL (Part 1)

Aku memang masih muda, tapi aku satu-satunya wanita yang berhasil memecahkan lebih dari 10 kasus. Dua tahun bergabung di Agen 24, komunitas para Detective muda yang diselenggarakan Indonesia sebagai ajang pengembangan bakat The Young Detective. Keterlibatanku dalam Agen 24 hanyalah sekedar pelampiasanku dari kedua orang tuaku. Tom Daniel dan Selvy Midah adalah orang tuaku yang selalu menyembunyikan keberadaan keluarga mereka. Sembilan belas tahun aku hanya hidup dengan Ayah dan Ibu tanpa tahu keberadaan keluarga besar mereka. Aku selalu berusaha mencari tahu identitas yang sebenarnya tentang orang tuaku. Tapi mereka selalu menyembunyikannya dengan sempurna. Aku hanya ingin tahu siapa mereka sebenarnya, dimana Nenek dan Kakek, Paman, Bibi, Sepupu. Agar kelak jika orang tuaku tiada, aku masih memiliki keluarga.
*****
"Kau masih memiliki Bibi, tidak sulit mencari dia di New York sana." Tn. Tedi pengacara Ayah memulai percakapan.
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Dulu dia menyuruhku untuk memberitahukan hal ini."
"Kenapa setelah Ayah dan Ibu meninggal?"
"Entahlah, Bibimu Tery Witch. Seorang model, ku berikan alamatnya padamu. Ayahmu ingin mengirimmu ke sana jika dia telah meninggal. Dan sekarang saatnya kau tahu bahwa Tery Witch adalah adik Ayahmu."
" Bagaimana dengan keluarga Ibuku?"
"Mereka tidak akan menerimamu. Karena mereka sangat membenci Ayahmu."
"Dengan alasan apa?"
"Kau akan tahu setelah bertemu Tery Witch. Kau Agen 24, kau pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri."
"Kau akan ikut menemaniku? Aku baru mau 19 Tahun 3 bulan lagi."
"Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia. Kau anak pintar dan pemberani. Kau pasti bisa. Akan ku urus keberangkatanmu."
*****
New York
Akhirnya aku akan bertemu Bibiku. Bahasa Inggrisku tidak lancar, tapi akan kuusahakan, karena mungkin saja aku akan tinggal disini selamanya. Rumah Bibi Tery besar, menandakan bahwa Bibi adalah orang yang lebih dari berkecukupan. Sama saja dengan Ayah, yang menjadikanku seorang milioner muda dengan harta yang dia tinggalkan.
Pintu besar dengan ukiran bunga terbuka, seorang nenek muncul memandangku sesaat.
"Ellin Daniel?"
"Ya"
Nenek itu merangkul tubuhku, ia menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan ku masuk. Apa mungkin dia Nenekku?
"Duduklah, tunggu sebentar. Akan ku ambilkan minum.untukmu."
"Terimakasih."
Setelah beberapa lama Nenek itu meninggalkanku, muncul perempuan cantik mengenakan mini dress putih. Mungkin dia Bibiku yang seorang model itu.
"Ellin Daniel?"
"Ya aku. Apa kau Tery Witch?"
"Ya. Selamat datang di istanaku Ellin."
Beberapa saat nenek itu muncul dengan membawa minuman dan beberapa kue. Bibi Tery memperkenalkan nenek itu sebagai kepala rumah tangganya, yaitu Ny. Grace.
"Aku harus pergi dan akan segera kembali, kau tunggu disini. Istirahatlah."
Bibi Tery pergi bersama seorang pria yang menunggunya di mobil yang terparkir di luar gerbang. Mengapa Bibi Tery dingin sekali padaku, tidak sehangat sambutan Ny. Grace. Tidak ada pelukan dari seorang Bibi yang merindukan keponakannya.
"Aku akan pergi ke dapur, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
"Baiklah. Terima kasih Ny. Grace."

Dari air mukanya, Ny. Grace seperti mencemaskan aku. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dan apakah Bibi Tery tidak menikah? Mengapa rumah besarnya sepi sekali.

Malam kian larut, Ny. Grace tidak kelihatan lagi. Aku mulai merasakan takut di rumah ini, mungkin sebaiknya aku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Siapa tahu aku bisa bertanya tentang Bibi Tery pada tetangga.
"Kau mau kemana Ellin?" Bibi Tery tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
"Tidak perlu. Ini sudah malam. Kau tidurlah, masuk ke kamarmu."
Ny. Grace muncul bersamaan dengan kedatangan Bibi Tery. Dia sangat tergesa-gesa, seperti tidak ingin membiarkan aku berduaan dengan Bibiku sendiri.
"Ikuti aku agar kau sampai di kamarmu." Aku mengikuti langkah Ny. Grace, kami melewati tangga untuk sampai ke lantai 2.
"Apa Bibi Tery mabuk? Kenapa tadi kau meninggalkanku sendirian Ny. Grace?"
"Ini kamarmu. Semoga tidurmu nyenyak Ellin."
"Apa Bibi Tery mabuk? Apa dia selalu seperti itu?"
"Sebaiknya kau tidur sekarang."
"Ny. Grace. Jawab aku."
"Tidurlah sekarang Ellin." Ny. Grace pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.
Sebenarnya siapa Bibi Tery? Apa dia benar-benar adik ayahku? Malam ini aku tidak bisa tidur. Otakku berputar memikirkan apa yang terjadi di rumah ini. Ny. Grace seakan menyembunyikan sesuatu. Aku harus tahu kenapa keluarga Ibu membenci Ayah.
******
Pagi ini aku harus berhasil menanyakan tentang Ayah pada Bibi Tery.
"Ny. Grace, apa BibiTery belum bangun?"
"Dia sudah pergi."
"Kapan dia pulang?"
"Entahlah. Kau makan saja. Aku harus pergi."
"Kau akan meninggalkanku sendirian lagi seperti kemarin? Apa di rumah ini tidak ada orang lain selain aku, kau dan Bibi Tery? Apa Bibi Tery tidak menikah?"
"Aku akan meninggalkanmu sendiri agar kau tidak banyak bertanya!"
"Ny. Grace kau marah padaku?"
"Maafkan aku Ellin, aku hanya..... ah sudahlah." Ny. Grace lagi-lagi meninggalkanku sendiri.

Sebenarnya pergi kemana Ny. Grace. Di dapur dan disekeliling rumah ini tak kujumpai Ny. Grace. Ah, lebih baik aku jalan-jalan saja. Akan ku jelajahi tempat tinggalku yang baru ini. Tunggu, tapi aku tak yakin akan betah tinggal bersama Bibi Tery. Bahkan sepertinya dia tidak peduli padaku . Dan sangat diragukan kalau dia benar-benar menyayangiku.

Akupun berjalan meninggalkan rumah Bibi Tery, tidak jauh aku melihat taman yang cukup besar. Aku memilih untuk duduk di bangku kayu yang menghadap ke jalan raya.
"Hai, apa kau orang asing?" Tiba-tiba seorang bapak duduk di sampingku. Dia tampak rapi dengan kemeja warna putih dan kaca matanya. Aku seperti melihat Tn. tedi pengacara Ayah.
"Aku dari Indonesia. Aku tinggal bersama Bibiku disini. Namaku Ellin Daniel."
"Aku Jack Marrow. Senang berkenalan denganmu. Berapa usiamu?"
"Sembilan belas. Tn. jack apa kau mengenal Tery Witch?"
"Aku tidak kenal, tapi aku tahu dia seorang model terkenal."
"Dia Bibiku."
"Benarkah? Kau tinggal di rumah mewah itu?"
"Ya. Tapi aku tak suka tinggal disana."
"Kenapa?"
"Sepertinya Bibiku tak menyukaiku."
Akupun menceritakan tentang kehidupanku. Tentang keterlibatanku di Agen 24. Tentang orang tuaku dan pertemuanku dengan Bibi Tery. Entah kenapa aku begitu semangat menceritakan kisah hidupku pada Tn. Jack. Orangtuaku saja tidak pernah mau mendengarkan ceritaku. Berbeda dengan Tn. jack yang begitu peduli pada kisahku. Aku hanya berharap Tn. Jack bukan orang jahat.

"Mungkin Bibimu belum terbiasa dengan keberadaanmu. Kau tunggu saja. Luluhkan hatinya."
"Tapi aku susah untuk bisa bertemu dengannya. Dia tidak punya waktu untukku."
"Kau tau dia seorang model, pasti sibuk. Kau mau main ke rumahku?"
"Tidak, terimakasih. Aku harus pulang."
"Baiklah. Aku juga harus pulang. Kau lihat rumah yang diseberang sana?"
"Cat putih?"
"Ya, itu rumahku. Kau boleh main ke sana. Tapi hanya hari libur saja aku ada di rumah."
"Kau kerja dimana?"
"Rumah sakit. Ini kartu namaku."

Aku senang sekali bisa mengenal Tn. Jack. Setidaknnya di kota ini masih ada yang bisa aku ajak bicara. Lebih baik aku segera pulang, siapa tahu Bibi Tery sudah ada di rumah.**

"Ny Grace!!!"
"Bibi Tery. Apa kalian ada dirumah?"
Kenapa tidak ada yang menjawab. Sebenernya kemana Ny. Grace, dia jarang terlihat di rumah ini. Sebenernya mereka ini kenapa, tidak pernah mempedulikan aku.

Tunggu, itu kan Ny. Grace, sedang apa dia disana? Kenapa aku baru tahu ada rumah kecil di belakang rumah Bibi Tery? Apa mungkin itu kamar Ny. Grace?
"Ny. Grace. Apa ini ruanganmu?"
"Haaaahh. Kau. Mau apa kau kemari?" Kenapa Ny. Grace begitu ketakutan seperti itu, dia panik dan gugup.
"Ny. Grace ada apa di dalam sana?"
"Kau tidak perlu tahu! Bibimu akan marah jika kau masuk ke dalam."
"Tapi kau membuatku curiga. Kalian semua aneh! Seperti ada yang kalian sembunyikan dariku!"
"Jangan lancang kau! Aku tidak seperti yang kau kira. Aku hanya berusaha mengabdikan diri pada Bibimu!" Kudengar ada suara benda bergesek dari dalam ruangan.
"Suara apa di dalam?" Tanyaku penasaran
"Bukan suara apa-apa!" Jawab Ny. Grace ketus
"Di dalam pasti ada orang! Aku harus masuk!" Aku berusaha menerobos tubuh besar Ny. Grace
"Tidak! Percayalah padaku! Jika kau punya hati, ku mohon jangan biarkan Bibimu memecatku hanya karena kau masuk ke dalam!" Ny. Grace sangat memohon padaku. Ada apa sebenarnya di ruangan itu? Tapi aku tidak tega jika Ny. Grace harus diberhentikan karena keegoisanku.

"Baik. Kali ini aku tidak akan memaksa. Tapi aku Agen 24, profesiku adalah seorang detektif. Aku akan mencari tahu yang sebenarnya."
"Semoga kau mengetahui semuanya. Aku akan selalu mendoakanmu."
Aku benar-benat tidak habis fikir. Kenapa Ny. Grace begitu takut pada Bibi Tery. Tapi aku bisa merasakan, kalau Ny. Grace mengkhawatirkanku.

Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Berkeliaran sendiri di kota ini. Tujuanku ke New York untuk menemui keluargaku, Bibi Tery. Tapi kenapa dia tidak menganggapku ada. Aku tidak akan pulang jika belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku harus mencari tahu ada apa di ruangan belakang.***

Tidak semudah yang kuduga. Semua pintu terkunci. Dan aku harus membuka beberapa pintu untuk sampai ke ruangan itu. Mudah-mudahan Ny. Grace sudah terlelap. Bukan Agen 24 kalau aku tidak bisa menyelinap seperti penjahat dan membuka pintu-pintu yang terkunci. Aku hampir berhasil membuka pintu ruangan rahasia ini, ya aku berhasil. Oh, Tuhan, ini kamar. Kamar yang besar. Tampak seperti kamar seorang wanita. Apa ini kamar Bibi Tery. Tapi setahuku, kamar Bibi Tery di lantai atas.

Siapa yang tidur disana. Seperti perempuan muda. Lebih muda dari Bibi Tery. Ya ampun, ini bukan Bibi Tery, juga bukan Ny. Grace. Mengapa aku sampai tidak tahu ada perempuan muda yang tinggal di rumah ini. Oh, Tuhan, dia tebangun dan melihatku, apa yang harus kulakukan. Tidak, dia tidak seperti manusia biasa. Dia seperti hantu. Kulitnya putih, seperti kapas, tidak ada sedikitpun warna hitam di bagian tubuhnya.
*****

Kamis, 19 Desember 2013

HANTU GANGNAM STYLE

Ehemm.... Sekarang bertepatan dengan Malem Jum'at. Sebenernya sama aja sih sama malem-malem laennya. Cuman, katanya lebih serem dari Malem Minggu. Tunggu, siapa yang bilang Malem Minggu serem? Mmmmm..... mungkin yang bilang, para Jomblo tingkat internasional kali ya. Kaya gue. Hehe
Terlepas dari Jomblo atau enggaknya gue. Mari kita tinggalkan sub pokok bahasan di atas dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan. Agar kita tidak terjerumus pada lembah surganya dunia. Yang lumpurnya bisa menghisap dan melenyapkan siapapun yang iseng mencelupkan jempol kakinya ke lembah itu. Sudah. Sekarang mari kita benar-benar meninggalkan bahasan tersebut.
Malem Jum'at ngapain???
Jangan balik tanya gue, karena sudah sangat pasti gue lagi bertapa di kamar yang penerangan lampunya cukup. Cukup bikin ngantuk, maksud gue, hehe.
Malem ini sebenernya gue lagi ga punya ide buat nulis, apalagi bikin cerpen cinta. Cuman ya ga apa-apalah gue ngotorin RUMAH WORTEL. Mumpung lagi waras dan tiba-tiba inget kejadian 10 Bulan lalu. Dimana, pada suatu malam, di sebuah rumah petak sewaan, yang ga mewah dan ga terlalu sederhana pula, selepas magrib setelah hujan mengguyur kota Purwakarta.
Ya, dulu gue pernah kost di Purwakarta. Abis baca Yasin. Gue iseng melongo ke luar pintu, berharap bisa liat bulan purnama yang dikelilingin bintang kejora. Dasar gue emang ga tau diri, mana ada bintang kalo cuacanya lagi gerimis begitu.
Gue pun balik lagi ke dalem kamar yang ga dihuni oleh gue seorang. Ada satu temen gue yang inisialnya Fitri. Lupa deh kejadian detilnya kaya apa. Yang jelas tiba-tiba aja kita bahas Hantu Malem Jum'at.
Semua hantu gue sebutin dengan tanpa ngebayangin wujudnya. Dari mulai Pocong, Kuntilanak, Gunderewo, Tuyul, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Mak lampir, dan yang terakhir Hantu Gangnam Style. Entah atas dasar apa gue nyebut tu hantu. Tiba-tiba aja sosoknya mengelebat depan fikiran gue.
Dan makhluk halusinasi ciptaan gue itu ga ada nyereminnya barang sedikitpun. Lo bayangin aja, tu hantu jalannya kaya lagi nunggang kuda, pake kostum pocong pula. Hebat kan?
Yang jelas, buat malem jum'at berikutnya. Gue sama temen kost gue gak lepas dari ngebahas Hantu Gangnam Style. Emang ga ada lucu-lucunya sih. Tapi gue belum mau berusaha atau mencari pembahasan Hantu Unyu yang lainnya. Kalaupun ada, gue ga mau tau dan ga mesti tau.
Dan malem ini. Malem jum'at. Malemnya Hantu Gangnam Style berkeluyuran nyari temen duet. Gue harap dia udah ga seagresif dan seposesif dulu. Mudah-mudahan dia ngikutin saran gue buat belajar dansa atau balet, biar ritmenya ga terlalu bikin pinggang encok.
Apapun tulisan gue ini, bagaimanapun tanggapan kalian tentang Hantu Gangnam Style ataupun Gue. Kali ini gue bener-bener ngerasa kalo gue lagi terkena sindrome Gaje Otak. Yaitu suatu kondisi dimana apa yang diperintahkan oleh otak pada syaraf motorik gue lagi Gak Jelas.
Ya sudahlah. Berhubung malem kian dewasa, juga mata gue yang udah ga bisa di ganjel pake kayu gelondongan sekalipun. Gue cukupkan sekian dan terimakasih buat malem ini. Selamat malam dan selamat berdansa dengan Hantu Gangnam Style.
~Vh~

Senin, 18 November 2013

CINTA ITU SABAR


“Amara please lo jangan tolak cinta Gue”

“Amara, gue cinta banget sama lo! Lo mau ya jadi pacar gue?”

“Amara kamu mau jadi pacar aku?”

“Apa yang lo minta bakal gue kasih! Asalkan lo jadi pacar gua Amara….”

Danil, Erlangga, Nicki, febri ato siapapun nama mereka, uda di tolak mentah-mentah sama Amara, Amara Cuma bisa nyengir dan ngusir mereka jauh-jauh dari depan mukanya. Tanpa basa-basi lagi Amara langsung bilang “Sorry gue ga suka sama Lo!”

Harta, popularitas atau apapun itu gak lantas buat Amara nerima cowok-cowok kurang kerjaan itu, meskipun Amara jutek dan rada galak tapi cowok-cowok kurang kerjaan itu gak pernah kehabisan ide buat bikin hati Amara kelepek-kelepek.

Hari senin seusai upacara bendera tiba-tiba Amara pingsan. Kontan cowok-cowok kurang kerjaan itu rebutan nolongin Amara. Entah itu beneran nolong atau Cuma sekedar cari perhatian aja, gak ada yang bisa dipercaya. Tapi ada satu cowok yang dengan sigap bawa Amara ke UKS.

“Amara….Lo ga kenapa-napa kan? Lo bikin gue khawatir!” Rintih Nadin, sahabat dekat Amara saat Amara tersadar.

“Huusstt, gue cuma belum sarapan, don’t cry baby!” seru Amara nenangin Nadin yang terisak-isak. “Ngomong-ngomong, siapa yang ngangkut gue ke sini? Jangan bilang salah satu dari cowok-cowok kurang kerjaan itu yang ngangkut gue!”

“Tegar yang gendong Lo kesini. Lo mau dibeliin makan apa? Gue beliin ya?”

“O, Tegar, sampein makasi ya Nad. Ga usah Nad, gue ga mau repotin Lo.”

Sebenernya Amara seneng banget, ternyata yang gendong dia ke UKS Tegar, cowok yang selama ini dia cintai. Tapi kalo inget kenyataannya Tegar pacaran sama Nadin, Amara Cuma bisa nahan perasaan bahagianya itu.

“Amara, Lo ngelamunin apa?” Sahut Nadin membuyarkan lamunan Amara.

“Tegar.” Seru Amara spontan, tanpa sadar Amara udah bikin Nadin kebingungan. “Maksud gue, Tegar hebat bisa ngangkut badan gue yang segini gedenya. Hahaha” Tapi lelucon Amara gak bikin Nadin berhenti membuat Lipatan ombak di keningnya.

“Ra, Lo gak suka sama Tegar kan?” Nadin mulai serius dan membuat Amara salah tingkah.

“Gak mungkin lah gue suka sama Cowok Lo! Ngarang! “ Kilah Amara.

“Lo yakin Ra? Lo sedikit pun gak punya perasaan apa-apa sama Tegar?”

“Come on Nad, gak mungkin gue suka sama cowok Lo! Lo sahabat terbaik gue, ayolah….jangan pernah bikin pertanyaan yang gak masuk akal lagi, ok honey!”

Kejadian di UKS pagi ini bikin Amara shock, apalagi setelah Nadin nanyain perasaan Amara pada Tegar. Amara menyesal udah bohongin Nadin dan perasaannya sendiri. Sepanjang jam sekolah berlangsung Nadin masih menampakan wajah kusutnya. Amara gak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berpura-pura gak menyadari keadaan sahabatnya itu. Amara takut jika Nadin menyadari perasaan yang ia punya pada Tegar. Bakal kaya gimana persahabatan mereka kalau Nadin tahu Amara sangat mencintai Tegar.

Seusai sekolah, saat Amara berjalan kaki menuju rumahnya, tiba-tiba Tegar berdiri dan berjalan mengiringi Amara. Aliran darah Amara mengalir begitu deras, begitu juga dengan detak jantungnya, tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan terasa begitu tak berdaya.

“Lo masih sakit Ra?” Tegar menempelkan kelima jari tangannya pada kening Amara dan membuat Amara semakin lemah tak berdaya.

“Eng,,, engga, Cuma capek aja kali.”

“Ko bisa sich cewek seangkuh Lo pingsan?”

“Angkuh? Jadi Lo nganggap gue angkuh?”

“Yup! Dengan semua sikap Lo ke cowok-cowok yang udah Lo tolak itu. Menurut gue sich Lo angkuh Ra!”

“Gue gak angkuh! Gue Cuma gak bisa terima mereka! Gue, gue suka…. Sama… seseorang… “ Seru Amara gugup.

“Siapa Ra?” pertanyaan itu membuat Amara tersentak dan berfikir seratus kali lebih cepat untuk mengarang alibi.

“Itu,,, dia,,, Lo gak bakal kenal dia ko!”

“Berarti bukan anak sekolahan kita dong! Tapi gue saranin Lo jangan terlalu jutek sama mereka Ra! Tolak mereka dengan cara baik-baik ok!”

“Yes, ok.”. gumam Amara.

Hari berikutnya di sekolah, Amara berusaha menjalankan saran dari Tegar. Bahkan setiap rayuan dari cowok-cowok kurang kerjaan itu ia ladeni. Mungkin perubahan Amara buat cowok-cowok kurang kerjaan itu suatu hal yang luar biasa. Tapi enggak buat Nadin, Nadin merasa Mual melihat tingkah Amara yang seperti gak ada harga dirinya itu.
 
“Are you fine Amara?” Seru Nadin sambil membubarkan cowok-cowok kurang kerjaan yang mengelilingi meja tempat ia dan Amara duduk.

“Tentu” Singkat Amara. “Nick nanti sore jadi ya temenin gue ke Toko Buku!” Teriak Amara sambil melambaikan tangan kanannya pada cowok berambut ikal bernama Nicki.

“Helloooo…. Amara Lo serius mau jalan sama Nicki? Ra Lo kesambet setan apa?” Seru Nadin sambil menepuk-nepuk pipi Amara.

“Doi cakep! Tajir! Kurang apa coba?” jelas Amara. “Apalagi Nicki mobilnya keren!” Lanjutnya.
Penjelasan Amara Cuma bikin Nadin tambah mual dan muak pada Amara. Disatu sisi Amara pengen ngilangin kecurigaan Nadin terhadap perasaannya pada Tegar, tapi Amara merasa sangat bersalah udah bohongin Nadin. Amara dan Nadin bersahabat sejak SMP, perbedaan sifat yang mereka miliki bikin mereka saling melengkapi satu sama lain. Amara yang jutek dan galak bisa melindungi Nadin yang manja dan gampang nangis.

Lagi-lagi Tegar udah ada di samping Amara, mereka jalan bersama, karena rumah mereka satu arah.

“Lo kenapa Ra? Tadi Nadin nangis.” Tegar memulai pembicaraan.
 
“Lo ko jalan kaki terus Gar, kaya hantu lagi tiba-tiba nongol gitu aja!” Seru Amara mengalihkan pembicaraan.

“Lo kenapa udah bikin Nadin nangis?” Kata Tegar lebih galak dan serius.

“Gue gak bikin Nadin nangis ko, emang nangis kenapa?”

“Lo sahabat macam apa sich Ra! Nadin gak suka sama sikap Lo hari ini! Harusnya Lo nyadar Ra!” Jelas Tegar dengan nada tinggi “Lo harusnya bisa jaga perasaan Nadin! Jangan bikin dia nangis!” Sambung Tegar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Amara menghentikan langkahnya dan menatap mata Tegar dalam-dalam, tanpa sadar butiran air mata udah membajiri pipi Amara. Dalam hati Amara berfikir betapa Tegar mencintai Nadin, sampai Tegar membentak Amara seperti itu, lalu bagaimana dengan rasa cinta yang Amara miliki buat Tegar. Dalam benaknya Amara merasa gak punya kesempatan buat memiliki Tegar, perasaan yang dia miliki buat Tegar gak mungkin terbalas.

“Lo ko nangis Ra?” Tanya Tegar lembut.

“Sumpah. Gue. Benci sama Lo! Gue benci sama Lo! Benciiiii!!!” Amara berlari meninggalkan Tegar dengan hati yang berkeping. Tidak ada gunanya lagi meneruskan perasaan cintanya pada Tegar, karena Amara sadar bahwa Tegar sangat mencintai Nadin, sahabatnya yang manja itu. Bukan hanya itu, Amara sakit hati karena cowok yang sangat ia cintai tega membentaknya.

Pagi-pagi di sekolah, Nadin menghampiri Amara dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ra, Lo kenapa? Lo kenapa berubah? Lo kenapa jadi gini Ra?” Seru Nadin pada sahabatnya itu. Tapi Amara sedikitpun gak menghiraukan keberadaan Nadin. “Tegar bilang Lo kemaren nangis? Lo kenapa gak cerita sama gue Ra?” Sambung Nadin.

“Bukan urusan Lo!” Bentak Amara.

“Lo marah sama gue? Gue punya salah apa sama Lo Ra?” Tangis Nadin lebih menjadi. “Cowok yang Lo suka bukan Tegar kan Ra?” Sambung Nadin.

“Heh Nad! Ini bukan urusan Lo! Bilang juga sama cowok Lo, jangan pernah bentak orang lain yang gak tau apa-apa!” Jelas Amara yang langsung menyeret tasnya keluar kelas.
 
“Amara, gue minta maaf! Maafin Tegar juga!”

“Gue, Benci Lo berdua! Lo, Tegar! Gue benci kalian!” Teriak Amara di ambang pintu kelasnya.
Nadin semakin terpukul dengan ucapan Amara, kata BENCI yang terlontar dari mulut Amara udah tercerna dan mengalir ke seluruh tubuh dan otaknya. Sahabat terdekatnya dengan mudah mengatakan kata Benci padanya, Nadin gak bisa menguasai kesedihan yang ia rasakan, hingga pada akhirnya Nadin pingsan.

Di lain tempat, Amara hanya bisa menangis. Membayangkan betapa Tegar sangat mencintai Nadin, begitu memperhatikan Nadin, sementara sikap Tegar kemarin membuatnya sakit hati. Dilain hati Amara merasa bersalah pada Nadin, ia merasa sangat mementingkan perasaannya sendiri, jika saja Nadin tau dirinya mencintai Tegar, Nadin pasti akan sangat terluka. Amara menimbang-nimbang perasaannya, perasaan sayangnya pada Nadin, perasaan cintanya pada Tegar. Ia mencoba mengontrol emosinya, menata langkah mana yang harus diambilnya.

Hari berikutnya di sekolah, Tegar mendatangi Amara saat kelas masih sepi. Amara menyadari kedatangan Tegar, tapi pandangan Amara tetap tertuju pada layar ponsel yang ia genggam.
 
“Kita perlu bicara Ra!” Ungkap Tegar menarik lengan Amara.

“Kemaren gue bikin cewek Lo nangis! Lo kesini mau bentak gue lagi? Hah?”

“Bukan itu masalahnya Ra!” jelas Tegar. Amara Cuma menatap wajah Tegar dengan sinis dan penuh emosi, mungkin buat saat ini Amara melupakan rasa cintanya pada Tegar.

“Gue minta Lo pergi dari hadapan gue! Sekarang!” Bentak Amara.

“Nadin sakit Ra! Lo harus liat dia! Dia butuh Lo!” Seru Tegar meninggalkan kelas Amara.

Nadin sakit, batin Amara terus terusik oleh dua kata itu, Amara merasa bersalah, dia gak pernah bertengkar sehebat ini dengan Nadin, apalagi sampai Nadin jatuh sakit, kali ini Amara sudah keterlaluan. Sepulang sekolah Amara bertekad untuk meminta maaf pada Nadin, sekalian menengok cewek manja yang masih ia anggap sebagai sahabat itu.

Tanpa canggung lagi Amara langsung menaiki anak tangga menuju kamar Nadin, langkah Amara terhenti saat mendengar isak tangis dari dalam kamar Nadin. Samar-samar Amara mendengar percakapan Nadin dengan seseorang di balik pintu kamar Nadin, dan orang itu adalah Tegar.

“Sampai kapanpun, aku bakal selalu sayang sama kamu Nad, aku gak peduli seberapa banyak rintangannya, aku bakal selalu cinta sama kamu.” Seru Tegar.

“Jangan! Aku gak mau nyakitin Amara, aku gak mau persahabatan aku sama Amara berantakan. Aku yakin, kalo Amara suka sama kamu Gar. Kamu bisa cari cewek lain yang lebih baik dari aku.” Jelas Nadin dengan isak tangis yang makin keras.

“Aku bakal nunggu sampe Amara lupain aku dan dia jatuh cinta sama cowok lain. Biar kita bisa bersama lagi Nad.”

“Apa kita bakal kuat? Apa kamu bakal tetap mencintai aku? Kalo Amara gak bisa lupain kamu gimana?”

“Kenapa kamu jadi pesimis Nad! Kita berharap yang terbaik buat kita aja! Ok! Gak ada alasan lain, selamanya aku bakal mencintai kamu Nad!”

Mendengar perbincangan Nadin dan Tegar, Amara mutusin buat pergi dan gak nemuin Nadin. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Amara menangis, betapa Nadin menyayanginya, demi dirinya Nadin lebih rela berpisah dengan Tegar. Amara mencoba mengingat perjalanan hidupnya bersama Nadin, sejak mereka berkenalan, Nadin selalu baik dan mengalah pada Amara, selalu mengalah. Dan untuk kali ini,keputusan Amara udah bulat, jika selama ini Nadin yang selalu mengalah, kenapa Amara gak bisa mengalah untuk sahabatnya itu.

Esok hari di sekolah, Amara udah liat sosok Nadin duduk di kursinya dengan senyuman termanisnya. Amara sangat bahagia melihat sahabatnya udah sembuh, tanpa pikir panjang Amara berlari menghambur kearah Nadin dan memeluknya erat.

“Nad, gue suka sama Tegar. Tapi Lo jangan putus sama Tegar gara-gara gue Nad!”

“Gue udah ambil keputusan Ra! Kita gak mungkin mencintai cowok yang sama!”

“Kenapa Nad! Gue mohon, Lo jangan putus sama Tegar! Gue mau Lo bahagia Nad! Gue gak apa-apa!”

“Lo gak bisa maksa Gue Ra, Gue udah gak punya hubungan apa-apa sama Tegar. Kita coba cari cowok lain, cowok yang berbeda!”

“Maafin gue Nad, Gue egois. Gue akan berusaha buat lupain Tegar, demi Lo!”

Mungkin usaha Amara buat lupain Tegar butuh waktu yang lama. Selama Amara belum bisa lupain Tegar, Nadin dan Tegar gak akan bersatu. Kini Amara terang-terangan nunjukin perasaan sukanya sama Tegar pad Nadin, bahkan Nadin kini lebih sering godain Amara. Mereka masih mencintai cowok yang sama.

“Ra, Tegar liatin Lo tuch!” Goda Nadin
 
“Doi kan cinta mati sama Lo Nad! Tapi hari ini Doi cakep buanget Nad.”

“Siapa tau sekarang Doi naksir Lo Ra.”

“Ntar Lo sakit hati Nad kalo Gue sama Doi jadian.”

“Gue kan pernah ngerasain jadi pacar Doi Ra.”

“Bukannya kita mesti nyari cowok yang beda Nad. Kenapa merhatiin Doi terus?”

“Haha, kita hunting cowok lain yuck!”

“Ayo…hahaha.”

Mereka tertawa bersama di kantin sekolah, kini Amara, Nadin dan Tegar memendam perasaan mereka sendiri-sendiri. Amara berusaha keras melupakan cintanya pada Tegar. Sementara nadin dan Tegar tetap menjaga hati mereka dan menunggu Amara mencintai cowok lain agar mereka bias bersama lagi.

BILIK HARAPAN

 Semakin jauh, semakin lenyap gubuk itu dari pandanganku. Gubuk tua di tepian ladang jagung yang berumur puluhan tahun, mungkin bisa dikatakan seusia dengan umur Abah.Kulaju cepat motor tua peninggalan Abah. Meski berat kutinggalkan gubuk tua itu, tapi inilah pilihanku. Aku akan semakin tersiksa jika harus menetap di balik bilik tua itu. Mengandalkan penghasilan dari panen jagung yang tiga bulan sekali itu. Lalu bagaimana nasib aku dan adik ku, jika harus menunggu tiga bulan untuk mendapatkan uang.

Aku bertekad untuk pergi ke kota. Mengais pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama adik ku. Aku ingat betul apa yang telah terjadi pada Mak dan Abah satu bulan yang lalu.

“Mak, biar Ahmad saja yang ambil uang jagung itu.”
“Jangan, Biar Mak sama Abah mu saja yang ke pasar. Biar sekalian Mak belikan seragam baru untuk mu dan Aik.”
“Ahmad tidak perlu seragam baru. Biar Mak istirahat saja di rumah. Nanti Ahmad belikan seragam untuk Aik.”
“Sudahlah Ahmad, Mak kan ingin sekalian jalan-jalan dengan Abah, mumpung Mak masih kuat untuk pergi jauh.”
“Tapi Mak harus hati-hati. Di pasar banyak copet dan orang jahat.”

Siang itu Aik angat menanti-nanti kedatangan Mak dan Abah, dia sangat mengingikan seragam baru. Meskipun aku sangat khawatir dengan Mak dan Abah, tapi aku juga sangat menanti kedatangan mereka membawa kebahagiaan untuk Aik. Saat aku berharap-harap Mak dan Abah datang, aku dikejutkan oleh teriakan Bontang sahabatku.

“Mad, Abah dan Mak mu ada di puskesmas. Kau kesanalah sekarang. Biar aku tinggal disini menjaga adikmu!”

Tanpa kata-kata, aku langsung berlari menuju puskesmas yang jaraknya cukup jauh dari rumah.Sesampainya disana, begitu banyak orang berkerumun bersungut-sungut, segelintir dari mereka hanya mengatakan KASIAN.

Ya allah, itukah Mak dan Abah. Aku sangat ingat baju yang mereka kenakan saat pergi tadi, baju batik yang satu motif. Astagfirullah, Inalillahi wainaillaihi raziun.

Kusaksikan tubuh orangtua ku tidak bernyawa, berlumuran darah, bahkan tulangnya remuk, ya Allah tak pernah ku bayangkan, kau mengambil mereka dengan cara seperti ini. Kalau saja aku yang pergi. Kalau saja aku bisa membujuk Mak untuk tidak pergi. Mungkin mereka tidak akan menjadi korban tabrak lari. Mereka tidak akan meninggalkan aku dan Aik.
ooooooooo

“Kenapa tidak kau saja yang terluka!!!!”

Teriak ku pada motor tua yang sedang ku kendarai itu.

“Abang!!”

Tak sadar aku telah membuat motor oleng dan membuat Aik takut. Di kota ini, aku akan memulai hidup baru bersama Aik. Aku berjanji pada Mak dan Abah akan menyekolahkan Aik hingga SMA. Meskipun aku tidak yakin, apakah anak ingusan seperti aku bisa menyekolahkan adik ku. Sementara SMA saja, aku belum lulus. Biarlah sekolah ku ini terputus, tapi jangan sampai Aik juga ikut-ikutan putus sekolah.
 
“Abang, jadi kita akan tinggal di rumah ini?”
“Untuk sementara, sebelum kita menemukan rumah kontrakan yang lebih murah dari ini”
“Abang janji kan mau daftarin Aik sekolah besok?”
“Iya. Abang akan berjuang untuk sekolahmu. Meskipun sekolah SD itu masih gratis, tapi kan masih ada biaya ini itu.”
“Sekarang Aik jadi tanggung jawab Abang, Aik janji gak akan mengecewakan Abang.”
“Abang percaya sama Aik, Aik anak pintar, jujur, shaleh, makanya Abang mau memperjuangkan sekolah Aik.”

Ya memang Aik seperti itu. Dia menjadi kebanggaan Mak dan Abah, begitu juga aku. Aik selalu menjadi juara, mulai dari kelas satu hingga kelas lima sekarang. Bahkan dia juga mengharumkan nama sekolahnya dengan menjuarai beberapa perlombaan. Kini tinggal Aik yang kupunya. Aku harus benar-benar menjaganya.

Bontang berkunjung ke kontrakanku. Berkat Bontanglah aku mendaptkan rumah kontrakan ini, dan aku akan ikut Bontang bekerja. Bontang memang Lima tahun lebih tua dariku, tapi dia selalu menganggap ku sebaya dengannya. Di kota, Bontang menjadi sopir metromini, dan dia mengajak ku untuk menjadi kernetnya. Untuk sementara ku terima tawaran Bontang.

Hari pertama aku menjadi kernet metromini. Setelah mendapatkan penjelasan tarif penumpang, akupun bersemangat berdiri di ambang pintu dan berteriak-teriak mengajak penumpang untuk naik metrominiku. Aku bangga pada diriku sendiri, karena aku kini bisa mencari uang sendiri. Meskipun terik mentari menyengat kulitku, dan tiupan angin mengeringkan mata dan kerongkonganku, tapi aku berusaha untuk ramah pada penumpangku. Dan kulihat dari kaca spion, senyum Bontang merekah, menambah semangat untukku.

Seminggu berlalu tanpa masalah. Kunikmati hidup untuk berdiri di muka metromini sambil berteriak-teriak. Meskipun kurasakan hidup begitu keras dan rumit, tapi aku akan tetap berjuang demi Aik. Kenapa sudah malam seperti ini Aik belum pulang. Dia juga tidak meninggalkan memo untukku. Ya Tuhan, kemana Aik. Semenjak aku bekerja, pertemuanku dengan Aik hanya malam dan subuh saja. Apa Aik marah padaku? Tapi Aik bukan anak seperti itu, dia tidak mungkin pergi tanpa izin dari ku.

“Assalamualaikum Abang!”
“Waalaikum salam Aik, dari mana saja kau? Membuat Abang khawatir. Kau baik-baik saja?”
“Maafkan Aik bang.”
“Kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?”
“Tadi dia digodai sama anak-anak berandal yang ada di daerah sini. Saya lihat dia dikejar-kejar. Lalu saya bawa saja ke rumah, sampai tadi kulihat kamu pulang.”
“Ya Tuhan, Aik maafkan Abang.”

Aku benar-benar merasa bersalah pada Aik. Aku merasa tidak berguna, tidak bisa menjaga Aik. Mak dan Abah pasti kecewa padaku. Beruntung ada Ibu Huznul yang menolong Aik. Kulihat Ibu Huznul sangat baik pada Aik, juga padaku. Ibu Huznul seorang janda TNI, dia memiliki satu putra yang telah berkeluarga. Sekarang beliau hidup sendiri, menjadi seorang penjahit yang memiliki beberapa pegawai.

Ibu Huznul menawarkan sesuatu yang membuatku lega. Beliau menawarkan Aik untuk belajar menjahit, dan sepulang sekolah Aik akan berada di rumah Ibu Huznul sampai aku pulang.
Satu minggu setelah kejadian itu, Ibu Huznul memintaku untuk memperbolehkan Aik tinggal di rumahnya. Beliau sangat memahami kisah hidupku. Bagiku dan Aik, beliau adalah pengganti Mak, meskipun posisi Mak tidak akan pernah tergantikan.

Hingga pada suatu hari, Ibu Huznul menawariku untuk bekerja bersama putranya Mas Yusuf. Akhirnya akupun bisa bekerja di Mini Market milik Mas Yusuf. Awalnya aku mencoba menjadi satpam, tapi Mas Yusuf mempercayaiku untuk bekerja dibagian kasir.

Tiga bulan sudah aku dan Aik hidup di kota. Ternyata tidak sesulit yang ku kira. Aku dan Aik selalu mendapatkan kebaikan dan pertolongan dari orang-orang. Hingga sekarang kami bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Ini saatnya panen jagung, aku dan Aik harus pulang ke desa. Tidak enak kalau kami tidak menengok bang Wahid yang kupercayai untuk mengurus ladang dan rumah. Aik sangat bahagia datang ke desa, dia bisa berbagi cerita tentang hidupnya di kota pada teman-teman yang sudah lama tidak ia jumpai, adiku itu tampak riang.

Tapi tetap saja ada yang kurang di rumah ini, tidak ada Abah yang selalu mengajak tetangga main catur di teras rumah. Tidak ada Mak yang selalu duduk di depan kompor untuk membuat makanan atau sekedar cemilan untuk ku dan Aik sebagai penyemangat saat kami sedang belajar.

Bilik di rumah ini banyak yang berlubang. Hingga angin senja pun bebas menelusup, menghampiriku. Jerit kencang jangkrik pun mengalahkan canda Aik yang sedang bergurau dengan teman-temannya itu. Seketika canda para gadis itu lenyap ditelan suara lengking jangkrik. Jangkrik pun berhenti menjerit ketika suara Adzan maghrib berkumandang memecahkan sunyi.

“Abang, kita shalat di mesjid yuk. Sudah lama kita tidak shalat berjamaah di mesjid.”
“Tunggu dulu sampai Adzannya berhenti. Abang masih ingin merasakan betapa bahagianya dulu kita hidup di rumah ini.”
“Di balik bilik ini ada sejuta harapan yang Aik sampaikan pada Allah. Sebagian terwujud dan sebagiannya lagi belum. Aik tau, apapun yang terjadi pada Aik adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk Aik.”
“Kau harus tetap bersyukur. Disini kita menorehkan doa-doa kita, di bilik harapan ini.”
“Bilik harapan termewah yang ditinggalkan orangtua kita.”.

CINTA TAKKAN USAI


Masih belum bisa kulupakan memory 5 tahun yang lalu, pria yang sampai saat ini membuatku selalu memikirkannya. Bukan hanya itu, sampai saat ini aku masih mengharapkannya. Dia bukan pria yang sempurna, tapi dia mampu mengunci rapat hatiku.
****


Lima tahun yang lalu, aku benar-benar yakin dan berani mengklasifikasikan perasaan yang kumiliki ini sebagai gejala jatuh cinta. Untuk yang pertama kalinya aku berani menyatakan perasaan pada seorang pria. Pada saat hari valentine, aku memberikan sebatang coklat dan sepucuk surat tanpa identitas pengirim. Siang malam aku memikirkan reaksi dia saat menerima coklat dariku, apa bahagia atau marah. Kerena aku tau betul, saat itu dia memiliki kekasih.

Tidak ada yang bisa kulakukan setelah itu, hanya menunggu hingga saatnya dia tau siapa wanita pengecut yang telah memberinya coklat dan surat saat valentine. Hingga harapanku hampir musnah ketika aku melihat dia sedang bersama kekasihnya. Aku hanya bisa menangis dan berusaha mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi rasanya sangat sulit, semakin aku berusaha melupakan dia, semakin sakit hatiku.

Hingga suatu malam aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal, dan ternyata itu dia. Aku sangat bahagia saat itu, tidak kuduga pria itu bisa menghubungi aku. Setelah itu kami sering mengirimi pesan, rasanya seperti di surga bisa berhubungan dengan pria yang kucintai. Meskipun aku tau dia masih memiliki kekasih.

Lama setelah itu, dia mengungkapkan perasaan sayangnya padaku, tapi hanya sebatas sayang dari seorang kaka pada adiknya. Aku tidak bisa melupakan kata-kata itu, setelah sekian lama aku mencintainya, dia hanya menganggapku adik saja. Aku tidak bisa terus-terusan memendam perasaanku, hingga suatu saat aku meminta dia untuk melakukan suatu hal yang bisa membuatku membencinya. Dan dia benar-benar melakukannya, dia menghilang begitu saja dan tidak pernah menghubungiku. Sampai saat ini.

Dan sampai saat ini, aku masih mencintainya.

JANJI TERAKHIR


Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.

Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”

“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”

“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

“Kenapa El? Mienya gak enak?”

“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”

“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”

“Yakin di saku gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.

“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”

Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”

Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….

Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”

“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana El?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”

“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”

“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”

“Nilam, ini gak…….”

Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.

“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!

“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”

“Tapi Nilam…..”

Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
 
“Elgaaaa…..”

Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.

“Elga, maafin aku!”

“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Elgaaaaaa……”

Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.

“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
Dear Nilam,
Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
Love You
Elga

Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama Elga!”

“Nilam, kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.

“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****