Minggu, 20 Desember 2015

YANG TERLEWATKAN



              Di dunia ini semuanya berpasangan. Ada siang-malam, kaya-miskin, tua-muda, sehat-sakit, pria-wanita, hidup-mati. Mati? Siapa yang menginginkan hal itu? bahkan kematian dianggap oleh hampir seluruh makhluk yang bernyawa sebagai momok yang menakutkan.
*****
              Ketika aku duduk di bangku SMP, aku berkenalan dengan seorang pria bernama Pras. Usianya lebih tua satu tahun dariku. Kami bersekolah di tempat yang berbeda. Tak dibutuhkan waktu lama, kami menyepakati untuk menjalin suatu hubungan yang disebut pacaran.
              Kami memang berbeda sekolah. Namun kami selalu menghabiskan waktu bersama. Ya, selalu bersama. Mulai dari pergi dan pulang sekolah bersama. Melewati waktu liburan bersama dan bahkan aku tidak segan untuk berkunjung ke rumahnya, bertemu keluarganya begitu pun sebaliknya. Dua tahun kami menjalani hubungan yang nyaris tidak pernah pudar. Meksipun usia kami masih sangat belia, namun cinta kami tak perlu diragukan lagi.
              Hingga suatu saat ketika sedang bersama, tiba-tiba Pras muntah darah di hadapanku. Aku kaget bukan main. Tangisku tumpah setelah mengetahui Pras divonis terserang TBC. Mulai saat itu aku berjanji akan selalu menemaninya. Selalu membuatnya tertawa dan bahagia.
              Namun semuanya perlahan berubah ketika aku menginjak kelas 2 SMA. Aku harus menerima kenyataan bahwa Pras kini benar-benar telah berbeda. Perhatiannya berkurang, jarang menghubungiku dan jarang menemuiku. Bukan hanya aku saja yang merasakan perubahan yang terjadi pad Pras. Sahabat-sahabatku juga menyadarinya.
              “Sari, pacarmu gak pernah kelihatan. Gak pernah antar jemput kamu lagi. Kalian baik-baik saja kan?”
              Sementara aku hanya bisa diam dikala diberondongi pertanyaan semacam itu. ingin rasanya aku menjawab hubunganku baik-baik saja. Tapi aku tak mampu menutupi kegelisahan yang mendera hatiku.
              Kegelisanhanku memuncak ketika aku melihat Pras sedang berduaan dengan seorang wanita. Aku tak bisa menghakimi Pras atau menuduhnya macam-macam. Karena sama sekali aku belum mendengar penjelasan dari Pras. Mungkin saja wanita itu teman Pras. Ya, aku berusaha untuk tidak berpikir negatif terhadap Pras. Namun hatiku tetap hancur. Ketika berusaha menghubungi Pras. Bukan Pras yang mengangkat telefonku. Tetapi perempuan. Selang dua hari setelah kejadian itu, Pras datang menemuiku, memutuskanku dan membenarkan kecurigaanku. Pras mengakui bahwa dia telah berselingkuh.
              Awalnya aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kita harus berpisah. Tapi dengan berjalannya waktu, aku pun terbiasa hidup tanpa Pras. Aku merelakan Pras, asalkan dia bahagia.
*****
              Satu tahun berlalu, aku tetap menjalani hidupku secara normal. Aku tahu saat ini Pras mengambil kuliah di Jakarta. Meskipun kami sempat berpapasan, tapi Pras sama sekali tak menyapaku. Begitu mudahnya ia melupakanku, melupakan semua kenangan tentang kita. Sementara aku, tetap saja menaruh harapan pada pria itu.
              Tiba-tiba Ibu Pras menghubungiku, memberi tahu keadaan Pras. Katanya Pras selalu bercerita tentang aku, tentang rindunya padaku. Pras takut jika aku membencinya karena kesalahannya tempo dulu. Dan kini keadaan Pras sudah semakin parah. Bahkan meludah pun sudah berdarah.
              Pras menghubungiku. Dia menanyakan kabarku. Ia mengabariku akan pergi ke Jakarta minggu sore. Dia ingin sekali bertemu denganku dan memintaku untuk mengantarnya ke Stasiun. Dan aku pun mengamini permintaan Pras.
              Sore itu aku pergi ke rumah Pras. Aku bertemu dengan Ibunya Pras. Masih seperti dulu. Ia masih ramah dan memperlakukan aku dengan hangat.
              “Sari. Ayo masuk, sayang,” ajaknya mempersilahkan. “Sari mau kan bahagiain Pras?” lanjutnya lirih.
              “Tapi Sari bisa apa Bu?” tanyaku balik.
              “Tolong turuti permintaan Pras ya. Ibu mohon, Sari!”
              “Iya Bu, sebisa Sari ya.”
*****
              Saat itu di stasiun tak begitu ramai, kami duduk berdua di kursi tunggu.
              “Sari, kamu pasti membenciku. Tapi apa selama ini kamu pernah merindukanku?”
              “Aku gak membencimu, dan aku juga gak merindukanmu Pras,” jawabku, dan Pras hanya mendunduk.
              “Maafkan aku Sari. Maafkan kesalahanku. Maaf, aku telah menyakiti perasaanmu,” katanya.
              Pras memutar lagu Naff – Masih Kekasihku. Dia terus meminta maaf padaku. Dan Kereta menuju Jakarta tiba bersamaan dengan berakhirnya lagu yang diputar oleh Pras.
              Sebelum Pras pergi, ia memelukku begitu erat.
              “Aku rindu kamu Sari. Rindu banget,” bisiknya di telingaku. Lalu Pras mencium keningku dan berlalu memasuki kereta.
*****
              Satu bulan berlalu, tak ada kabar tentang Pras. Dan kurasa itu sudah lumrah dalam hidupku. Tapi entah perasaan apa yang menguasai hati dan pikiranku. Aku benar-benar merindukannya.
              Hari ini tepat tanggal 25 Desember 2011. Ibu Pras menghubungiku. Ia mengatakan bahwa Pras telah berpulang ke rumah abadinya. Harusnya aku tak kaget mendengar kenyataan ini. Bahkan aku telah mengetahui kemungkinan yang akan terjadi pada Pras. Tentang kondisi Pras. Tentang masa depannya. Semua telah dijelaskan oleh Dokter waktu itu.
              Air mataku tak terbendung lagi. Aku tak bisa membuat Pras bahagia. Bahkan aku tak sempat menyampaikan rinduku padanya. Aku benar-benar terpukul. Meski kita sudah tak bersama lagi, tapi cintaku pada pras masih tersimpan utuh di tempatnya.
*****
              Tak ada yang abadi di belahan bumi manapun. Minggu, 25 Desember 2011. Satu roh meninggalkan jasadnya. Terbang melayang bersama puluhan, ratusan, ribuan atau mungkin jutaan roh lainnya. Menyatu bersama udara, melintasi lapisan langit dan siap untuk disidang oleh sang Pencipta. Hidayat Prasmintoro. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untukmu di Surga.
*****
·          

Rabu, 04 November 2015

KUE SAGU

Kemarin Senin. Sekarang Selasa. Besok Rabu. Lusa Kamis. Itu nama-nama hari yang pengen gue Skip.

Bisa gak sih langsung hari Jumat Sabtu Munggu aja? :-)

Selasa sore. Di jam-jam mepet pulang kantor. Tiba-tiba temen dateng dan langsung berpekik:

"Haduh Efih. Di tempat Admission tuh ada kue sagu. Aku pengen banget."

"Ya udah tinggal minta aja!"

"Tapi gak ada orang! Cuman toplesnya kegeletak gitu aja."

"Ya udah tinggal ambil aja!"

"Ih. Eeefffiiiihhh....!!! Itu kan nyuri namanya!"

Ya gimana lagi coba. Kalo udah mau banget mah ya ambil aja. Daripada dede bayi dalem perutnya ngiler. Eh, tapi kan temen gue gak lagi hamil ya. Jadi gak akan ada dede bayi yang ngiler. Kecuali temen gue sendirinya yang ngiler sampe kebawa-bawa mimpi.

"Ya udah. Aku liat deh. Ntar aku ambilin sama toplesnya," gue nenangin temen gue yang sebenernya gak kenapa-kenapa.

"Tapi jangan nyuri looooh!" sambil mengacungkan  telunjuknya tepat di lubang hidung gue.

"Enggak! Paling ngambil doang tanpa minta. Hehe."

"Eeefffiiiihhhh......," pekiknya lagi.

Gue ningalin ruangan kerja. Berjalan layaknya putri solo yang menahan kandung kemih kepenuhan. Menuju toilet yang untuk sampai ke sana gue harus ngelewatin Admission dulu.

Waaahhhhh. Bener. Kue sagu dalam toples bening itu memang menggoda.

Gak cuman ada kue sagu doang. Ada 3 piring kue sus yang wanginya sedap. Cantik. Dan kudapan itu gue yakin banget milik dokter yang praktek malem hari. Gue gak punya harapan buat minta kue sus itu. Cuman bisa nelen ludah doang. Smbil ucap Wassalam.

Balik lagi ke kue sagu yang gak bertuan dan bernyonya. Gue masih punya harapan dan kesempatan buat mengunyah kue lembut itu. Gue cuman harus sabar aja. Sabar nungguin sampe sang pemilik balik lagi ke kandangnya. Dengan begitu gue bisa minta kue sagu itu tanpa harus merampoknya.

Lama. Akhirnya gue melaksanakan niat awal gue keluar dari ruang kerja. Yakni pipis.

Gak perlu gue ceritain kisah pipis gue. Yang jelas. Setelah gue keluar dari toilet, gue bahagia. Mata gue membulat otomatis, dan berbinar pula. Udah kaya Hamtaro dikasih sebungkus Kwaci dapet ngupas.

Ada makhluk berpakaian putih tengah duduk di kantor Admission. Makhluk itu gak lain gak bukan adalah penghuni dan pemilik kandang Admission. Dan pemilik kue sagu.

Gue buru-buru menghampiri mereka.

"Wah Mba'e jajan apa?" tanya gue basa-basi setelah melihat kantong kresek besar.

"Nih. Ayuk bareng-bareng Fih," ajaknya sambil menuangkan Mie ke dalam mangkuk.

"Waaahhh......Mie Jablay yaaa.... hhmmmm wangiii syekalii Mba!" gue melancarkan proses pendekatan.

Mie Jablay adalah Mie instan biasa kaya Indomie gitu yang ditambahin usus. Bumbu Usus yang nyampur sama bumbu Indomie bikin perpaduan kuah kental yang aduhai.

"Iya ayuk! Masih hot ini chiiinnn!" Mba Ira maksa gue dengan gaya bicaranya yang khas.

"Enggak ah. Kalo masih hot mah. Biasanya suka ditiupin dulu sama Mamah trus diemutin dulu, trus dilepehin, disuapin deh ke aku." *Gaya makan bayi.

"Haha iya da masih orok kamu teh chiiiinnn....sini sekalian aku kunyahin!" godanya.

"Hihi. Enggak ah. Ntar aroma mulut Mba'e nempel di Mienya. Huuuaaaa...... ada kue sagu," mulai beraksi, tangan gue langsung aja ngangkat toples kue sagu itu. "Mau minta. Boleh gak?"

"Iya makan aja!"

Yessss. Gue sih yakin, Mba Ira mah orangnya gak pelit. Dia pasti mau ngasih makanan apa pun yang ada di situ. Kecuali kue sus milik dokter.

Meluncurlah kue sagu itu ke dalam mulut gue. Krenyess krenyess krenyess. Satu. Dua. Tiga.

Tiga kue sagu telah berpindah ke dalam perut gue. Jaga sedikit gengsi lah kalo gue makan lebih dari tiga mah.

Gue menaruh kembali toples ke hadapan Mba Ira.

"Loh, udahan?" tanya Mba Ira di tengah-tengah menyeruput kuah Mie Jablay.

"Udah ah Mba'e, nanti abis sama aku kan piyee....."

"Padahal gak apa-apa Fih. Sok aja."

"Engga ah, makasih. Mba'e hatur tengkyu ya.... daahhh..."

Gue pun melambai lalu pergi. Kembali ke ruangan. Lalu teringat kembali pada permintaan temen seruangan gue. Oh, lebih tepatnya gue teringat sama kemaun temen seruangan gue akan kue sagu.

Oh, God. Kenapa gue bia kelupaan. Kenapa gue makan kue sagu sendirian. Lah, ini yang kepengin kue sagu siapa. Yang ngidam kue sagu siapa.

"Gimana Fih? Dapet kue sagunya?" dengan tampang polos temen gue nyamperin dan nanya.

"Hehe."

"Kok Hehe aja? Gimana? Punya siapa? Dapet gak? Ato malah kamu udah makan duluan ya?"

Rasanya diintrogasi masal itu ternyata gak enak guys! Apalagi pertanyaannya menohok sampe ke pangkal hati. Alamaaakk. Muter otak..... muter otak..... muter otak.....

"Fih! Gak kemasukan hantu toilet kan? Tadi ke toilet Bismillah dulu gak?"

"Bismillah dulu kok! Baca ayat kursi malah! Yassin juga dibaca!"

"Jadi gimana kue sagunya?" mengulang pertanyaan.

"Jadi gini sebenernya. Tadi pas mau pipis itu emang beneran gak ada siapa-siapa di admission, asli deh serius! Nah, pas keluar dari toilet tuh ada Mba Ira, abis beli Mie Jablay. Wuuiiihhh.... wangi tenan aromanya! Ditawarinlah Mie jablay."

"Terus, kue sagunya?" mengulang pertanyaan kembali.

"Sempet liat sih kue sagunya."

"Terus?"

"Apanya yang terus?"

"Terus kue sagunya gimana?" mengulang pertanyaan dengan membolak-balikkan kata.

"Ya aku minta. Tiga. Cuman tiga."

"Mana?"

"Mana apanya?"

"Kue sagunya! Ah, Efiiiihhhh. Katanya minta kue sagunya tiga. Sekarang mana?"

"Oh. Maksudnya, aku minta kue sagunya tiga tuh ya langsung kumakan tadi barusan di admission."
"Yaaahhhh...... Efiiihhhhhhhh....."
*********

Memang terkadang berkata jujur itu menyulitkan. Perlu bicara ngaler ngidul dulu, baru ke poin pentingnya. Apalagi gue harus berusaha buat gak nyakitin atau menyinggung perasaan orang yang mau gue jujurin. Gue harus menjaga kata-kata gue. Pengaturan diksi juga penting. Tapi, sesulit-sulitnya berkata jujur. Tetap lebih sulit nyembuhin penyakit pilon alias pikun gue ini.
*********

Tengkyu somac, udah baca cerita gak jelas gue ini. Salam hangat dari secangkir teh yang dibuat dengan penuh cinta.

Minggu, 26 Juli 2015

LAS'KAR BITT 1

Mendung menggelayut di langit jam 2 sore. Hembusan angin yang semula semilir berubah menjadi hunusan tajam yang menghujam kulit.
Menggigil. Gusti menghentikan kegiatan mengayuh sepedanya. Debu dari lalu lalang kendaraan membuat Gusti mengerjap-ngerjapkan mata.
Perjalanan ke rumah masih sekitar 15 menit lagi jika ditempuh oleh sepeda kumbang. Sepeda yang kecepatannya tak dapat melebihi kereta listrik ekonomi sekali pun.
Air deras berjatuhan tiba-tiba dari atap bumi. Hujan. Gusti segera memarkirkan sepedanya di depan sebuah toko roti. Ia semakin menggigil. Mengingat peliharaan di perutnya belum diberi makan sejak pagi.
"Gusti?" seseorang dari belakang mengagetkan Gusti. Suara lembut dari seorang wanita yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Yaaaahhh ujaaannn......," tangan lentiknya memainkan air hujan yang terjatuh dari genting.
"Hujannya besar banget," Gusti mencoba bicara di tengah kegugupan dan kemenggigilannya.
"Kamu pasti lagi berteduh ya Gus?"
Akhirnya Gusti dapat melihat sorot mata Bidadari itu dari dekat.
"Iya. Kamu juga lagi berteduh ya?" pertanyaan menjiplak akhirnya Gusti layangkan pada Kareen.
"Aku sih habis beli roti. Nih!" Kareen mengangkat kantong kresek yang dipenuhi oleh roti. "Gusti!!!" tiba-tiba Kareen membentak.
Gusti terperanjat.
"Aku benci sama kamu!!!" Kareen menonjok pelan lengan Gusti dan pernyataan Kareen tersebut telah berhasil menohok jantung Gusti hingga ke pangkalnya.
"Kok bisa?" Gusti mulai panik dan semakin gemetar, juga semakin lapar.
"Ya abisnya nilai ulangan Fisika kamu paling gede! Huh! Padahal aku udah belajar mati-matian buat dapet nilai paling gede!"
"Oh......," Gusti merasa lega dan bernyawa kembali. "Tunggu. Harusnya kamu kalau mau dapet nilai besar ya belajar Fisika. Bukan belajar mati-matian. Belajar mati-matian itu kalau mau ulangan perang. Teori mati-matian bakal berguna buat mengelabui musuh."
"Ih Gusti apaan sih! Aku serius malah di bercandain! Kamu makan apa sih bisa pinter kaya gitu?" kini tatapan Kareen semakin tajam.
Gusti memalingkan wajah. Mengingat selama ini tak pernah makan yang aneh-aneh. Atau makan produk yang di kemasannya bertuliskan 'BIKIN PINTAR' .
"Tahu," Gusti tanpa sadar bergumam. Melihat reaksi Kareen yang membuat lipatan ombak di keningnya. Gusti gelagapan. "Saya selalu sarapan sama Tahu dari Mas Joko!" lanjutnya.
"Tahu? Tahu Mas Joko? Kok bisa bikin pinter?"
"Mmmmm. Anu.... Saya sih biar di sekolah konsentrasi tiap paginya harus sarapan sama tahu. Mungkin sugesti aja. Tapi emang tahu Mas Joko bisa bikin otak saya encer sih," ungkap Gusti sedikit ngaco.
"Ah serius! Kalo gitu besok beliin buat aku ya! Nanti aku ganti uangnya. Atau uangnya mau sekarang aja Gus?" Kareen antusias mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari saku seragamnya.
"Hah? Enggak usah Kar! Masalahnya Mas Joko lagi pulang dulu ke Tegal. Istrinya melahirkan. Lagian teman saya makan tahunya Mas Joko malah ingusnya yang encer. Itu mah sugesti saya aja mungkin Kar. Habis makan tahu jadi berasa pinter."
Pertemuan di toko roti berakhir dengan datangnya mobil mewah yang menjemput Kareen. Seseorang yang memegang kemudi turun dengan membuka payung terlebih dahulu. "Nenek sihir" begitu menurut pengakuan Kareen ketika wanita berpayung itu mendekat.
"Aku duluan ya Gus!" pamit Kareen yang melangkah mantap.
Gusti mengangguk pelan karena tidak mengharapkan perpisahan ini. Matanya terus saja menatapi punggung Kareen. Namun, wanita judes yang satu kelas dengannya itu berbalik badan.
Gusti tersenyum. Tiba-tiba dirinya tersedot oleh mesin pemindah tempat yang dapat memposisikan seseorang di mana pun, layaknya Jinny. Jin cantik pada Film Jinny oh Jinny.
Dengan kesadaran yang optimal dan nyaris tanpa paksaan. Gusti membayangkan dirinya sedang menjadi seseorang di sebuah FTV drama seri Indonesia. Kareen berbalik badan dan akan berlari ke arah Gusti. Kareen akan merangkul Gusti dan mengatakan bahwa dirinya teramat mencintai Gusti dan tidak akan meninggalkan Gusti. Kareen lebih memilih bersama Gusti ketimbang pergi bersama Ibunya.
Lalu angin kencang pun datang menyambar lamunan Gusti. Menerbangkan semua halusinasi tentang drama FTVnya itu.
"Ini buat kamu Gus!" Kareen tiba-tiba sudah berada di depan lubang hidungnya, menyodorkan satu bungkus roti. "Hujan kaya gini bakal lama. Kamu bakal makin kurus kalo gak cepet ngasi makan cacingmu itu!" Kareen segera berlari ke bawah naungan payung yang dipegang Ibunya.
"Makasi Kar! Makasi banyak!" teriakan Gusti terbawa angin.
****
Sesampainya di rumah. Gusti masih membayangkan senyum simpul Kareen. Ditambah dengan alunan lagu Dewa 19 yang memenuhi ruang di kamarnya yang sempit itu. Gusti merasa dirinya tengah terbang dan hinggap di satu awan ke awan lainnya. Dia membelai lembut gumpalan awan itu. Yang jika dimakan, rasanya seperti ice cream vanila yang sering dibelikan oleh Tante Monic.
Tanpa sadar. Gusti menjatuhkan diri ke atas kasur tipis di atas lantai.
Buuuukkkkk........Krreeekkkkk......
"Aaaawwwww......Tulang gue sakit! Tulang gue patah!" jeritan Gusti berhasil membangunkan tidur cantik Bule.
Ya. Sebut saja Bule. Remaja blasteran yang 3 Tahun lebih tua dari Gusti. Dibuang paksa oleh Ibu kandungnya sejak umur 2 Tahun. Dipungut dan dibesarkan oleh Ibu Rahmi selaku Ibu kandung Gusti.
"Apa? Tiang mana yang patah? Tuh kan, apa kata gue? Musti cepet-cepet dibenerin! Kalo enggak, ini gubuk bakal rubuh!" kumandang Bule di sela-sela mengigaunya.
"Heh. Monyet! Tulang gue yang patah!" Gusti masih meringis.
"Monyet siapa yang patah tulangnya?" Bule berusaha bangun dan mengucek-ngucek matanya. "Wah! Monyet Kang Aip jangan-jangan Gus?"
"Monyeeet di depaaan luuuu yang tulangnyaaaa patah!!!!!!"
Gusti melempar bantal kumal yang mendarat tepat di wajah Bule yang tetap tampan meski dipenuhi iler. Menurut Gusti ini salah satu cara yang paling efektik, cepat dan aman untuk membantu Bule mengumpulkan nyawanya.
****
Cuaca di jam istirahat siang ini begitu gelap dan dingin. Siang? Gelap? Ah,  Gusti lebih suka menyebut keadaan seperti ini adalah waktu subuh.
Gusti masih meringkuk di atas kursi di pojokan kelas ketika Kareen dan temannya datang. Gusti tak terganggu sama sekali oleh cekikikan gadis-gadis labil itu. Dia masih bermimpi tengah didekap oleh Ibunya.
"Jadi seriusan kemaren kamu ujan-ujan berduaan sama Gusti di depan toko roti?" Alfira memulai percakapan.
Kareen duduk di kursinya, merogoh Novel dari dalam tas dan mulai membukanya. "Iya, kalo gak percaya tanya aja sama orangnya."
"Eh, tapi kok aku gak liat Gusti ya di luar sana? Di kantin juga enggak liat?" Fira mulai celingukan.
"Ini kan hari kemis Neng!"
"Iya hari kemis. Terus kenapa?" Fira bingung sendiri.
"Iya kan tu anak rajin banget puasa senen kemisnya, Fir!! Paling juga ngadem di Masjid!"
"Astaga. Aku lupa, Kareen,"  Fira menepuk keningnya pelan.
"Istigfar Fir! Bukan astaga! Kaya bukan muslim aja ah!"
"Iya ya. Astagfirullahaladzim. Tapi seriusan itu romantis banget sekali Kareen! Kalian pasti mandangin ujan yang turun, terus kalian ngobrol-ngobrol cantik gitu. Ya ampuuuunnn Kareen! Kalo aku jadi kamu ya. Aku bakalan banyak nanya semua apa pun tentang dia. Itu kesempatan langka loh Kareen! Kamu tau Gusti kan anaknya sedingin kulkas gitu. Selama aku sama Gusti sekelas aja, belum pernah tuh Gusti nyapa aku! Dia tuh judes! Kaya kamu Kareen!" oceh Fira yang gak sadar kalo Kareen ternyata udah khusuk baca Novel.
"Ah, Kareen mah gitu! Kalo aku ngomong tuh gak pernah didenger! Nyebelin tauk!" Fira mulai manyun.
"Iya. Aku denger kok Fir apa yang kamu omongin! Tapi, masa iya aku musti seheboh itu ketemu Gusti?"
"Tapi kan seenggaknya kamu tanya-tanya tentang dia dong, Kareen! Rumahnya di mana?"
"Gak kefikiran tanya rumahnya sih Fir! Aku cuma tanya, dia makan apa kok bisa sepinter itu! Gitu!"
"Terus, dia jawab apa?"
"Dia selalu sarapan sama Tahu Mas Joko. Gitu katanya. Tapi, ah, kayaknya dia bohong deh Fir! Masa cuman sarapan sama tahu aja bisa bikin pinter!"
"Siapa Mas Joko?"
"Yang jual tahu deket rumahnya kali Fir," Kareen mengangkat kedua bahunya. "Tapi, Fir. Pas aku deketan sama Gusti tuh kok seragamnya kayak bau sabun colek gitu ya? Kecium banget pokoknya! Emang ada ya parfum wangi sabun colek?"
"Kok tau sih itu bau sabun colek? Kamu di rumah masih pake sabun colek ya nyucinya?" Fira mendelik nakal.
"Simbok kadang suka beli sabun colek. Suka ada tuh di tempat cucian. Tapi gak tau deh dia cuciin bajuku pake apa. Yang jelas bajuku gak bau sabun colek pas dipake!"
"Ya gak apa-apa lah Kareen! Orang Naysila Mirdad sama Lidya Kandow aja nyuci bajunya pake sabun colek kok!" seloroh Fira penuh percaya diri.
"Tau dari mana kamu Fir?"
"Itu di TV!"
"Emang dia ikut reality show gitu?"
"Kan ada iklannya, Kareen! Sabun colek Ekonomi gituan kalo gak salah. Itu ya bajunya Lidya Kandow zaman muda, masih bisa dipake sama Naysila pas udah dewasa. Itu karena dicucinya pake sabun colek ekonomi!" Fira menjelaskan penuh antusias.
"Idiiihhh..... korban iklan kamu mah Fir!" cibir Kareen langsung melanjutkan kegiatan membacanya.
Sementara itu. Di alam mimpi. Gusti berlari terseok-seok mengejar Bule yang berada di dalam kendaraan mewah. Bule sudah bertemu dengan Ibu kandungnya. Dan ternyata Bule merupakan anak dari keluarga yang kaya raya.
Mobil mewah itu terus melaju. Si pengemudi seolah tidak peduli terhadap Gusti yang terus saja berlari. Di dalamnya, Bule duduk bersama Ibu kandung dan juga seorang gadis yang wajahnya disamarkan. Gusti terus berlari sekuat tenaga hingga terjatuh.
Buuuukkkkk........
"Aaaawwwww......" Gusti meringis.
Kareen lekas menutup Novelnya. Ia terperanjat dan langsung menoleh ke sumber suara. Begitu pun Fira. Fira secara spontan langsung berdiri dan berlari ke pojokan kelas.
Fira menatap Gusti penuh iba. Sekaligus menahan ledak tawa yang hendak ia muntahkan.
"Gusti. Kamu kenapa? Lagi ngapain di situ?"
Fira mendekati Gusti yang masih dalam kondisi dada telungkup di lantai, namun kaki masih tersangkut pada kursi.
Kareen ikut berlari ke pojokan kelas dan dirinya terperanjat ketika melihat keadaan Gusti.
Dengan spontan Kareen menarik sepatu Gusti. "Gus! Gusti! Kamu baik-baik aja kan? Gus!"
Gusti masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia berusaha untuk bangun. Dadanya terasa sakit akibat menghantam lantai. Masih duduk di lantai, Gusti memutar badannya hingga bertatapan dengan Kareen dan Fira. Gusti mengusap-usap dadanya.
"Kamu baik-baik aja, Gusti?" tanya Fira berlutut.
"Enggak," Gusti menjawab sangat pelan, namun masih terdengar.
"Kok bisa Gus?" giliran Kareen bertanya heran.
Gusti menggeleng dan masih mengusapi dadanya yang sakit.
"Sakit ya?" Fira semakin mendekat dan berusaha mengecek anggota tubuh Gusti. "Jadi, dari tadi kamu ada di kelas, Gusti? Kamu gak diem-diem dengerin obrolan kita kan, Gusti?" Fira mulai curiga.
"Saya ketiduran!" sedikit malu Gusti menjawab.
Gusti mencoba berdiri dan segera berjalan menuju pintu. Jam istirahat masih 10 menit lagi. Dan kelas itu masih dihuni oleh Gusti, Kareen dan Fira.
"Saya mau cuci muka," ucap Gusti.
Fira yang masih berlutut, dibuat tercengang oleh kelakuan Gusti yang tiba-tiba pergi tanpa menjelaskan apa-apa.
"Kareen, jangan-jangan Gusti denger semuanya?"
"Ya biarin aja. Emang kenapa?"
"Kita kan dari tadi ngomongin dia mulu! Mana kamu bilang baju Gusti bau sabun colek, lagi! Kalo dia marah gimana, Kareen?"
"Ya kan emang kenyataannya gitu Fir!" Kareen melangkah kembali ke kursinya.
Sementara di toilet, Gusti masih kefikiran tentang mimpinya. Tentang perpisahannya bersama Bule. Tentang gadis di samping Bule yang wajahnya disamarkan.
****
Di kamar. Gusti diam-diam mencuri pandang ke arah Bule. Bule tengah mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Gusti.
Seperti biasa. Usai pekerjaan selesai, Gusti selalu mengajari Bule. Gusti menyampaikan kembali apa yang dia pelajari tadi siang di Sekolah. Gusti mengajari Bule layaknya seorang guru profesional.
Gusti dan Bule dititipkan oleh Bu Fatimah pada Tante Monic. Bu Fatimah mencari nasib di kampung halamannya sendiri. Palembang. Sebuah Negara penghasil Pempek terbanyak.
Sementara. Tante Monic, seorang janda yang tidak memiliki anak yang merupakan mantan majikan dari Bu Fatimah. Tante Monic berjanji pada Bu Fatimah akan membiayai sekolah Gusti hingga SMA.
Tante Monic sendiri memiliki sebuah bengkel Las Karbit. Salah satu pegawai kesayangannya ialah Bule. Anak angkat Bu Fatimah yang dinilainya ulet, cekatan dan jujur. Sedangkan Gusti, hanya membantu semampunya setelah pulang sekolah.
Setelah lulus SMP, mereka berdua tinggal di sebuah ruangan sempit di dalam bengkel las karbit milik Tante Monic. Sebuah ruangan yang mereka sebut Cielo en la tierra yang merupakan bahasa Spanyol dari Surga di dunia.
"Kenapa? Lu baru sadar kalo gue ganteng?" goda Bule yang baru menyadari bahwa Gusti tengah memperhatikannya.
"Idih! Amit-amit deh!" Gusti memalingkan wajahnya.
Kembali hening. Bule kembali berkutat dengan soal-soalnya. Gusti kembali menatap Bule.
"Bang!" panggil Gusti pelan.
"Hah?"
"Kalo lu ketemu nyokap kandung lu! Lu bakal ninggalin gue gak?"
Bule menaruh pensilnya. Membenarkan letak duduknya dan memandang Gusti.
"Kenapa lu nanya gitu? Tumben-tumbenan!"
"Ya jawab aja! Apa susahnya? Kalo ternyata nyokap kandung lu tajir melintir gimana? Lu masih mau bertahan bareng gue? Hidup susah?"
"Eh, denger ya! Gue dari kecil udah hidup sama Ibu! Sama lu juga! Gue udah biasa hidup susah! Kalo pun ternyata nyokap kandung gue kaya raya, gue gak akan nikmatin semuanya sendirian Gus! Gue bakal ajak lu sama Ibu!"
"Kalo nyokap lu gak nerima gue sama Ibu?"
"Gue bakal tetep bareng kalian! Gue gak mungkin ninggalin kalian! Kalian keluarga gue satu-satunya! Paham?? Udah gak usah tanya kaya gituan lagi! Gue gak konsen nih!"
Gusti merenungkan apa yang diucapkan Bule. Dalam hatinya ia berdoa. Semoga saja Bule menepati ucapannya dan tidak kesilauan jika memang benar Ibu kandungnya kaya raya.
****
"Pagi Tante Cantik!?" sapa Bule dengan sumringah. "Tumben Minggu pagi dateng Tan?"
"Iya Le! Gusti mana ya?" Tante Monic celingukan.
"Ada kok! Gus!! Gus!! Ada Tante Monic nih!" teriak Bule yang berhasil bikin telinga Tante Monic berdengung.
Tak lama Gusti keluar dengan piring dan spon yang penuh busa di tangannya.
"Kamu lagi cuci piring Gus?" Tante Monic merasa sedikit bersalah karena sudah mengganggu Gusti.
"Iya Tente. Maaf ya. Kenapa? Ada apa? Ada masalah? Apa ada yang mesti saya lakukan?"
"Kamu kok nanyanya banyak banget Gus!?"
"Hehe," Gusti nyengir kuda.
"Calon pengacara Tante si Gusti mah!" celetuk Bule.
Gusti kembali masuk ke dapur dan lekas mencuci tangan.
"Pengangguran banyak acara mah iya kali!" canda Gusti saat keluar.
"Ih. Jangan Gusti! Kamu kan pinter! Sayang kalo nganggur mah! Nanti kamu coba nyari program beasiswa! Minta bantuan aja sama guru. Minta info-info gitu! Ya! Sama ini sekalian uang buat ujian! Maaf ya, Tante telat ngasinya!"
Gusti menerima amplop cokelat yang disodorkan Tante Monic. Hatinya bergetar. Karena inilah yang Ia tunggu-tunggu dari setiap perjumpaannya dengan Tante Monic.
Gusti selalu berharap Tante Monic bisa menepati janjinya. Bahwa Tante Monic akan membiayai Gusti hingga lulus SMA. Dan sebentar lagi ujian kelulusan. Gusti membutuhkan uang dengan jumlah yang lumayan banyak hingga mendapatkan Ijazah.
"Tante. Apa ini gak kebanyakan?" Gusti menimang-nimang uang di dalam amplop yang gak terlihat itu.
"Kamu bakal butuh banyak Gus! Belum buat perpisahan kan biasanya ada piknik! Pokoknya kamu pake sebaik-baiknya ya Gus! Awas aja kalo sampe dipake yang gak bener!" ungkap Tante Monic sambil mengusap-usap bahu Gusti.
"Insya allah Tante. Si Gusti orangnya amanah kok. Dan Ibu gak pernah ngajarin yang gak baik sama kita. Iya kan Gus?" Bule angkat bicara.
****
Bersambung yaaa........

Senin, 02 Februari 2015

PENYESALAN NONA WORTEL

Alkisah di sebuah Desa Permai. Hidup seorang Petani Wotel yang baik hati.
Musim kemarau Tahun ini begitu panjang dan berat. Desa Permai dilanda kekeringan yang sangat menyiksa. Semua sumur di Desa ini kering, begitu pun dengan satu-satunya sungai yang terdapat di Desa ini.
Pada suatu hari, seekor Kelinci betina mendatangi rumah Petani Wortel, Tn. Edd. Kelinci itu tengah kelaparan. Di rumah, 3 ekor anaknya menanti sang induk membawa pulang banyak makanan.
Kemarau panjang mengakibatkan tanah menjadi kering dan retak. Semua petani sayur dan buah mengalami gagal panen. Kecuali kebun wortel Tn. Edd yang tetap subur.
Tidak hanya itu, hewan ternak pun banyak yang mati kelaparan. Tidak ada yang bisa dimakan oleh penduduk Desa Permai. Sehingga banyak orang yang pergi meninggalkan Desa Permai.
Beberapa penduduk yang masih tinggal, meminta wortel pada Tn. Edd. Dan Tn. Edd merasa senang jika bisa membantu orang yang kesusahan.
Di kebun, tersisa satu wortel yang sengaja dibiarkan tumbuh oleh Tn. edd. Tn. Edd melarang siapa pun mengambil wortel itu.
"Kalian boleh mengambil wortel mana pun. Tapi jangan mengambil wortel yang di ujung sana. Dia wortel kesayanganku. Aku akan membiarkan dia tumbuh besar," ujar Tn. Edd setiap kali ada tetangga yang meminta wortelnya.
Sementara itu, induk kelinci melompat menghampiri Nn. Wortel.
"Hai Nn. Wortel, bolehkan aku meminta bantuanmu?" tanya induk kelinci.
"Bantuan apa Ny. Kelinci?"
"Anak-anakku sedang kelaparan. Kami butuh makan. Sementara di desa ini sudah tak ada tanaman yang bisa kami makan."
"Lalu apa yang bisa kulakukan untuk kalian?"
"Bolehkah aku mengambilmu Nona? Anak-anakku akan selamat jika aku membawamu pulang," pinta induk kelinci.
"Aku akan sangat bahagia jika bisa membantu kalian. Tapi kau perlu tahu Ny. Kelinci, di kebun ini dan bahkan di desa ini. Hanya tinggal aku satu-satunya Wortel yang tersisa. Pemilik kebun ini, Tn. Edd sengaja membiarkanku tumbuh besar. Aku ingin sekali membuatnya kenyang. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk dia, seperti apa yang selalu dia lakukan untuk tetangga-tetangganya," tutur Nn. Wortel.
"Aku terharu atas kesetiaanmu pada Tn. Edd. Semoga kau bisa memberikan yang terbaik untuk tuanmu itu Nona. Aku mungkin akan mencari makanan di desa lain. Berat rasanya meninggalkan anak-anakku dalam bahaya."
Induk Kelinci sangat menghargai kesetiaan Nn. Wortel. Dia pun melompat meninggalkan Nn. Wortel
dengan sedihnya.
"Tunggu Nyonya!" teriak Nn. Wortel.
Induk Kelinci berhenti melompat.
"Mengapa anda tidak meminta bantuan pada Tn. Cacing?" Nn. Wortel menunjuk Tn. Cacing yang sedang tertidur pulas di kejauhan.
"Tidak Nona. Tn. Cacing akan sangat berjasa menyuburkanmu! Tumbuhlah yang besar bersama Tn. Cacing!"
Ny. Kelinci kembali melompat. Tak lama kemudian, terdengar jeritan Ny. Kelinci.
Rupanya Tn. Edd menangkap Ny. Kelinci untuk menjadikannya santapan. Ny. Kelinci sudah tak bernyawa setelah pisau tajam Tn. Edd menyembelih lehernya.
Nn. Wortel merasa bersalah atas nasib yang menimpa Ny. Kelinci.
"Kalian pasti sangat kelaparan sekarang. Kalian pasti mengira Ibu kalian akan pulang membawa makanan. Oh Tuhan, mengapa Tn. Edd begitu tega? Andai saja aku dapat berjalan dan menemui kalian," gumam Nn. Wortel saat mengingat anak-anak Ny. Kelinci.
Hari-hari berlalu. Tubuh Nn. Wortel semakin lemah dan dipenuhi keriput. Tn. Edd tak juga menghampiri Nn. Wortel.
Tubuh besar Ny. Kelinci pasti cukup untuk makan Tn. Edd selama beberapa hari. Sehingga Tn. Edd tak perlu keluar rumah dan perlahan mulai melupakan Nn. Wortel.
Teriknya matahari semakin membuat tubuhnya tak berdaya. Seharusnya kini Nn. Wortel sudah mengenyangkan perut tuannya. Karena itulah satu-satunya alasan dia tumbuh.
Hari-hari dia lalui dengan perasaan bersalah dan penuh penyesalan. Nn. Wortel juga merasa dirinya tak berguna dan berharga. Bahkan Tn. Edd pun tidak menginginkan dirinya.
Tn. Cacing yang tadinya selalu menyuburkan tanah di kebun Tn. Edd kini hanya bisa tertegun melihat tubuh Nn. Wortel yang telah membusuk.
Perlahan-lahan, Tn. Cacing pun menggerogoti tubuh Nn. Wortel.
"Katamu, kau akan bahagia dan merasa berharga bila bisa mengenyangkan perut seseorang. Aku memang hanya seekor cacing. Tapi sebagai sahabatmu, aku akan membuatmu bahagia dan berharga. Meski berat rasanya menyantapmu. Selamat jalan Nn. Wortel."
Tn. Cacing meneteskan air mata saat menyantap tubuh Nn. Wortel.
****

Minggu, 13 Juli 2014

ELLIN DANIEL (Part 2)

Dia menatapku dengan emosi, dia tampak marah sekali. Dia seperti hantu dan membuatku takut saat dia berjalan semakin mendekatiku.
Tidak, dia melukai dirinya sendiri. Dia menggigit jarinya sendiri hingga...... mengeluarkan cairan berwarna kuning pekat, mengapa dia tidak berdarah?
Aaaarrrrgggghhh..... dengan seketika, dia juga menggigit jariku hingga berdarah. Aku benar-benar kesakitan, tapi aku mencoba menahannya saat dia terlihat ketakutan. Dia memaksaku untuk melihat cairan yang keluar dari jarinya. Dia seperti ingin menjelaskan padaku bahwa darahku dengan darahnya berbeda. Dia terlihat sangat ketakutan dan panik. Sama halnya dengan aku, dia telah membuat nyaliku ciut. Beruntung ini segera berakhir ketika Ny. Grace tiba-tiba berada di muka pintu.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak mamasuki ruangan ini. Tapi kau tidak menurutiku."
"A.....aku....aku hanya ingin tahu ada apa di ruangan ini. Dan ternyata kau menyembunyikan perempuan itu disini. Siapa dia? Kenapa dia seperti itu?"
"Berhentilah kau bicara! Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, dan kau obati lukamu itu sebelum terjadi infeksi!"
Ny. Grace merangkul perempuan itu seraya menenangkannya, tapi perempuan itu tetap terlihat ketakutan sambil menatapku.
Sejenak kulupakan rasa sakit di jariku, betapa herannya aku memikirkan perempuan itu. Tetap aku tidak bisa mengira-ngira siapa dia. Sisa malam ini ku habiskan dengan memikirkan hal itu, sama sekali tidak kurasakan kantuk.***
Kenapa pagi ini Ny. Grace tidak menyiapkan sarapan untukku. Apa dia masih marah padaku. Aku harus melihat perempuan itu lagi, aku ingin tahu keadaannya sekarang.
Ny. Grace terlihat ada di ruangan belakang, dan aku mendengarkan percakapannya dengan perempuan itu.
"Kau akan baik-baik saja saat ku tinggalkan. Aku yakin, adikmu itu tidak akan kembali menemuimu lagi. Dia pasti takut setelah kau menggigitnya semalam."
"Terimakasih Nek."
Apa maksud Ny. Grace dengan adik perempuan itu. Aku yakin semalam tidak ada orang yang dia gigit lagi selain aku. Kalaupun dia putri Bibi Tery, pasti dia memanggilku dengan sebutan kakak atau apapun itu.Dan kenapa pula dia memanggil Ny. Grace dengan sebutan Nenek? Apa sebegitu dekatnya dia dengan Ny. Grace sampai harus memanggil pembantu dengan sebutan Nenek. Oh Tuhan, apa yang terjadi di rumah ini......
"Sedang apa kau disini?" tiba-tiba Ny. Grace ada dihadapanku.
"Aku hanya ingin melihat keadaan dia, bagaimana dengan jarinya?"
"Dia sudah terbiasa dengan itu! Bagaimana dengan jarimu sendiri, sudah kau obati?"
"Sudah, tapi masih sakit. Apa dia cucumu?"
"Sudahlah. Lupakan itu dan jangan pernah ganggu dia."
"Tapi aku masih ingin bertanya padamu!"
"Apa kau tidak lapar? Aku harus segera menyiapkan sarapanmu!"
Ah, sial. Kenapa Ny. Grace tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Kenapa dia tidak pernah mau bercerita padaku.
Hari ini kuputuskan untuk menemui Tn. Jack meskipun ini bukan hari libur, aku berharap dia ada di rumahnya.
Dan setelah aku sampai di rumah Tn. Jack. Ternyata Tn. Jack tidak ada. Tapi aku sangat ingin bercerita padanya, aku benar-benar tidak punya teman disini. Malam kian larut, kulihat jam besar di Taman menunjukkan pukul 9 tepat. Tuhan tolonglah aku, kirimkan Tn. Jack untukku!
"Ellin, sedang apa kau?"
"Tn. Jack aku senang kau datang."
"Kau menungguku?"
"Dari tadi siang. Aku ingin bercerita padamu!"
"Selama itu kau menungguku?"
"Aku ingin bercerita padamu!"
"Baiklah, ayo masuk. Akan kubuatkan kau makan."
"Aku tidak ingin makan. Aku ingin bercerita, tolong dengarkan aku!"
"Tentu, aku akan mendengarkanmu. Ceritalah!"
Dan aku menceritakan kejadian semalam di ruangan belakang rumah Bibi Tery
"Tapi manusia tidak mungkin memiliki darah berwarna kuning."
"Apa dia monster?"
"Apa kau percaya dengan adanya monster?"
"Tidak"
"Kau harus mengambil sample darahnya. Nanti biar kuperiksakan darahnya di laboratorium."
"Baiklah, akan ku usahakan. Aku harus segera pulang."
"Perlu kuantar?"
"Tidak, terimakasih untuk semuanya."
"Aku akan selalu punya waktu untukmu. Kau bisa temui aku di tempat kerjaku."
"Baiklah"
Malam ini aku bertekad untuk mengambil
darah wanita itu. Syukurlah Ny. Grace tidak ada di kamar wanita aneh itu dan aku berharap mereka telah tertidur. Dan aku beruntung sekali ketika mendapati wanita itu tengah tertidur pulas. Dengan cepat aku menusukkan jarum yang diberikan Tn. Jack dan segera mengambil darah wanita itu beberapa cc. Wanita itu terbangun, mungkin dia merasa kesakitan dan aku berusaha untuk menenangkan dia agar tidak teriak histeris.
"Tenanglah aku hanya ingin menolongmu. Aku harus tahu, apa yang terjadi padamu. Mengapa darahmu berwarna kuning," dia hanya beriak kesakitan. "Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau dikurung disini?" sama sekali tak ada jawaban. Dia bergerak berusaha menunjuk sesuatu diatas meja. Aku mengambil buku yang ia tunjuk, sebuah buku harian. Aku yakin ini miliknya. Tapi aku harus segera pergi dari sini.
"Aku akan membacanya, dan akan segera mengembalikan buku ini padamu. Aku akan datang padamu dengan informasi mengenai darahmu ini, doakan aku agar bisa menemuimu lagi."
Aku merasa dekat dengannya. Sangat dekat. Betapa tidak inginnya aku meninggalkan dia. Begitu juga dengan dia, dia tetap memegangi lenganku saat aku beranjak meninggalkannya. Ya Tuhan, siapa sebenarnya wanita ini?
"Kenapa kau belum tidur?"
"Ah.....Bibi?" betapa kagetnya aku ketika Bibi Tery tiba-tiba ada didepan kamarku.
"Aku......aku hanya susah tidur."
"Apa yang kau pegang?"
"Oh, ini buku harianku."
"Baiklah, kau masuklah ke kamarmu!"
"Ya, aku akan langsung masuk ke kamarku."
Beruntunglah aku, Bibi tidak mencurigai aku. Aku harus segera tidur, agar besok pagi bisa menemui Tn. Jack sebelum dia pergi.
****
"Secepat ini kau dapatkan darahnya?"
"Ya, tidak sesulit yang kuduga."
"Baiklah, aku akan segera menelitinya. Kau tidak bohong, darahnya benar-benar kuning."
"Aku tidak pernah bohong Tn. Jack. Bolehkah aku diam di rumahmu siang ini? Aku butuh tempat untuk membaca buku ini."
"Tentu saja. Buku apa itu?"
"Ini buku harian wanita itu. Dia memberikannya padaku."
"Baiklah. Semoga kau dapat informasi dari buku itu. Aku harus pergi sekarang."
Wanita itu menulis:
~Namaku Anna Witch, tapi aku lebih suka bila namaku ANNA DANIEL
~Saat aku mulai bisa menulis, ibu tak ada di sampingku. Hanya ada Nenek Grace yang selalu menemaniku. Ini hari ulang tahunku dan Tuhan telah memberikan hadiah padaku. Aku memang tak seperti anak lainnya yang bisa bebas bermain di luar rumah. Kulitku akan terbakar sinar matahari jika aku keluar rumah. Tapi aku senang sekali, karena Nenek Grace membuatkan kue ulang tahun untukku. Dan hadiah terindah itu adalah kini aku mahir menulis.
~Ibu tidak pernah menganggapku ada. Mungkin dia malu memiliki anak sepertiku. Bukan kemauanku memiliki rupa seperti ini. Hatiku sangat sakit jika ibu mengatakan pada media bahwa dia tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Beruntung Nenek Grace selalu memberikan semangat padaku. Dialah yang mengajarkanku berbicara. Diusiaku yang ke -16, aku baru bisa berbicara pada Nenek Grace. Aku senang, meski pun masih terbata-bata.
~Nenek Grace terluka dan berdarah. Aku baru tahu bahwa darah manusia itu berwarna merah. Tapi mengapa setiap aku terluka, darahku selalu kuning. Aku ingin sekali memiliki darah berwarna merah.......
~Nenek Grace itu nenekku. Aku kira selama ini dia hanya seorang pekerja di rumah ibu. Nenek Grace bilang bahwa dia orang yang telah melahirkan ibu. Tapi karena ibu terlalu membencinya, jadi Nenek Grace tidak pernah mengatakannya pada ibu. Dan aku akan merahasiakan ini. Karena aku tidak mau sesuatu terjadi pada ibu dan Nenek Grace.
~Aku sangat sedih ketika nenek bercerita tentang hidupnya, tentang Ayah dan ibuku. Aku tidak percaya jika Ayahku itu adalah pamanku. Dulu nenek menitipkan Ayah dan Ibu pada temannya. Sedangkan teman nenek itu meninggal. Ayah dan ibu hanya hidup berdua sampai mereka dewasa. Dan mungkin keadaan itu yang membuat mereka saling mencintai hingga lahirlah aku dari pasangan kakak adik itu.
~Ibu menemuiku malam ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa aku kini bisa bicara dan menulis. Aku hanya bisa diam mendengarkan dia menangis. Ibu menangis, ibu sangat marah dan kesal pada Ayah. Ibu mengenang bagaimana dulu ia sakit hati atas keputusan Ayah. Ternyata Ayah lebih memilih wanita lain dan meninggalkan Ibu saat sedang mengandungku. Ayah tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Ibu, karena dia tahu hubungan itu tidak wajar. Mungkin Ayah bisa melupakan Ibu. Tapi Ibu tidak pernah bisa menghilangkan rasa cintanya pada Ayah. Itulah sebabnya
mengapa ibu lebih memilih sendiri. Dan tadi siang Ayah menemui Ibu. Ayah tidak sendiri, ayah datang bersama istrinya.
~Nenek bilang padaku bahwa Ayahku meninggal bersama isterinya karena kecelakaan saat pulang dari New York. Aku sangat sedih. Aku dan Nenek menangisi kepergiannya. Aku tidak punya kesempatan untuk melihat wajah ayahku seperti apa.
~Tetap saja darahku berwarna kuning. Aku sangat sedih karena aku berbeda dari manusia lain. Aku tidak peduli seberapa banyak luka di tubuhku. Aku hanya ingin darahku berwarna MERAH!!!
~Aku tidak tahu bahwa wanita yang kulukai semalam adalah adikku. Dia putri dari ayahku. Maafkan aku Ellin!!
Ya Tuhan inikah yang sebenarnya terjadi pada keluargaku. Wanita itu adalah Anna, kakak ku. Ayah dan Bibi Tery ternyata? Oh, dan Ny. Grace adalah nenekku? Mengapa aku tidak menyadarinya. Ny. Grace begitu menyayangi Anna dan meskipun dia keras padaku, dia tetap peduli padaku. Aku harus segera kembali ke rumah Bibi Tery.***
"Mengapa kau tidak kapok kembali ke tempat ini? Kau tidak mau digigit olehnya lagi kan?" Nenek Grace menghalangiku untuk masuk ke kamar Anna
"Dia tidak akan berani menyakitiku lagi, karena dia menyayangiku!" dan aku pun berhasil menerobos masuk ke kamar Anna. "Kaukah Anna kakakku? Kau saudaraku?" pertanyaan itu disambut dengan air mata haru dari mata Anna. Seakan menandakan kebahagiaan dan keberhasilan mengungkapkan kenyataan.
"Aku menyayangimu," hanya itu yang keluar dari bibir tipis Anna.
*******

Kamis, 13 Maret 2014

KUNTIL LINUX

Nah loh, malem Jumat Ngapain????

Kebetulan sekarang kan malem jumat. Gue nyoba bikin pelebaran dari Hantu Gangnam Style. Sekuat tenaga nyariin karib si Hantu Gangnam Style. Masih seputaran Hantu Unyu lah.....

Dapetlah ide, jreng jreng.....
Kakak sepupu gue yang entah dimana keberadaannya, hehe minta di bahasin tentang Tante K. What?? Tante K???? Sopo iki???
Oke, gue coba tebak. Mungkin K itu buat Kuetiaw? Atau Kajol? Atau Kribo? Atau Kasmaran? Atau Kuntil? What? Kuntil? Bisa jadi, bisa jadi. Tidaaaaak!!! Iyaaaaa!!! Bisa jadiiiii!!! Hehe

Oke, Fix gue bakal kenalin si Kuntil sama si Hantu Gangnam Style.

Gue kasi nama panjangnya Linux aja deh. Filosofi nya??? Well, mari ikut gue memperkenalkan si Kuntil.

Pada suatu masa di zamannya. Si Kuntil ini nih punya geng yang diberi nama The Linux. The Linux sendiri terdiri dari beberapa cewe bandel yang sulit dipastikan apakah dia cewe atau cowok? Mungkin Cewok?
Anggota The Linux bukan cewek biasa, melainkan perkumpulan cewek-cewek tomboy yang doyan ngotak-ngatik komputer. Mereka jago bikin program dan markasnya merupakan kios pinggir jalan yang juga sekalian buka service komputer. Hehe (ngasal banget nih bikin cerita)

Nah, pada suatu malem. Mereka yang rada brutal ini sepakat buat nyari makan. Dan targetnya adalah pohon rambutan milik Eyang Subur. Mereka naik satu persatu dengan perlahan. Memetik dan memakan buah rambutan sesuka hati tanpa minta izin dulu pada Eyang Subur.

Si Kuntil yang saat itu sangat sangat kelaparan. Tanpa sadar memakan rambutan tanpa membuka terlebih dulu kulitnya. Dia langsung memakan rambutan bulat-bulat. Lah emang rambutan wujudnya bulat kan? Ya agak sedikit lonjong deh. Ya, si Kuntil yang kelaparan pun langsung menelan rambutan itu. Lalu apa yang terjadi?

Rambutan yang masih utuh dengan cangkang berbulu juga semut-semut itemnya nyangkut di kerongkongan si Kuntil. Kontanlah si kuntil ga bisa bernafas karena jalan nafasnya tersumbat rambutan.

Matilah si kuntil di tempat saat itu juga. Nah, saat rohnya melayang-layang di udara, setelah beberapa lama kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Si Kuntil kebingungan dan bertanya-tanya.

Kenapa yang mati gue aja? Padahal gue belum makan rambutan satupun. Lah, temen gue ampe makan ratusan biji ko ga keselek?

Akhirnya Si kuntil tetap melanjutkan aksi mencuri rambutannya.
Dan sampe saat ini dia menjadi penghuni pohon rambutan. Ga ada yang bisa memetik buah rambutan setelah kejadian itu. Eng ing eng... begitulah kronologi kejadiannya. Ngasal amat.

By the way, setaunan yang lalu gue sama temen kost gue sering iseng metikin rambutan punya ibu kost. Tanpa minta izin dulu, hiyaaaahhhhh. Berdosa.... tapi ga apalah dosanya dibagi-bagi sama temen kantor. Hihi

Nah, back to Hantu Gangnam Style. Semoga dia bisa menerima kehadiran Si Kuntil Linux. Sukur-sukur kalo mereka jadian, terus kawin deh.......hehe

Minggu, 23 Februari 2014

ELLIN DANIEL (Part 1)

Aku memang masih muda, tapi aku satu-satunya wanita yang berhasil memecahkan lebih dari 10 kasus. Dua tahun bergabung di Agen 24, komunitas para Detective muda yang diselenggarakan Indonesia sebagai ajang pengembangan bakat The Young Detective. Keterlibatanku dalam Agen 24 hanyalah sekedar pelampiasanku terhadap kedua orangtuaku. Tom Daniel dan Selvy Midah adalah orangtuaku yang selalu menyembunyikan keberadaan keluarga mereka. Sembilan belas tahun aku hanya hidup dengan Ayah dan Ibu tanpa tahu keberadaan keluarga besar mereka. Aku selalu berusaha mencari tahu identitas yang sebenarnya tentang orangtuaku. Tapi mereka selalu menyembunyikannya dengan sempurna. Aku hanya ingin tahu siapa mereka sebenarnya, dimana Nenek, Kakek, Paman, Bibi, Sepupu. Agar jika orangtuaku tiada, aku masih memiliki keluarga.
*****
"Kau masih memiliki Bibi, tidak sulit mencari dia di New York sana," Tn. Tedi pengacara Ayah memulai percakapan.
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Dulu dia menyuruhku untuk memberitahukan hal ini."
"Kenapa setelah Ayah dan Ibu meninggal?"
"Entahlah, Bibimu Tery Witch. Seorang model, akan ku berikan alamatnya padamu. Ayahmu ingin mengirimmu ke sana jika dia telah meninggal. Dan sekarang saatnya kau tahu bahwa Tery Witch adalah adik dari Ayahmu."
" Bagaimana dengan keluarga Ibuku?"
"Mereka tidak akan menerimamu. Karena mereka sangat membenci Ayahmu."
"Dengan alasan apa?"
"Kau akan tahu setelah bertemu Tery Witch. Kau Agen 24, kau pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri."
"Kau akan ikut menemaniku? Aku baru mau 19 Tahun 3 bulan lagi."
"Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia. Kau anak pintar dan pemberani. Kau pasti bisa. Akan ku urus keberangkatanmu."
*****
New York
Akhirnya aku akan bertemu Bibiku. Bahasa Inggrisku memang tidak terlalu lancar, tapi akan kuusahakan, karena mungkin saja aku akan tinggal disini selamanya. Rumah Bibi Tery besar, menandakan bahwa Bibi adalah orang yang lebih dari berkecukupan. Sama saja dengan Ayah, yang menjadikanku seorang milioner muda dengan harta yang dia tinggalkan.
Pintu besar dengan ukiran bunga pun terbuka, seorang nenek muncul memandangiku sesaat.
"Ellin Daniel?"
"Ya."
Nenek itu merangkul tubuhku, ia menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan ku masuk. Apa mungkin dia Nenekku?
"Duduklah, tunggu sebentar. Akan ku ambilkan minum untukmu."
"Terimakasih."
Setelah beberapa lama Nenek itu meninggalkanku, muncul perempuan cantik mengenakan mini dress putih. Mungkin dia Bibiku yang seorang model itu.
"Ellin Daniel?"
"Ya aku. Apa kau Tery Witch?"
"Ya. Selamat datang di istanaku Ellin."
Beberapa saat nenek tadi muncul kembali dengan membawa minuman dan beberapa kue. Bibi Tery memperkenalkan nenek tersebut sebagai kepala rumah tangga. Ny. Grace.
"Aku harus pergi dan akan segera kembali, kau tunggu disini. Istirahatlah!"
Bibi Tery pergi bersama seorang pria yang menungguinya di mobil yang terparkir di luar gerbang. Mengapa Bibi Tery dingin sekali padaku, tidak sehangat sambutan Ny. Grace. Tidak ada pelukan dari seorang Bibi yang merindukan keponakannya.
"Aku akan pergi ke dapur, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
"Baiklah. Terima kasih Ny. Grace."
Dari air mukanya, Ny. Grace seperti mencemaskan aku. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dan apakah Bibi Tery tidak menikah? Mengapa rumah besarnya ini sepi sekali.
Malam kian larut, Ny. Grace tidak kelihatan lagi. Aku mulai merasakan takut di rumah ini, mungkin sebaiknya aku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Siapa tahu aku bisa bertanya tentang Bibi Tery pada tetangga.
"Kau mau kemana Ellin?" Bibi Tery tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
"Tidak perlu. Ini sudah malam. Kau tidurlah, masuk ke kamarmu."
Ny. Grace muncul bersamaan dengan kedatangan Bibi Tery. Dia sangat tergesa-gesa, seperti tidak ingin membiarkan aku berduaan dengan Bibiku sendiri.
"Ikuti aku agar kau sampai di kamarmu!" Aku mengikuti langkah Ny. Grace, kami melewati tangga untuk sampai ke lantai 2.
"Apa Bibi Tery mabuk? Kenapa tadi kau meninggalkanku sendirian Ny. Grace?"
"Ini kamarmu. Semoga tidurmu nyenyak Ellin."
"Apa Bibi Tery mabuk? Apa dia selalu seperti itu?"
"Sebaiknya kau tidur sekarang."
"Ny. Grace! Jawab aku!"
"Tidurlah sekarang Ellin!" Ny. Grace pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.
Sebenarnya siapa Bibi Tery? Apa dia benar-benar adik ayahku? Malam ini aku tidak bisa tidur. Otakku berputar memikirkan apa yang terjadi di rumah ini. Ny. Grace seakan menyembunyikan sesuatu. Aku harus tahu kenapa keluarga Ibu membenci Ayah.
******
Pagi ini aku harus berhasil menanyakan tentang Ayah pada Bibi Tery.
"Ny. Grace, apa BibiTery belum bangun?"
"Dia sudah pergi."
"Kapan dia pulang?"
"Entahlah. Kau makan saja. Aku harus pergi."
"Kau akan meninggalkanku sendirian lagi seperti kemarin? Apa di rumah ini tidak ada orang lain selain aku, kau dan Bibi Tery? Apa Bibi Tery tidak menikah?"
"Aku akan meninggalkanmu sendiri agar kau tidak banyak bertanya!"
"Ny. Grace kau marah padaku?"
"Maafkan aku Ellin, aku hanya..... ah sudahlah," Ny. Grace lagi-lagi meninggalkanku sendiri.
Sebenarnya pergi kemana Ny. Grace. Di dapur dan disekeliling rumah ini tak kujumpai Ny. Grace. Ah, lebih baik aku jalan-jalan saja. Akan ku jelajahi tempat tinggalku yang baru ini. Tunggu, tapi aku tak yakin akan betah tinggal bersama Bibi Tery. Bahkan sepertinya dia tidak peduli padaku . Dan sangat diragukan kalau dia benar-benar menyayangiku.
Aku pun berjalan meninggalkan rumah Bibi Tery, tidak jauh aku melihat taman yang cukup besar. Aku memilih untuk duduk di bangku kayu yang menghadap ke jalan raya.
"Hai, apa kau orang asing?" tiba-tiba seorang bapak duduk di sampingku. Dia tampak rapi dengan kemeja warna putih dan kaca matanya. Aku seperti melihat Tn. Tedi pengacara Ayah.
"Aku dari Indonesia. Aku tinggal bersama Bibiku disini. Namaku Ellin Daniel."
"Aku Jack Marrow. Senang berkenalan denganmu. Berapa usiamu?"
"Sembilan belas. Tn. jack apa kau mengenal Tery Witch?"
"Aku tidak kenal, tapi aku tahu dia seorang model terkenal."
"Dia Bibiku."
"Benarkah? Kau tinggal di rumah mewah itu?"
"Ya. Tapi aku tidak suka tinggal disana."
"Kenapa?"
"Sepertinya Bibiku tak menyukaiku."
Akupun menceritakan tentang kehidupanku. Tentang keterlibatanku di Agen 24. Tentang orang tuaku dan pertemuanku dengan Bibi Tery. Entah kenapa aku begitu bersemangat menceritakan kisah hidupku pada Tn. Jack. Orangtuaku saja tidak pernah mau mendengarkan ceritaku. Berbeda dengan Tn. jack yang begitu antusias mendengarkan kisahku. Aku hanya berharap Tn. Jack bukan orang jahat.
"Mungkin Bibimu belum terbiasa dengan keberadaanmu. Kau tunggu saja."
"Tapi aku susah untuk bisa bertemu dengannya. Dia tidak punya waktu untukku."
"Kau tau dia seorang model, pasti sibuk. Kau mau main ke rumahku?"
"Tidak, terimakasih. Aku harus pulang."
"Baiklah. Aku juga harus pulang. Kau lihat rumah yang diseberang sana?"
"Cat putih?"
"Ya, itu rumahku. Kau boleh main ke sana. Tapi hanya hari libur saja aku ada di rumah."
"Kau kerja dimana?"
"Rumah sakit. Ini kartu namaku."
Aku senang sekali bisa mengenal Tn. Jack. Setidaknnya di kota ini masih ada yang bisa aku ajak bicara. Lebih baik aku segera pulang, siapa tahu Bibi Tery sudah ada di rumah.**
"Ny Grace!!! Bibi Tery!!! Apa kalian ada dirumah?"
Kenapa tidak ada yang menjawab. Sebenernya kemana Ny. Grace, dia jarang terlihat di rumah ini. Sebenernya mereka ini kenapa, tidak pernah mempedulikan aku.
Aku pun mengintari rumah Bibi Tery. Tunggu, itu kan Ny. Grace, sedang apa dia disana? Kenapa aku baru tahu ada rumah kecil di belakang rumah Bibi Tery? Apa mungkin itu kamar Ny. Grace?
"Ny. Grace. Apa ini ruanganmu?"
"Haaaahh. Kau. Mau apa kau kemari?" Kenapa Ny. Grace begitu ketakutan seperti itu, dia panik dan gugup.
"Ny. Grace ada apa di dalam sana?"
"Kau tidak perlu tahu! Bibimu akan marah jika kau masuk ke dalam."
"Tapi kau membuatku curiga. Kalian semua aneh! Seperti ada yang kalian sembunyikan dariku!"
"Jangan lancang kau! Aku tidak seperti yang kau kira. Aku hanya berusaha mengabdikan diri pada Bibimu!" Kudengar ada suara benda bergesek dari dalam ruangan.
"Suara apa di dalam?" tanyaku penasaran.
"Bukan suara apa-apa!" Jawab Ny. Grace ketus.
"Di dalam pasti ada orang! Aku harus masuk!" Aku berusaha menerobos tubuh besar Ny. Grace
"Tidak! Percayalah padaku! Jika kau punya hati, ku mohon jangan biarkan Bibimu memecatku hanya karena kau masuk ke dalam!" Ny. Grace sangat memohon padaku. Ada apa sebenarnya di ruangan itu? Tapi aku tidak tega jika Ny. Grace harus diberhentikan karena keegoisanku.
"Baik. Kali ini aku tidak akan memaksa. Tapi aku Agen 24, profesiku adalah seorang detektif. Aku akan mencari tahu yang sebenarnya."
"Semoga kau mengetahui semuanya. Aku akan selalu mendoakanmu."
Aku benar-benat tidak habis fikir. Kenapa Ny. Grace begitu takut pada Bibi Tery. Di samping itu aku bisa merasakan, kalau Ny. Grace mengkhawatirkanku.
Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Berkeliaran sendiri di kota ini. Tujuanku ke New York untuk menemui keluargaku, Bibi Tery. Tapi kenapa dia tidak menganggapku ada. Aku tidak akan pulang jika belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku harus mencari tahu ada apa di ruangan belakang.***
Tidak semudah yang kuduga. Semua pintu terkunci. Dan aku harus membuka beberapa pintu untuk sampai ke ruangan itu. Mudah-mudahan Ny. Grace sudah terlelap. Bukan Agen 24 kalau aku tidak bisa menyelinap seperti penjahat dan membuka pintu-pintu yang terkunci. Aku hampir berhasil membuka pintu ruangan rahasia ini, ya aku berhasil. Oh, Tuhan, ini kamar. Kamar yang besar. Tampak seperti kamar seorang wanita. Apa ini kamar Bibi Tery. Tapi setahuku, kamar Bibi Tery di lantai atas.
Siapa yang tidur disana. Seperti perempuan muda. Lebih muda dari Bibi Tery. Ya ampun, ini bukan Bibi Tery, juga bukan Ny. Grace. Mengapa aku sampai tidak tahu ada perempuan muda yang tinggal di rumah ini. Oh, Tuhan, dia tebangun dan melihatku, apa yang harus kulakukan. Tidak, dia tidak seperti manusia biasa. Dia seperti hantu. Kulitnya putih, seperti kapas, tidak ada sedikitpun warna hitam di bagian tubuhnya. Kecuali retina yang berwarna coklat pudar yang hampir tak terlihat.
*****